SILIWANGI, Kumpulan Puisi Yogen Sogen

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

SILIWANGI, Kumpulan Puisi Yogen Sogen

12 September 2017


Kau pun aku sama memahami, dua mata dan kaki adalah pembunuh pada betina di singgasana musim ujung  pikiranmu (Foto: Dok. Pribadi
Temaram dari puting salak menampar asaku pada ranting-ranting samida
walau legamnya samida kini ranggas dan tumpas di tangan anima yang jumawa

Kau!
di musim keempat yang sepi sedan,
berdiri tanpa menggenggam kujang sebagai belati untuk menghunus tahta yang tak semestinya, bahkan tak sempat lidahmu menebar kampanye politik hitam seperti politikus busuk yang lapar tahta

namun
kau membangun monarki yang tegak di jantung Pakuan Pajajaran,
menggali lombang demi tegaknya peradabanmu

Siliwangi
kini peradabanmu telah lindap dan kelam, dimangsa oleh monster materialisme dan hedonisme yang anti tentang kisah-kisah silam penuh budaya yang kau tabur di tapak Pakuan Pajajaran
segala tentangmu telah renta, bahkan kisahmu dulu ketika dadamu masih tegak memeluk Mayang Sunda dan menimang surawisesa
kini telah purba,
orang-orang kini lebih sibuk meniduri tubuh tubuh kepalsuan daripada membaca kisahmu pada koropak

Siliwangi
telaga kasihmu pada bumi Pajajaran kini telah goyah,
tapak-tapak gugunungan di setapak batu itu telah jadi makam bisu,
kini orang-orang sibuk membangun lapak kapitalisme di jalan yang rakus ketimbang mendengar babad-babad Sunda,
mereka lebih memilih ke bioskop daripada mendengar kisah dalam babad-babad​ sunda kuno itu

Siliwangi
andai telaga rena mahawijayamu itu dapat melumuri segala kebatilan, dan kepergianmu yang merimbun pada selaksa pertanyaan itu dapat kau larungkan pada sebuah kepulangan kisah yang terputus

ijinkan aku memilih satu tahta untukmu sekali lagi,
untuk kembali membangun monarki yang penuh kebajikan yang tegak bak pangrango dan salak,
dan satu pertanyaan akan kuretas di tanahmu ini,
apakah bumi Pakuan Pajajaran kita biarkan menjadi lumbung manusia yang lupa pada sejarahnya yang mungil?

(Renungan subuh di jantung kota hujan)
Bogor, 11 September 2017


SEBELUM RISAU JADI PISAU
Telah kau peram angin jantan
Menjejal dada betinamu
yang menganga ketika  langit matamu terbuka
Di rambut dan leher malam yang bugil

Telah kita pahami
Dunia yang pasang di awal waktu kau membuka dadamu pada semesta
Dan waktu adalah pisau di sudut silsilah rahimmu

Kau pun aku sama memahami, dua mata dan kaki adalah pembunuh pada betina di singgasana musim ujung  pikiranmu

Ketika tuan duduk lengah
Dan menaruh cahaya di bawah kakimu
Maka perhitungan akan mengelupas pada bulan mati di bawah rambutmu yang ranggas

Risau dan pisau adalah tunas kesepian ketika rahim pikiranmu kau jadikan prematur

Dan dendam kesumat akan bangkit
Pada matamu di dua pertiga malam yang pedang

Kita harus menyisir gelagat angin pada hitungan setiap helai rambutmu
Karena sebatang besi yang kau jadikan pisau ia tak pernah mengerti untuk apa ia jadi pisau

Dan risaumu adalah pisau yang masih sembunyikan belatinya
Meraunglah jika risaumu membatu dalam buana betinamu yang pasi.

(Merayu pikiran menuju subuh di kota sunyi)
Bogor, 12 September 2017
Tidak ada plus satu

Oleh: Yogen Sogen
Penulis adalah Mahasiswa asal Flores, di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan Bogor, penulis buku antologi puisi Nyanyian Savana