Topan Irma, Peringatan akan Pertobatan Ekologis
Cari Berita

Topan Irma, Peringatan akan Pertobatan Ekologis

9 September 2017


Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup termasuk manusia, benda, daya, dan keadaan yang mempengaruhi kelangsungan makhluk hidup, baik langsung maupun tidak langsung (Foto: Dok. Pribadi).
Bencanna topan Irma pada kamis dini hari kemarin sudah seharusnya menjadi bahan refleksi kita bersama, bahwasannya alam sudah mulai menunjukkan ketidak-empati-annya kepada kita manusia. Angin topan yang menerpa Kepulauan Karibia itu memiliki kecepatan 298 km/jam dan menjadi topan terhebat dalam 82 tahun terakhir yang menerjang Atlantik.

Tercatat 10 orang meninggal dunia, ada setidaknya 900.000 orang warga tinggal di rumah tanpa listrik dan 50.000 orang tak teraliri air bersih (Kompas 9/9) dan masih banyak korban yang harus mengungsi untuk menghindari badai topan susulan.

Bencana alam memang sesuatu yang alami terjadi, tetapi bukan tidak mungkin dapat dicegah sedemikian rupa agar bisa diminimalisir terutama dalam hal persiapan menghadapi bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan berdamai dengan alam atau lingkungan hidup.

Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup termasuk manusia, benda, daya, dan keadaan yang mempengaruhi kelangsungan makhluk hidup, baik langsung maupun tidak langsung.

Manusia bersama dengan ciptaan yang lain merupakan bagian dari lingkungan dan keduanya mempunyai hubungan timbal balik yang amat erat. Hubungan manusia dengan lingkungannya adalah hubungan yang bersifat kontinuitas. Lingkungan menyediakan berbagai kebutuhan manusia, menentukan dan membentuk kepribadian, budaya, pola dan kehidupan masyarakat.  

Sedangkan manusia dengan segala kemampuannya dapat menentukan dan mempengaruhi perubahan-perubahan di dalam lingkungannya.

Kondisi Lingkungan Kita Saat Ini
Fakta diawal tulisan ini hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang terjadi. Sifat hedonis dan egoisme kita menjadikan sebuah bencana yang memakan banyak korban jiwa seyogyanya menjadi batu sandungan kita untuk menyadari persoalan yang terjadi pada lingkungan kita.

Satu hal yang menjadi perhatian saya disini adalah soal pertambangan. Sebuah masalah lama untuk tujuan pembangunan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampaknya di masa depan. 

Hingga tahun 2012 silam tercatat 10.677 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang sudah dikeluarkan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari IUP tersebut, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA) mencatat bahwa sejak tahun 2004 hingga 2012 terdapat 1.724 kasus penambangan yang merusak kawasan hutan secara ilegal. Pada tahun 2004, sebanyak 13 unit usaha tambang beroperasi di kawasan hutan lindung dan membabat areal hutan seluas 950.000 hektare.

Data-data tersebut tercatat tahun 2012, beberapa tahun sudah berlalu bukan tidak mungkin ada peningkatan yang luar biasa besar dalam praktek pengerusakan sumber daya alam yang tak bermoral ini. Kita baru membahas soal pertambangan, belum termasuk sampah, air bersih, hutan dan lain sebagainya. 

Jika diijinkan berpikir radikal soal memahami sebuah pembangunan, maka kita sudah mempertaruhkan masa depan bumi untuk generasi penerus kita di masa depan. Saya termasuk orang orang yang ogah meminta maaf atas kekeliruan kita sekarang ini di masa depan.

Pertobatan Ekologis
Keterlibatan kita sebagai orang beriman (penulis memposisikan diri sebagai orang Katolik) dalam melestarikan lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan Tuhan hendaknya dimulai dengan membangun pertobatan ekologis. Pertobatan sendiri dipahami sebagai sebuah tindakan iman, dimana manusia menyesali segala dosa yang ada dalam pikiran, hati dan tindakan kita.

Kita juga harus menyadari bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya sebagai pelaku langsung atas perusakan alam tersebut tetapi juga sikap tidak mau tahu dan tidak peduli terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. 

Pertobatan ekologis mendorong kita semua untuk berdamai dengan pencipta lewat keberanian diri untuk selalu berpandangan positif dan membangun perilaku lama yang lebih menghargai dan menghormati lingkungan hidup. 

Pertobatan  ekologis ini juga akan menggeser banyak hal, misalnnya manusia yang semula menjadi pusat segala-galanya (antroposentrisme) berubah menjadi kehidupan sesama makhluk menjadi pusatnya (Ecosentrisme). Sehingga dengan kesadaran ekologis ini kesejahteraan hidup masyarakat kta dan peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diusahakan tanoa harus mengorbankan alam.

Oleh: Andi Andur