Membaca Konflik Myanmar


Dr. George Junus Aditjondro, dalam artikel “The Suharto regime and the Burmese military junta”, (2 Juli 1997), antara lain pernah menyebutkan bahwa Indonesia pernah dekat dengan Myanmar terutama saat rezim presiden Soeharto

Kita, warga bangsa Indonesia, hari-hari ini begitu semangat membicarakan konflik di Negara Myanmar (Burma). Ada kelompok warga yang melihat konflik di Myanmar itu secara proporsional, namun banyak kelompok juga yang cenderung membabi buta dalam membaca, memahami dan bersikap atas konflik tersebut. Untuk kelompok kedua itu, dapat saja kita sebut ‘kelompok jongkok’. Kelompok ini terlihat agresif baik dalam memberikan komentar melalui media massa maupun media social, bahkan hingga berencana untuk ‘jihad’?

Apa hubungan langsung antara rakyat Indonesia dan konflik di Myanmar itu? Apa hubungan antara Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan Budhis di Negara Myanmar? Apa haluan politik luar negeri Indonesia dengan Negara Myanmar? Apa kerugian bagi Indonesia dari konflik antar etnis yang terjadi di Myanmar? Kemesrahan hubungan macam apa antara Indonesia dengan Myanmar, hingga kaum jongkok sedemikian agresifnya menanggapi masalah dalam negeri Myanmar? Masih banyak pertanyaan serupa yang perlu diajukan terkait sikap warga kelompok jongkok Indonesia pada akhir-akhir ini.

Dr. George Junus Aditjondro, dalam artikel “The Suharto regime and the Burmese military junta”, (2 Juli 1997), antara lain pernah menyebutkan bahwa Indonesia pernah dekat dengan Myanmar terutama saat rezim presiden Soeharto. Bisnis keluarga cendana juga banyak yang berhubungan dengan Myanmar. Pada Agustus 1991 misalnya, PT Indomiwon Citra Inti pertama kali mengekspor 70 ton monosodium glutamat ke Myanmar, Vietnam, dan Hong Kong. Perusahaan ini adalah patungan antara Miwon (Korea Selatan) dan PT Sambada Widyacita, yang tidak lain adalah bisnis patungan antara Bambang Trihatmodjo dan Anthony Salim. Dua anak Soeharto lain, Tutut dan Sigit, memiliki saham di kerajaan bisnis Salim. Selain Tutut, Titiek (putri kedua Soeharto) pada waktu itu merupakan salah satu pemegang saham di PT Prima Comexindo Trading yang dimiliki Hashim Djojohadikusumo. Prima Comexindo Trading melakukan barter obat-obatan buatan Indonesia dengan produk-produk Myanmar.

Menurut laporan Aditjondro, Hutomo Mandala Putra menguasai 55% saham PT Bina Reksa Perdana, yang mengekspor bahan peledak untuk penambangan minyak di Myanmar. Pada akhir dasawarsa 1980-an, Hutomo membeli Sempati Air yang membuka penerbangan langsung Jakarta-Yangon sejak 1991. PT Rante Mario, salah satu dari banyak perusahaan di bawah grup Humpuss milik Hutomo adalah perusahaan pertama keluarga Cendana yang berinvestasi di Myanmar. Tahun 1993, perusahaan Bambang, PT Elektrindo Nusantara, juga memperluas operasinya ke negeri itu. Elektrindo Nusantara, menjadi mitra pemasok Angkatan Udara dan Departemen Luar Negeri Thailand. Pada 1997, perusahaan ini telah membangun jejaring telepon untuk 256 pelanggan di Yangon, ibukota Myanmar (saat itu). Sebelumnya, pada 1996, Hashim Djojohadikusumo menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan negara Myanmar, Union of Myanmar Economic Holding Limited, untuk membangun pabrik semen dengan volume produksi 1 juta ton per tahun. Grup Tirtamas milik Hashim memegang 70% saham bisnis patungan senilai 210 juta dolar AS. 
Selama kunjungan ke Myanmar pada tahun 1997, Soeharto dan kepala junta militer Jenderal Than Swee menghadiri penandatanganan nota kesepahaman antara perusahaan negara Myanmar dan perusahaan klan Cendana. Namun hubungan bisnis itu mengendur setelah Soeharto, didesak mundur pada Mei 1998 dalam aksi Reformasi mahasiswa. Pasca peristiwa Reformasi’98, tak terdengar lagi kelanjutan hubungan bisnis antara (perusahan) Indonesia  dengan perusahan negara Myanmar itu.

Dan hingga hari ini, kita tak tahu secara persis sedekat apakah hubungan antara Indonesia dengan Negara Myanmar, hingga kelompok jongkok di Indonsia ‘rela mati’ mau ambil resiko turut campur masalah dalam negeri orang lain? 

Isu Rohingya

Isu Rohingya bukan hal baru. Berita seputar Rohingya telah lama menjadi pengetahuan publik dunia. Tapi sebagaimana kita tahu, isu itu dilihat secara proporsional oleh publik dunia. Hanya sebagian masyarakat Indonesia saja yang mengolah dan memanfaatkan isu itu entah untuk kepentingan apa. Sebagian masyarakat Indonesia memang nakal dan suka bikin sensasi. Luka di Myanmar, sakitnya di Indonesia.

Kita perlu membaca bahwa pada Oktober 2016, para Muslim Rohingya ekstrimis bergabung membentuk suatu kelompok pemberontak yang mereka namakan, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Mereka adalah gerilyawan pemberontak terhadap pemerintah Myanmar yang bergerak di pegunugan Yo yang berbatasan dengan Bangladesh. ARSA didirikan dan dipimpin oleh Ata Ullah, seorang Muslim Rohingya, yang lahir di Karachi, Pakistan, dan dibesarkan di Mekkah, Arab Saudi. Sebelumnya, kelompok-kelompok Muslim ekstrimis Rohingya telah melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos polisi Burma yang dibangun di kawasan-kawasan perbatasan.

Serangan oleh 150 gerilyawan ARSA terhadap 24 pos polisi perbatasan Myanmar di Rakhine, Myanmar utara, terjadi lagi Jumat, 25 Agustus 2017. Gerilyawan Muslim Rohingya itu sekarang digolongkan sebagai para teroris Bengali oleh pemerintah Myanmar. Mereka membawa senjata dan bahan-bahan peledak rakitan sendiri; dan mereka berhasil merebut sejumlah senjata, sementara 21 orang dari para gerilyawan itu tewas. Di pihak Burma sendiri, 32 orang tewas dan 11 orang diantaranya merupakan aparat keamanan setempat.[1]

Pada Oktober 2016, para Muslim Rohingya ekstrimis bergabung membentuk suatu kelompok pemberontak yang mereka namakan, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Mereka adalah gerilyawan pemberontak terhadap pemerintah Myanmar yang bergerak di pegunugan Yo yang berbatasan dengan Bangladesh. ARSA didirikan dan dipimpin oleh Ata Ullah, seorang Muslim Rohingya, yang lahir di Karachi, Pakistan, dan dibesarkan di Mekkah, Arab Saudi. Sebelumnya, kelompok-kelompok Muslim ekstrimis Rohingya telah melakukan serangan-serangan terhadap pos-pos polisi Burma yang dibangun di kawasan-kawasan perbatasan.

Berita teranyar, serangan oleh 150 gerilyawan ARSA terhadap 24 pos polisi perbatasan Myanmar di Rakhine, Myanmar utara, terjadi lagi Jumat, 25 Agustus 2017. Gerilyawan Muslim Rohingya itu sekarang digolongkan sebagai para teroris Bengali oleh pemerintah Myanmar. Mereka membawa senjata dan bahan-bahan peledak rakitan sendiri; dan mereka berhasil merebut sejumlah senjata, sementara 21 orang dari para gerilyawan itu tewas. Di pihak Burma sendiri, 32 orang tewas dan 11 orang diantaranya merupakan aparat keamanan setempat.[2]

Sayangnya, di berbagai media massa dan terutama di media sosial, sejumlah ‘kelompok jongkok’ di Indonesia kerap bikin ulah dengan menyebarkan berita-berita bohong. Banyak foto yang dimanipulasi. Pada foto-foto tersebut diberi keterangan sesuka hati. Ada yang buat keterangan foto dengan menyebutkan; seorang Muslim dibakar di Burma”. Ada juga foto dengan keterangan; “warga muslim dibantai secara secara masal di Burma”, dan sebagainya. Padahal foto-foto tersebut tak lebih dari hoax belaka. Bahkan, salah satu koran nasional juga turut memberitakan kabar yang kebenarannya patut diragukan.

Di berbagai laman facebook juga banyak menyebarkan berita hoax. Salah satu akun facebook,[3]misalnya, menyebut; “Lima puluh ribu Muslim dibantai di Mayanmar oleh para teroris Buddhis, tapi dunia diam saja. Kaum Muslim dibunuh oleh orang-orang lain dan mereka juga dipersalahkan sebagai para teroris. Di mana kemanusiaan?”berita-berita serupa itu tersebar di berbagai medsos. Dan bahwa berita semacam itu tak lebih sebagai hoax.

Terhadap berita semacam itu, web Skeptical Science[4] pernah membantahnya. Dalam bantahannya, web tersebut menulis, “Dunia tetap berdiam diri bukan karena mereka tidak peduli sama sekali, tapi karena pembantaian itu memang tidak pernah terjadi. Ada contoh-contoh real genosida, misalnya yang terjadi di bekas negara Yugoslavia, dimana NATO turun tangan menyelamatkan penduduk Muslim, lalu banyak bangsa Eropa menyusul masuk membawa banyak bantuan kemanusiaan. Mereka melakukan ini karena mereka perduli; dan karena para korban adalah manusia-manusia yang sedang dalam kesukaran, maka tak ada seorangpun dari antara para penolong yang mempersoalkan apa yang mereka percayai, mereka hanya membantu saja.”

\Seperti diketahui bahwa banyak pula warga bangsa Indonesia yang melihat konflik di Myanmar secara proporsional. Seorang warga Muslim Indonesia yang cerdas, misalnya pernah membantah berita-berita hoax itu. Bantahan tersebut termuat dalam blogspotnya.[5]Dalam bantahannya, ia menulis, “Sebelum menerima sebuah berita, sebaiknya kita harus melakukan pengecekan terhadap berita tersebut, apakah benar adanya atau tidak, apalagi jika kabar tersebut hanya dari mulut ke mulut atau situs jejaring sosial yang disampaikan secara berantai. Tulisan ini saya buat untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Membela sesama muslim itu memang penting tapi membela dengan kebohongan yang berujung pada kerusuhan yang tidak berujung juga bukanlah hal yang baik.”

Warga Muslim itu memakai sumber-sumber autentik terpercaya yang dikumpulkannya dari sebuah situs yang dikelola oleh seorang Muslim bernama Faraz Ahmed Siddiqui.[6] Pada bagian akhir bantahannya, Faraz menyatakan,“Lagi saya mau katakan bahwa kalau saya memasang foto-foto gadungan ini, tidaklah berarti bahwa Muslim tidak dibunuh di Burma. Satu-satunya alasan saya membagi foto-foto itu kepada anda adalah untuk menunjukkan bahwa media sosial dan partai-partai politik sedang memanipulasi foto-foto.”

Dalam web Pakistan Defence juga memuat bantahan serupa.[7] Dalam bantahan tertulis, “Saya tidak mau dibohongi. Bayangkan jumlah kebohongan yang sedang diumpankan kepada anda lewat foto-foto ini. Bagaimana orang bisa dapat mempercayai gambar apapun yang terpasang online di Internet jika manipulasi dan editing yang drastis semacam itu sedang dilakukan untuk memenuhi agenda politik atau agenda pribadi sekelompok orang? Foto-foto ini palsu dan hanya membakar kebencian dan prasangka di antara kaum muda kita. Kita perlu lebih waspada dan sadar terhadap kredibilitas dan autentisitas foto-foto yang kita lihat dan baca. Hanya lewat satu foto palsu saja, kita bisa tergelincir jatuh ke dalam ekstrimisme”. [8]

Konflik di Myanmar pada dasarnya bukan konflik keagamaan, tapi konflik yang timbul karena politik rasisme diskriminatif yang tidak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Burma, antara lain karena alasan-alasan kesejarahan tertentu.[9]

Tampaknya, saat ini sedang berlangsung ‘kampanye hitam’ terhadap umat Buddhis Myanmar lewat berita-berita di Internet yang disebarkan kaum jongkok tertentu dengan memanfaatkan foto-foto peristiwa lain, yang diberi keterangan dan komentar yang sangat menyesatkan. Padahal, yang sedang terjadi di Myanmar sebenarnya adalah kerusuhan antar-etnis, yang menelan korban dari semua pihak, baik di piahk etnis Budhis maupun dan terutama etnis Muslim Rohingya yang terlibat konflik.

Ada pula yang menyebut bahwa konflik di Myanmar mengarah pada apa yang disebut ‘genosida’ atas etnis Muslim Rohingya oleh kelompok etnis Buddhis. Jika itu benar, maka tentunya pemerintah Myanmar perlu berupaya bagaimana mengakhiri kerusuhan antar etnis itu secara baik. Intervensi pemerintah Myanmar itu, kiranya perlu juga didukung oleh negara-negara lain tetapi dalam batas-batas yang wajar.  

Diketahui bahwa “Gerakan Nasionalis Buddhis-969” yang dipimpin seorang ultranasionalis Ashin Wirathu,[10] yang berpusat di Mandalay selama beberapa tahun terakhir ini terus mendorong pengikutnya di sana untuk menggencet dengan keras komunitas-komunitas Muslim Rohingya. Konon, salah satu alasan dari Wirathu melakukan itu, karena ia percaya bahwa kaum Muslim Rohingya sedang merencanakan sebuah gerakan untuk menguasai negeri Myanmar yang nyata-nyata adalah negara Buddhis. Apa lagi pernah diberitakan juga bahwa Muslim Rohingya setidaknya telah berencana untuk melepaskan Rohingya dari kekuasaan pemerintahn Myanmar, lalu akan mendirikan negara Islam sendiri di sana. Namun, alasan dan tudingan Wirathu itu, juga dibantah dan dikritik oleh kaum Buddhis di Myanmar sendiri. Jadi, tudingan Wirathu itu juga diragukan kebenarannya oleh sebagian masyarakat Myanmar.   

Jika dilihat dari sejumlah sumber lain, konflik di Myanmar itu, juga dipicu oleh banyak isu-isu separatis yang dianggap sebagai musuh Myanmar. Lalu siapa musuh atau lawan dari bangsa Myanmar itu? Ini memang sulit diuraikan, tetapi mungkin baik jika membaca berita terkait yang termuat dalam situs ‘Islam wahabi’.[11] Dinyatakan pada situs itu, bahwa para pejihad Muslim dari banyak negara di dunia, dan juga sebahagian dari Indonesia, akan dikerahkan untuk berperang melawan negara Myanmar demi membela Muslim Rohingya. Dan ternyata, sudah sejak lama Muslim Rohingya memang ingin memisahkan diri dari negara Myanmar lalu mendirikan negara Islam sendiri. Dengan kata lain, sudah lama kelompok itu menempatkan diri sebagai kelompok separatis yang ingin memerdekakan dirinya dari Myanmar.[12]

Dalam artikel itu tertulis, “Pemberontakan Muslim Rohingya di Burma Barat adalah suatu konflik bersenjata antara Negara Burma dan minoritas Muslim Rohingya dalam negara itu sejak 1947. Ambisi mereka semula selama gerakan-gerakan Mujahidin (1947-1961) adalah untuk memisahkan kawasan perbatasan Mayu di Arakan yang dihuni Muslim Rohingya dari Burma Barat dan menganeksasi kawasan ini ke dalam negara tetangga Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) yang baru dibentuk.  Pemberontakan ini (1947-1961) terjadi saat Burma diperintah U Nu yang menjalankan demokrasi parlementer, yang tidak memperbolehkan diskriminasi terhadap umat Muslim Burma. Pada era pemerintahan U Nu bahkan sejumlah menterinya yang menduduki posisi-posisi tinggi adalah Muslim. Baru pada era pemerintahan Jendral Ne Win (1962-1988) Muslim Burma memang mengalami diskriminasi dan penindasan. Jika begitu, apa yang menjadi penyebab pemberontakan para Mujahidin Burma selama kurun 1947-1961? Ada beberapa faktor penyebabnya: dampak Perang Dunia II dan sesudahnya; pembentukan sebuah negara Islam baru, yakni Pakistan Timur, di kawasan tetangga perkampungan-perkampungan Muslim Rohingya di Burma Barat; dan tidak terintegrasinya Muslim Rohingya ke dalam kehidupan masyarakat Burma secara keseluruhan. Tidak heran jika dalam kurun Perang Kemerdekaan Bangladesh tahun 1971, kelompok-kelompok Rohingya kembali aktif. Belum lama berselang, saat terjadi Huru-hara di Negara Bagian Arakan, kelompok-kelompok militan Muslim Rohingya kembali bertekad untuk membentuk sebuah negara merdeka di bagian utara Arakan. Dalam tahun 2012, para pelarian politik Muslim Rohingya mendeklarasikan pembentukan “Republik Islam Rahmanland”, yang terletak di utara Negara Bagian Rakhine”.  

Sejumlah kalangan politis bisa saja menolak fakta sejarah yang dikutip di atas. Namun itu tetap saja sebuah rekaman sejarah yang terkait erat dengan konflik yang terjadi di Negara Myanmar. Mungkin saja karena alasan itu pula, maka pada 4 Desember 2012 silam, salah satu tokoh penting, Aung San Suu Kyi, pernah berkomentar, “Aku tidak membuka mulut, bukan karena kalkulasi politis. Aku membisu karena di pihak manapun aku berdiri, darah akan tetap tumpah lebih banyak lagi. Jika aku berbicara demi HAM, para Muslim Rohingya hanya akan menderita. Akan lebih banyak darah yang tertumpah”ujar peraih Nobel itu.

Nah…, jika demikian, bagaimana kita warga Indonesia melihat dan menyikapi konflik di Negara Myanmar itu? Apakah kampanye hitam dan berita hoax yang digulirkan oleh kelompok jongkok di Indonesia hari-hari belakangan ini, ditelan bulat-bulat? Ataukah sejatinya kita perlu melihat persoalan dari banyak sisi, dan karenanya kita tak perlu bersikap reaktif secara berlebihan?

Janganlah kita memanfaatkan konflik di Myanmar lalu digeser ke isu agama yang ujung-ujungnya menghantam sesama umat warga bangsa Indonesia. Apalagi jika dikemas secara politis untuk menembak pemerintahan Indonesia dibawah pimpinan Jokowi-Kalla. Sebab, hari-hari belakangan ini, kita lihat banyaknya pernyataan yang justru cenderung menghojat pemerintahan kita sendiri. Kecaman yang membabi-buta terhadap pemerintahan Jokowi-Kalla, hendaknya perlu segera diakhiri. Karena kecaman semacam itu, selain tidak pada tempatnya, juga akan berpotensi menimbulkan konflik baru dalam negeri kita sendiri. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang aneh; ‘lukanya di luar negeri, tapi sakitnya ada di dalam negeri’. Konfliknya ada di Myanmar, tapi ributnya ada di Indonsia. *** (bersambung).
 

[5] http://unik-aneh.lintas.me/go/bodrexcaem.blogspot.com/inilah-kumpulan-foto-pembantaian-muslim-di-burma-myanmar-yang-ternyata-hoax/

            
Oleh: Bernadus Barat Daya

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Membaca Konflik Myanmar
Membaca Konflik Myanmar
https://3.bp.blogspot.com/-zZPatf2hKC0/WbEdR0cN3mI/AAAAAAAABXk/pAMKdEAuOGQ5ZlFdxJjLzgxYNfX7DNF1ACLcBGAs/s320/rohingya%2BMarjinNews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-zZPatf2hKC0/WbEdR0cN3mI/AAAAAAAABXk/pAMKdEAuOGQ5ZlFdxJjLzgxYNfX7DNF1ACLcBGAs/s72-c/rohingya%2BMarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/09/membaca-konflik-myanmar.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/09/membaca-konflik-myanmar.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy