Aksimu adalah Promosimu Menuju NTT Satu

Potensi konflik antar-pedukung calon kepala daerah dalam masa kampanye maupun konflik antarlembaga penyelenggara pilkada sering kali terjadi dan perlu diantisipasi  sejak dini (Foto: Dok. Pribadi)
Akhir-akhir ini kita seakan ditemani oleh suguhan situasi politik menjelang Pilkada serentak yaitu pada 27 Juni 2018 mendatang.  Berdasarkan peluncuran Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang lalu bahwa jumlah daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, kota yang mengikuti pilkada serentak ini adalah 171, yang terbagi menjadi 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota.17 provinsi itu adalah Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB,NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, SulSel, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua, dan Maluku Utara. Untuk itu, dari kesekian calon yang akan ikut dalam pertarungan 27 Juni 2018 mendatang dalam  mengahadapi  pilkada langsung di negeri ini, satu persoalan pokok yang tidak bisa ditawar oleh para calon kepala daerah manapun adalah berkaca diri pada keadaan.
 
Potensi konflik antar-pedukung calon kepala daerah dalam masa kampanye maupun konflik antarlembaga penyelenggara pilkada sering kali terjadi dan perlu diantisipasi  sejak dini, karena bukan tidak mungkin bahwa konflik tersebut akan eskalasi terhadap penyebab konflik yang baru. Dengan tidak menyinggung kembali sebuah sejarah pilkada serantak 15 Februari 2017 beberapa waktu yang lalu. Berbagai  macam situasi tercermin disana, mulai dari proses penjaringan calon yang sangat seru sampai pada situasi kempanye menjelang pilkada 15 Februari 2017 .  Padahal kalau kita sadari bahwa pilkada langsung merupakan angin segar bagi perkembangan pemerintah di Indonesia.

Berdasarkan pasal 56 ayat 1 undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, pelaksanaan pemilihan kepala Daerah (Pilkada) harus dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, bebas, rahasia, jujur dan adil. Tujuannya untuk membangun pemerintahan yang efektif dengan cara yang demokratis, sehat dan murah.

Bila dilakukan refleksi politik dengan merenungkan kembali perjalanan transisi demokrasi di negeri ini , maka perjuangan masyarakat mencoba mengukir kehidupan politik yang demokratis, dengan modal pertama  dan utama adalah kearifan bangsa.

Serangkaian gejolak politik yang dimulai sejak runtuhnya kekuasaan  otoritarian tahun 1999 hingga awal tahun 2007 memberikan secercah cahaya  terang bahwa Bangsa Indonesia mempunyai kearifan yang tercermin dalam sikap bijak yang dilakukan  sementara pemimpinnya. Sikap arif dan bijak tersebut nampak menonjol dan eksplisit pada saat bangsa Indonesia menghadapi masa-masa kritis yang pertaruhannya adalah eksistensi  dan kelangsungan di bangsa ini.

Hemat saya pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang pemilu  telah mewujudkan tujuan awal dari sistem demokratis di Indonesia sebagaimana telah diperjuangkan oleh masyarakat pada saat menginginkan NKRI menganut sistem demokrasi.

Namun, apa yang menjadi tujuan awalnya dan transisi demokratis hingga kehidupan politik yang demokratis Indonesia seakan terbalik. Pilkada kerap kali menjadi ajang ujian bagi tingkat kedewasaan dan kesantunan elite politik dan masyarakatnya. Di sini para kandidat dan tim sukses juga diuji kemampuannya mencegah  terjadinya politik uang, permainan kotor, manipulasi dan  janji-janji palsu. Karena hal ini sudah menjadi suatu budaya dalam hal berpolitik di Indonesia.Warga masyarakat juga diuji  untuk menahan diri dari berbagai upaya yang menjurus  kepada politik proposal ataupun pemerasan terselubung terhadap para kandidat.

Ada juga berbagai pihak terlibat langsung dalam pelaksanaan pilkada. Mereka adalah KPU, Panwas Pilkada, lembaga pemantau, juga panitia pelaksana di tingkat kecamatan dan desa. Selain itu, ada juga lembaga yang sangat berperan untuk mensukseskan pelaksanaan Pilkada, baik pemerintah  provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Idealnya semua pihak yang terkait didukung semua mayarakat memiliki keinginan yang sama untuk mensukseskan pelaksanaan pilkada.

Masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di daerah tercinta NTT saat ini sedang diuji dengan situasi politik menjelang pemilihan gubernur NTT pada 2018 mendatang, yang bisa di katakan tidak kalah serunya dengan situasi politik menjelang pemilihan presiden. Masing-masing  wilayah  menyerukan calon yang menjadi jagoannya di Pilkada ini.  Adu visi misi dan gaya blusukan kian terlihat. Semua ini boelh dikatakan daam rangka aksi menarik simpati masyarakat. “ AKSIMU ADALAH PROMOSIMU”  sebagaimana aksimu menjelang acara akbar yang dimaksud begitu juga yang akan diraih nanti. Asalkan ada ssebauah tindakan yang harus berani dilakukan sekarang. Namun inilah situasi politik kita. Hasil perhitungan dari lembaga pemantau bergerak setiap saat.

Saya mencoba berpendapat bahwa siaapapun yang terpilih menjadi calon  dialah yang berani bertarung untuk melanjutkan aspirasi masyarakat. Menjadi seorang calon bukanlah sebuah status belaka namun itulah sebuah tanggungjawab yang pantas dan wajib di emban. Isu tentang putra daerah jangan sampai menjadi sebuah modal pihak tertentu untuk saling menjatuhkan. Sejatinya bahwa siapapun yang terpilih adalah harus dapat membawa perubahan yang berarti untuk Indonesia lebih khusus lagi wilayah provinsi NTT. Selaian itu motivasi calon juga perlu diwaspadai. Dalam artian bahwa para calon jangan sampai digradasi oleh motivasi dari ingin menjadi pelayan masyarakat yang baik sampai dengan pengalihan sebuah motivasi sekedar pencari kekuasaan semata. Hingga pada akhirnya, bukan pelayan yang didapat oleh namun justru “penguasa”rakyat.    Kondisi semacam ini akan menjadi trauma sejarah pemilihan umum di Indonesia. 

Namun kita berkeyakinan bahwa, berbagai pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dalam pilkada perlu berupaya agar  pemilih mampu bersikap kritis, tidak ada diskriminasi bagi pemilih, tidak ada partisipasi  semua karena  mobilisasi dan buying store. Selain itu juga mengupayakan  agar memberikan peluang  yang sama bagi  semua warga untuk memilih, kemudian jangan ada lagi usaha dari kaum elite  untuk membajak hak-hak politik warganya. 

Jadi boleh dikatakan peran masyarakat perlu dimaksimalkan kembali. Keterlibtan masyarakat sebagai subyek untuk menentukan kelangsungan sebuah roda pemerintahan. Seandaianya peran ini berhasil dimaksimalkan, tentu masyarakat akan mmapu menetukan pilihan terbaiknya saat pemilihan. 

Hingga pada akhirnya, dengan mantap masyarakat NTT dapat menentukan pilihannya, sebagai kado untuk NTT, untuk masyarakat NTT, untuk calon gubernur NTT, dan tidak kalah penting untuk NKRI sebagaimana NTT  sebagai sebuah provinsi idaman karena kecantikan alamnya. Biarkan situasi menjelang pilkada ini nanti berjalan dengan damai tanpa ada lagi munculnya isu-isu yang tidak diinginkan.

Oleh: Edit Teresa
Mahasiswa  PBSI Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Aksimu adalah Promosimu Menuju NTT Satu
Aksimu adalah Promosimu Menuju NTT Satu
https://2.bp.blogspot.com/-hMpEnPzTDgY/WXsZpAmOowI/AAAAAAAAA-c/Hk_pvs8zsYgmtYiiVpH_00kN2SG3isAPwCPcBGAYYCw/s320/Romana_Edit_Theresa_Marjinnews.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-hMpEnPzTDgY/WXsZpAmOowI/AAAAAAAAA-c/Hk_pvs8zsYgmtYiiVpH_00kN2SG3isAPwCPcBGAYYCw/s72-c/Romana_Edit_Theresa_Marjinnews.JPG
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/aksimu-adalah-promosimu-menuju-ntt-satu.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/aksimu-adalah-promosimu-menuju-ntt-satu.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy