Perempuan Dan Belis Di Manggarai

Wanita Manggarai sejati pasti paham, ini bukan soal uang dalam nilai yang super, tetapi motivasinya lebih kepada bagaimana cara dan seberapa banyak pihak yang dilibatkan untuk meluluskan 'belis' ini (Foto: Dok. Pribadi).
Pada umumnya ketika hal-hal yang berbau sensitif dibahas, ada banyak gejolak di dalam hati yang akan memunculkan banyak pertanyaan, kecaman, bahkan kebingungan. Bila mau berjujur diri, saya pun merasakan hal yang sama. Ketika ingin menghabiskan kata untuk tulisan ini, ujungnya pasti akan dibaca berulang kali yang tentu tetap tidak menahan hati untuk hidup dalam perasaan tersebut. Lalu untuk mengakhiri tulisan ini, saya hanya berpikir bahwa selalu ada pengecualian. Ketakutan akan hal-hal berbau sensitif seperti ini akan sirna ketika ditindaklanjuti dengan keberanian akan tindakan.

Segala pernyataan dan keraguan tentu baik adanya, dan akan lebih baik lagi bila kita mau membuka diri terhadap setiap kemungkinan yang terjadi di luar sana. Pada kesempatan ini, izinkanlah saya mengajak pembaca untuk berjalan bersama saya pada diskusi kecil ini. Kita masing-masing tahu bahwa diskusi adalah serangkaian pertanyaan, jawaban, saran serta kritikan juga pasti ada tawa maupun ketegangan. Itu poin pentingnya. Cuma hal ini dikurangi dengan tidak adanya pertemuan. Harapan saya tulisan kecil ini bisa membuat kita berpikir bersama.

Bangun pagi dengan rambut acak-acakan ditemani segelas air putih panas sudah membuat saya sebagai wanita Manggarai yang baru bergulat di kota Malang, tidak surut untuk berpikir satu masalah sesuai judul artikel ini. Sebagai gadis dan wanita yang menjadi sasaran empuk 'belis' dalam pro kontranya sekarang yang dilihat sebagai bisnis dan sarana jual beli, tentu saya merasa risih. Ketidaknyamanan itu karena saya sebagai wanita yang kita ketahui bersama menjadi objek sasaran akan hal-hal yang ditempel itu. Kehadiran kaum hawa seakan jadi biang masalah. Tetapi tentu kita tidak bisa memusnahkan wanita dari dunia ini, apalagi wanita Manggarai dengan kulit manisnya yang jika dibalut dengan 'towe songke' dan 'mbero', sayang kalau dilewatkan. Banyak ruginya

Ketika pikiran kontra yang tidak bisa kita salahkan sepenuhnya, saya lebih dulu berpikir dari sisi pro. Jadi dua sisi yang tidak bisa dipisahkan ini dengan realita yang ada di masyarakat, kita bahas dalam kemasan pro terlebih dahulu.

Seperti diskusi saya dengan salah satu putra Manggarai yang sekarang sedang menempuh pendidikan di bagian hukum di jantung Indonesia, Jakarta, beliau mengatakan bahwa cinta yang berbasis budaya lebih sakral dan lebih indah nilainya. Saya pun sangat sepakat untuk hal ini. Lalu kaitannya dengan 'belis' adalah, belis tentu merupakan salah satu proses dari kebudayaan kita yang tidak bisa dipisahkan.

Sehingga poin pertama adalah 'belis' itu adalah salah satu dari rentetan hadiah yang dipersembahkan nenek moyang kepada kita sebagai pelengkap acara-acara adat di Manggarai sebagai keunikan. Yah, yang unik selalu menarik. Hal unik ini justru semakin indah jika dikaitkan dengan kaum hawa. Saya secara pribadi dan pasti wanita-wanita Manggarai diluar sana juga pernah memikirkan hal yang sama, bahwa 'belis' itu adalah penghargaan kepada wanita yang lebih lanjut memotivasi diri pribadi untuk menempatkan diri sebagai wanita yang memang mahal  dan berharga dengan berkualitas dan berkarakter mengingat bahwa mau mensejajarkan diri betul-betul dengan harga yang mahal.
 
Wanita Manggarai sejati pasti paham, ini bukan soal uang dalam nilai yang super, tetapi motivasinya lebih kepada bagaimana cara dan seberapa banyak pihak yang dilibatkan untuk meluluskan 'belis' ini. Kalau direnungkan lebih jauh, kita pasti dengan berbangga diri mengakui bahwa kita  benar-benar SESEORANG. Seseorang yang diapresiasi. Itu menakjubkan.

'Belis' lebih jauh bukan hanya berfokus pada keuntungan di pihak wanita. Tetapi lebih meluas kepada penghargaan akan keputusan untuk menikah. Proses itu mengajarkan bahwa untuk memulai kehidupan berumah tangga bukan hal yang main-main. Ada serangkaian acara adat yang mesti dilewati dengan konsekuensinya masing-masing. Sehingga untuk berumah tangga pada dasarnya adalah kesiapan batin dan mental. 

Proses itu mengajarkan banyak hal bagi yang belum memutuskan hidup berumah tangga. Walaupun memang rangkaian acara-acara itu banyak yang dilaksanakan tidak  secara sistematis lagi karna banyak faktor. Tetapi hanya dengan memikirkannya pasti akan dipikir 1 atau 2 kali lagi. Sehingga ketika kembali pada persoalan 'belis' tadi kita lihat bahwa semakin tinggi 'belis' semakin kecil kita diberi kesempatan untuk memilih pasangan lain lagi. Karena 'belis' akan berujung penuntutan ganti rugi yang lebih besar dari 'belis' itu sendiri bila 1 pihak memilih pindah haluan dari pilihannya terdahulu yang sudah melewati proses itu tadi. Jadi adat dalam bungkusan 'belis' menekankan nilai kesetiaan. Menyadari hal ini, adat kita terlihat seperti Mawar berduri. Menawarkan keindahan dan menusuk jika memang harus menusuk dengan tujuan mempertahankan keindahan itu sendiri. Menarik bukan? Manggarai 'kuni agu kalo'.

Bagi saya lebih mudah untuk melihat dari sisi pro daripada melihat dari sisi kontra. Karna saya sebagai wanita Manggarai  bersenang diri untuk membagikan hal yang positif. Akan tetapi saya lebih bergairah untuk menunjukkan setiap kemungkinan-kemungkinan yang menjelma jadi kenyataan di masyarakat kita sendiri yang bisa di bilang sebagai kontra. Akan lebih menarik bila kita di bawa pada sisi negatif dari keadaan sesungguhnya, untuk kemudian dilihat bersama bagaimana kita membuka mata untuk segera menindaklanjuti hal-hal mengganjal yang tentu pernah terlintas di benak kita masing-masing.

Kalau berbicara tentang kontra dari 'belis', ada banyak pihak laki-laki yang sekarang membaca tulisan ini sudah duluan menyumbangkan argumen yah, laki-laki terlihat seperti ada pada peran sebagai korban.

Sebagai ajang pemaksaan adalah salah satu kondisi yang terjadi, diminta banyak untuk 'belis' wanita  di tengah kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Walaupun banyak pihak keluarga yang terlibat  tentu keluarga inti masih menjadi pengendali nomor satu. Hal ini mengarahkan pihak laki-laki terlilit utang demi membayar 'belis', yang lucunya nanti pasti diusahakan dibayar dengan sang istri ketika sudah berumah tangga. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sepenanggungan membayar 'belis' yang dimaksud sebagai hadiah

Hal ini tentu sangat wajar bila ditertawakan. Tapi tragis karna betul-betul terjadi dengan kesadaran penuh dari masyarakat kita sendiri.

Semakin tinggi jabatan wanita, semakin tinggi pula 'belisnya'. Kalau mengingat kondisi di 'kuni agu kalo' Manggarai, ada banyak kasus wanita berpangkat tinggi dipinang pria yang kalau dilihat dari standar pendidikan dan penghasilan sebagai hasil dari pendidikan itu sendiri, jauh dibawah wanita tersebut. Hal ini tentu lagi-lagi menyulitkan si pria yang akan meminangnya. Beban batin yang pertama pasti karena memikirkan 'belis' yang akan diminta. Tetapi lebih daripada itu saya pikir ada beban sosial yang lebih berbahaya dari itu, yaitu kembali kepada standar pendidikan ataupun penghasilan dari kedua pihak yang lebih baik di pihak wanita. Seakan nilai kasih yang mereka yakini cukup untuk membuat mereka hidup bersama dan membangun kehidupan berumah tangga sendiri, harus terusik dengan proses pertama itu.

Keberadaan laki-laki sebagai makhluk yang sudah ditempelkan sejarah sebagai kepala,paling bertanggung jawab dan paling mendominasi pada kondisi seperti ini pastinya seakan kehilangan harga diri. Sehingga tak jarang ada banyak percekcokan yang berasal dari perasaan tidak terima akan keadaan. Yah, harga diri lebih penting dari uang itu sendiri. Jadi kalau 'jumlah' tidak menjamin ketentraman pasangan yang mau hidup berumah tangga, tidak bisakah kita negoisasi lebih jauh? Mempertimbangkan dari nilai yang lebih hakiki, yaitu nilai-nilai yang mendamaikan kehidupan berumah tangga pasangan itu nantinya.

Persoalan yang hanya bertolak dari 1 kondisi saja sudah menimbulkan banyak efek. Tanpa ingin membawa pembaca kepada masalah yang lebih rumit, saya mengajak kita untuk melihat hal ini sebagai tantangan yang menarik. Mencabut benalu pada pohon beringin yang merusak kealamiannya, karena budaya adalah akar dari pohon beringin itu sendiri. Mari kita melihat peristiwa lain lagi.

Pria berpangkat yang menikahi gadis dengan level jauh dibawahnya yang semisal menikahi gadis yang hanya berlulusan SMA atau sederajat,tanpa kita sadari akan menjadi bulan-bulanan banyak pihak. Kenapa? Karena pria berpangkat yang dianggap sebagai sesuatu yang istimewa, diminta dari pihak 'tongka' wanita untuk memberikan 'belis' dalam jumlah banyak. Ingin ditolak, tetapi harga diri saat itu lebih dipertimbangkan. Sehingga finalnya adalah permintaan tersebut diterima. Hal inilah yang menimbulkan istilah 'pocu'  yang menggerogoti banyak pihak. Hal ini tentu dilihat sebagai ketidakseimbangan atau timpang sebelah. Mahal tapi tidak berbobot, diterima tapi dengan setengah hati. Itulah yang tentu dipikirkan banyak pihak.Sehingga apa yang dihasilkan dari kesepakatan itu? Gosip menyebar dimana-mana. Peluang besar bagi bentuk kejahatan baru. Apalagi dengan kebiasaan kita orang Manggarai dimana 1 atau 2 orang berkumpul disitu ada 'ganda', 'ganda' dengan berbagai versi.

Realita-realita inilah yang membulatkan tekad saya untuk menabung dulu bersama pasangan nantinya, untuk 'belis' itu sendiri. Walaupun terlihat seperti jalur yang jauh berbeda, tetapi saya hanya berpatok pada pikiran, ini adalah hidup 2 orang bukan 1 pihak. 'Belis' bukan final, dia hanya permulaan. Jadi ketika bisa ditanggung bersama sebelum merajut rumah tangga, kenapa tidak? Toh kesenangan dan kesusahan dari 'belis' itu sendiri selalu kembali pada dua insan yang mau berkomitmen membangun rumah tangga yang sejahtera tentunya.
 
Akan selalu ada kesimpulan di akhir pembahasan, jadi apa yang bisa kita simpulkan lalu menjelma jadi solusi? Mari kita pikirkan bersama.
    
Mencabut benalu dari pohon beringin tidak selalu merupakan kejahatan, karna benalu itu sendiri adalah kejahatan yang diam-diam ingin melahap habis apa yang sebenarnya bukan haknya. Bersih dari benalu berarti mengarahkan kita kepada pemandangan yang alami. Kealamian selalu dipuja bukan disertai bumbu-bumbu pedas kritikan.

Oleh: Tini Pasrin
Kontributor marjinnews.com wilayah Malang           

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Perempuan Dan Belis Di Manggarai
Perempuan Dan Belis Di Manggarai
https://3.bp.blogspot.com/-KwebSii7HW4/WYs36vCROxI/AAAAAAAABHs/ujnFHplD42MFJJ0ax0IRufiuHH2f8oqmgCPcBGAYYCw/s320/Tini_Pasrin_MarjinNews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-KwebSii7HW4/WYs36vCROxI/AAAAAAAABHs/ujnFHplD42MFJJ0ax0IRufiuHH2f8oqmgCPcBGAYYCw/s72-c/Tini_Pasrin_MarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/09/perempuan-dan-belis-di-manggarai.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/09/perempuan-dan-belis-di-manggarai.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy