Alienasi dan Genoside di Papua

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Alienasi dan Genoside di Papua

9 October 2017

Peradaban bangsa kita  yang besar ini  justru tidak mengalami yang namanya stagnan tetapi dia mengalami perkembangan cukup dinamis dan justru itu  seringkali berafiliasi dengan kapitalis-kapitalis baru yang kemudian menurut Marxis disebut sebagai Alienasi (Foto: Dok. Pribadi)
Penulis  barangkali menganggakat tema yang mungkin  menjadi dasar atau basic yang kuat  untuk tetap  melihat, mengkritisi, dan mentranformasi pemikiran marxisme model baru yang kalau dibilang secara massif, strukturalis dan sistemik menghacurkan ekologi, manusia, norma-norma, adat, dan kebiasaan. Eksploitasi di muka bumi Cendrawasih bukan menjadi hal yang  tentu tidak lazim lagi bagi kita untuk terus diskusikan dalam peradaban bangsa.

Peradaban bangsa kita  yang besar ini  justru tidak mengalami yang namanya stagnan tetapi dia mengalami perkembangan cukup dinamis dan justru itu  seringkali berafiliasi dengan kapitalis-kapitalis baru yang kemudian menurut Marxis disebut sebagai Alienasi.  

Mengapa alienasi karena “ada suatu kejanggalan yang di selewengkan oleh kapitalis-kapitalis ini” Misalkan PT. FI (PT. Freeport Indonesia), MIFE (Merauke integrated food and Energy estate),You Liem Sari, PT. Kebun Sari, Britich Petronium (BP) dll.

Kapitalis-kapitalis ini kemudian  berkompetisi atau bersaing  dengan kapitalis lain yakni  bagaimana meraup keuntungan dengan sebesar-besarnya dengan cara mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA), Sehingga manusia kemudian  menjadi sasaran penindasan baik dari segi Spritualitas dan Jasmani. 

Dimana dari segi spritulitas masyarakat mulai beralih pada kecanduan agama karena  yang akan mengerakan mereka dan meninabobokan mereka adalah agama karena  kalau menurut marx mereka akan terinabobokan dengan ilusi-ilusi yang ada diimaginasi yang justru bertolak belakang dengan dengan realita sosial.

Begitu juga ditindas secara jasmani artinya  berkaitan dengan bentuk fisik manusia yakni tubuh, kulit, tangan, kaki, ras dll. semuanya ini ditindas oleh Antonio Gramsci  menyebutnya  Hegemoni kepemimpinan.  Budaya yang dijalankan  oleh kepemimpinan yang berkuasa yakni dengan cara koersif  dimana dijalankan oleh kekuatan eksekutif dan legislatif   dengan melibatkan  campur tangan aparat kepolisian.

Hal ini yang kemudian memicu pelanggaran HAM di Papua  yang melibatkan aparat kepolisaan dengan masyarakat (civil cociety).  Hal ini disebabkan karena tidak ada keterlibatan masyarakat sebagai agen sosial dalam meratifikasi atau membuat perjanjian. Diskriminasi pekerja baik pendatang maupun pribumi baik dari segi kualitatif, kerakusan dalam eksploitasi yang berlebihan dan juga tindakan represif yang digunakan oleh mereka yang berkuasa.

Dalam buku Gunung versus Pantai oleh Wempi Wetipo, Sh. MH dan Marthen Mendlama, S. pd intinya adalah bagaimana menjadikan masyarakat Papua sebagai orentasi pembagunan bukan justru kita terjebak akan pragmatis pembagunan. Karena kita masih berkutat mengenai persoalan identitas dimana antara orang  yang tinggal di gunung dan orang yang tinggal di pantai. Hal  ini justru menimbulkan egoisme berkembang. 

Saya pikir ego dengan berdasarkan sentimen perimodialisme akan berujung pada keretakan suatu bangsa sehingga memicu konflik karena selalu ditonjolkan. Pada kesempatan inilah muncul yang namanya Proxy war, dimana para kapitalis dengan imperialis masuk dan justru dengan isu identitas akan menghancurkan kita, setelah menghancurkan kita maka konflik yang menimbulkan korban berjatuhan dan mereka dengan mudahnya menguasi, mengeksploitasi alam kita sampai habis akan terjadi sangat masif.

Untuk bisa memberangus alienasi itu  memang bukan menjadi sesuatu yang mudah  bahkan ujung-ujungnya kita akan berhadapan dengan Negara sebagai kekuasaan tertinggi. Tetapi, jangan takut. Bahwa kekuasaan tertinggi di dunia adalah rakyat itu sendiri bukan Negara. 

Maka kita mesti melepaskan semua pemikiran konservatif itu dan marilah kita menjadi garda terdepan sebagai orang yang membela kaum tertindas sekaligus sebagai pengawas, memberikan kritikan sebagai upaya kesadaran masyarakat kedepannya agar lebih baik.

Oleh: Veby Turot
Kontributor marjinnews.com Wilayah Sorong, Papua