Meningkatkan Kemampuan Menulis Mahasiswa dengan PBI Berbasis Teks

Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, maka pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan pendekatan berbasis teks (Dok. Pribadi)
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 adalah pembelajaran berbasis teks.Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks. Dalam pembelajaranya menggunakan empat tahapan, yaitu membangun konteks, membentuk model, membangun teks bersama-sama/kelompok, dan membangun teks secara individual atau mandiri. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dengan model yang sesuai.

Pada Kurikulum 2006, mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih mengedepankan pada keterampilan berbahasa (dan bersastra), sedangkan dalam Kurikulum 2013, Pembelajaran Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menalar. Perubahan ini terjadi dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kemampuan menalar peserta didik Indonesia masih sangat rendah. 

Hal ini diketahui dari studi Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011 hanya lima persen peserta didik Indonesia yang mampu memecahkan persoalan yang membutuhkan pemikiran, sedangkan sisanya 95 persen hanya sampai pada level menengah, yaitu memecahkan persoalan yang bersifat hafalan. Ini membuktikan, bahwa pendidikan Indonesia baru berada pada tatanan konseptual. Untuk itu, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu solusi, yaitu dengan menjadikan bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan dan pembelajaran berbasis teks. 

Adanya perubahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersebut seyogianya diiringi dengan kompetensi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran bahasa dengan paradigma baru yaitu pembelajaran berbasis “teks”. Sebagaimana yang dikemukakan Slamet (2007: 6), bahwa pengajaran bahasa Indonesia adalah pengajaran keterampilan berbahasa bukan pengajaran tentang kebahasaan. Teori-teoriba hasahanya sebagai pendukung atau penjelas dalam konteks, yaitu yang berkaitan dengan keterampilan tertentu yang tengah diajarkan.

Kalau kita kembali mencoba menoleh hakikat pembelajaran bahasa indonesia yang sebenarnya, tuntutan kurikulum 2013 memang cocok diterapkan. Bukan tidak mungkin segala sesuatu dalam hidup ini kita perlu memcahkannya dengan berbahasa. Tentunya berbahasa yang baik dan teliti dalam bentuk argument adalah salah satunya. 

Menurut Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisanmau pun tulis, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, maka pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks. Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga mengetahui makna atau bagaimana memilih kata yang tepat yang sesuai tatanan budaya dan masyarakat pemakainya. 

Lalu bagaimana masyarakat mengimplementasikannya? Mahasiswa sebagai kaum penerus bangsa dalam menjaga kearifan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional perlu memahami dan merefleksikannya. 

Hemat saya menulis adalah sebagai upaya terdepan menjawab pertanyaan ini. Namun menulis tanpa membaca tidak akan tercapai. Bukan tidak mungkin lahirnya ide-ide kreatif karena adanya pengetahuan yang sudah pernah dipelajari. Karena pada hakikatnya, menulis tanpa membaca adalah sesuatu yang yang lumrah terjadi. Karena pada intinya nyaris tak ada manusia yang  tidak mengalami membaca selama hidupnya.  

Dan implikasinya terhadap menulis adalah manusia akan semakin aktif dalam menggerakkan idenya dalam mencipta sesuatu.  Dalam sebuah buku “Membaca dalam Kehidupan",  minat baca  dapat meningkatkan suatu keberhasilan suatu aktivitas. Suatu yang menarik minat menimbulkan dorongan yang kuat untuk melakukan aktivitas dengan sungguh-sungguh, sehingga dapatlah kita mengatakan bahwa ativitas itu akan berhasil mencapai tujuannya dengan aktivitas yang dilakukan tanpa kita berminat terhadapnya. 

Demikian halnya membaca dalam pengertiannya sebagai suatu proses penafsiran dan pemberian makna  terhadap lambang-lambang  oleh seseorang dalam hal ini pembaca dalam usaha memeperoleh pesaan yang disampaikan penulis melalui kata-kata  yang berupa tulisan.  Sejenak kita mencoba mengingat bahwa membaca bersangkut paut dengan proses menangkap sesuatu yang bermakna  dan ia harus memiliki kemampuan dan pemahaman tentang bahasa dan kata-kata yang memaknainya. 

Implikasi dari pemeblajaran bahasa indonesia berbasis teks diaharapkan mampu menlahirkan ide-ide kreatif mahasiswa yang bernuaansa kritis, absolut, objektif, dan tepat sasaran. Sehingga membaca sebagai tolak ukur lahirnya ide-ide kreatif tersebut dapat terbangun jika ada kemauan dan minat yang ingin dan tertanam dala setiap pribadi  mahasiswa.

1. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks
Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan fungsinya. Menurut Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai den ganetika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, maka pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan.Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks. Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga mengetahui makna atau bagaimana memilih kata yang tepat yang sesuai tatanan budaya dan masyarakat pemakainya. 

Mahsun (2014: 39) menyatakan, dalam pembelajaran Bahasa ada dua komponen yang harus dipelajarai, yaitu masalah makna dan bentuk. Kedua unsur tersebut harus hadir secara stimulant dan keduanya harus ada. Namun pemakai bahasa harus menyadari bahwa komponen makna menjadi unsur utama dalam pembentuk bahasa, dan karena itu bahasa menjadi sarana pembentukan pikiran manusia. Untuk itu guru perlu menyadari, bahwa kemampuan berpikir yang harusnya dibentuk dalam bahasa adalah kemampuan berpikir sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis. Secara stipulatif kemampuan berpikir tersebut disebut dengan berpikir metodologis yang hanya dapat dicapai melalui pembelajaran teks berdasarkan pendekatan ilmiah/saintifik.

Pada kesempatan lain Mahsun (2013) menyatakan, kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013. Khusus yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan (sebagai penguatan dapat dilihat dalam Standar Isi Permendikbud Tahun 2014). Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: 1 ) maupun sikap sosial (KI: 2) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: 3) dan keterampilan (KI: 4) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks).

Selain itu, antar kompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: 1 dan 2 ditentukan oleh ketercapaian KD dalamkelompok KI: 3 dan 4. KD dalamkelompok KI: 1 dan 2 bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: 3 dan 4. 

2. Upaya meningkatkan kemampuan menulis ilmiah mahasiwa
Tentu menjadi orang yang berkualitas tidak gampang. Sejatinya manusia nyaris gagal kalau tanpa ada usaha dari dalam diri. Untuk  mendapat suatu keputusan tentu membutuhkan informasi yang memadai. Dari sini usaha diharapkan mampu memberikan umpan balik yang objektif tentang apa yang telah dipelajari dan didapatkannya. Belajar menjadi orang hebat tentu butuh proses yang relevan. Menjadi mahasiswa yang  berkemampuan menulis ilmiah butuh suatu upaya. Hemat saya, membaca sebagai sarana menghadirkan ide sebagai salah satu upaya terdepan memecahkannya. Tentu bukan hanya membaca begitu saja. Namun yang diminta disini adalah membaca memahami. Selanjutnya bagaimana mahasiwa mampu mengimplikasinya? Mahasiswa sebagai generasi bangsa yang dihadapkan dengan ilmu pengetahuan yang berlimpah bisa menjadi modal dalam membudayakan  bangsa menulis. Setelah tersaji  pengetahuan yang tanpa batas tinggal bagaimana para mahasiswa menyikapinya. Jadi membudayakan menulis sekaligus pencerdasan bangsa.

Mahasiswa pada saat sekarang ini, banyak yang tidak mampu menulis. Yang dimaksudkan menulis disini adalah menulis karya ilmiah, karya tulis ilmiah dan menulis karya lainya. Mahasiswa disibukkan dengan kegiatan-kegiatan organisasi dan kegiatan lainya, sehingga kebanyakan mahasiswa dididik hanya mampu berbicara saja.  Sedang apa yang dibicarakanya tidak mampu untuk dituliskanya, dan tidak mampu menyampaikan pengetahuannya malalui tulisan.

Hanya sebagian kecil mahasiswa yang mampu menyampaikan pengetahuan dan apresiasinya melalui tulisan. Setiap universitas dan perguruan tinggi selalu menuntut mahasiswa agar mampu untuk menulis. Seperti kegiatan belajar mengajar dalam kuliah, dosen sering memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat makalah. Begitu juga dengan tugas akhir mahasiswa selalu dipertanggung jawabkan dengan karya tulis yang berupa skripsi. tapi mahasiswa sering bermalas-malasan untuk menulis, bukan mahasiswa tidak mempunyai kemampuan tapi mereka tidak mempunyai kemauan menulis.

Dalam sejarah pendidikan menerangkan bahwa bangsa Parsi Kuno dahulu, dikenal menjadi maju ilmu pengetahuannya tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Ukuran kecerdasan seseorang di negeri itu dilihat dari kemampuannya dalam menulis atau mengarang. Sehingga untuk menguji para siswanya dilakukan dengan cara memberikan tugas untuk membuat karangan. Dalam ujian akhir suatu jenjang pendidikan, para siwa dimasukkan ke ruang yang telah disiapkan, kemudian mereka ditugasi untuk membuat karangan.

Begitulah pentingnya budaya menulis bagi generasi bangsa. Suatu bangsa tidak bakalan maju apabila para penulis tidak ada lagi di dalam bangsa atau Negara tersebut.  Di  Indonesia pada kenyataanya saat sekarang ini, dalam dunia pendidikan terutama di SMP dan SMA sangat jarang diajarkan budaya untuk menulis terutama karya tulis ilmiah, para siswa dihadapkan dengan soal-soal latihan sesuai kurikulum, diberi ujian pilihan ganda, sangat jarang seorang guru memberi tugas berbentuk karangan. kecerdasan siswa tidak dididik dengan menulis tapi dididik dengan berfikir saja.

Begitu juga dengan mahasiswa pada saat sekarang ini, mahasiswa lebih banyak ditekankan untuk berbicara daripada menulis. Sebenarnya keduanya sangat berkaitan dengan adanya  kecintaan menulis maka timbul juga kecintaan membaca, sehingga pengetahuan lebih luas dan berbicara didepan umum bisa lebih baik dan sesuai dengan fakta dan bisa dipertanggung jawabkan melalui bacaan dan tulisan.

Menulis itu tidaklah sesulit yang sebagian orang bayangkan. Ketika ada orang yang berkata “saya tidak bisa menulis” itu adalah kesalahan pertama yang menjadikan dirinya semakin tidak mau untuk menulis. Selama dirinya masih bisa bertutur (ngobrol) tentu menulis pun pasti bisa, karena menulis itu sendiri tak ubahnya bertutur.

Mengingat banyaknya manfaat kegiatan menulis, budaya menulis tentu perlu ditumbuhkembangkan. Namun untuk menumbuhkan kebudayaan tersebut hal yang pertama kali yang harus dimiliki yaitu menumbuhkan dulu kecintaan dan kebiasaan kita dalam hal membaca. Sebab dibutuhkan kemampuan ataupun kecerdasan bahasa guna mengungkapakan pemikiran agar ketika menulis, seorang penulis dapat dengan mudah dalam hal pemilihan kata yang tepat didalam tulisannya. Dan membaca merupakansolusinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak juga kata-kata yang bisa diproduksi. Adanya Perubahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia  berbasis teks tersebut seyogiaya diiringi dengan kompetensi yang dimiliki setiap mahasiwa dan kesadaran mahahsiwa untuk merubah pola pikir. Kehadiran kurikulum baru sebagai wahana  baru lahirnya ide-ide kreatif yang bersifat ilmiah.

Oleh: Edid Theresa 
Mahasiwa PBSI Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,274,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,86,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Meningkatkan Kemampuan Menulis Mahasiswa dengan PBI Berbasis Teks
Meningkatkan Kemampuan Menulis Mahasiswa dengan PBI Berbasis Teks
https://1.bp.blogspot.com/-CR3pFBouKSs/WYoAsGocOtI/AAAAAAAABGg/PMeUwyP05Is96WSjlRkx3v4NQc9x7fv3wCPcBGAYYCw/s320/Edid_Theresa_MarjinNews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-CR3pFBouKSs/WYoAsGocOtI/AAAAAAAABGg/PMeUwyP05Is96WSjlRkx3v4NQc9x7fv3wCPcBGAYYCw/s72-c/Edid_Theresa_MarjinNews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2017/09/meningkatkan-kemampuan-menulis.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/09/meningkatkan-kemampuan-menulis.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close