Kotbah Wiji Thukul di Warung Kopi

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Kotbah Wiji Thukul di Warung Kopi

20 September 2017

Dari kejauhan tepat di ujung gang seorang yang mengaku rohaniwan bernama asli Wiji Thukul berbicara layaknya Yesus dalam cerita Kitab Suci (Gambar: Istimewa)
Terminal Bratang, Surabaya mencari kesejukan di bawah sinar matahari yang menusuk hingga membikin gerah seluruh badan siang ini. Beberapa sopir angkot dalam kota berbincang seputar kondisi ekonomi yang kian tak menentu. Melubernya jasa transportasi online dengan mobil-mobil mewahnya membuat mereka berada pada posisi enggan dan ragu antara bertahan atau pindah profesi. Jalan raya selalu penuh sesak dengan bunyi-bunyi klakson orang-orang kaya yang dengan klaim pajak lebih besar membuat mereka pongah seolah jalan itu hanya milik mereka. 

Dari kejauhan seorang pengamen bernyanyi melantunkan lagu Ujung Aspal Pondok Gede punya Iwan Fals. Siapa yang peduli? Anak-anak muda dalam bis jurusan Bratang Bungurasih itu memasang headset dalam telinga mereka, senyum-senyum sendiri seperti orang gila sambil memandangi gawai mereka. Siapa yang peduli? Tetapi pengamen itu tetap bernyanyi, menghibur mereka yang tengah gundah gulana, para sopir sepertinya lebih memaknai lagu itu dari pada anak-anak muda disana.

Di depan terminal tukang-tukang becak sibuk dengan mimpi-mimpi indah dalam tidur mereka. Berkaus lusuh dan beromdal otot, mereka menawarkan kemudahan pilihan transportasi dalam kota dengan tarif yang sekenanya saja dipatok. Becak seperti pasar tradisional, sebagus apa pun sayuran atau buah yang dijual masih bisa kita tawar untuk sesuatu disebut musyawarah ala pedagang. Tetapi, cerita mereka hanya sebatas itu saja. Awan bahkan lebih peka dengan kondisi mereka. Menghalau sinar matahari sambil sesekali berharap hari cepat berlalu dan kantong celana mereka terisi penuh untuk dibawa pulang kepada istri anak di rumah.

Muak melihat pemandangan yang demikian sama hampir setiap hari selama berkesempatan naik transportasi umum untuk kuliah, aku pun memilih menunggu di sebuah warung kopi di area terminal menanti penuhnya penumpang dalam angkutan kota jurusan Bratang-JMP ini. Secangkir kopi dipesan sambil mencari-cari puntung rokok sisa hisapan di kampus pagi tadi.

Dari kejauhan tepat di ujung gang seorang yang mengaku rohaniwan bernama asli Wiji Thukul berbicara layaknya Yesus dalam cerita Kitab Suci. Ia duduk di atas tong sampah bertuliskan “Dinas Kebersihan Kota Surabaya”, sementara beberapa orang yang dengan setia mendengarnya berdesak-desakkan berebut tempat duduk pada terpal bekas lantai berubin berbau jamu.

“Jujur mas, aku lelah berpuisi apa lagi berkata-kata setelah pemutaran Istirahatlah Kata-kata itu dipertontonkan kepada anak-anak kita”. Ucap Wiji sambil merapikan rambutnya yang sudah panjang hingga sebahu.

“Tidak apa-apa mereka memutar film itu untuk mengenang aku yang begini adanya. Tapi kalian orang Jawa Timur harus selalu ingat, Syiah Sampang, Marsinah, Munir hingga Lapindo adalah petaka besar Pulau Jawa yang tidak kalian protes. Untuk apa mengetahui kisah-kisah saya? Jika kalian tidak paham sejarah perjuangan Hak Asasi Manusia yang harus mengorbankan nyawa kawan saya, Cak Munir itu”. Lanjutnya.

“Ya opo cak? Sampean iku sing bertugas ngajari kami wong cilik iki terkait HAM atau apalah begitu” celetuk seseorang orang diantara mereka.

“Begini cak, pada hakekatnya manusia harus mengetahui hak asasi manusia karena ia manusia. Paham? Ok gini wes, aku ora baca puisi hari ini nang kene. Aku mau jelaskan kepada kalian semua sejarah HAM yang kata orang pintar disebut sebuah utopia” kata Munir sambil memesan Nutrisari dingin kepada penjaga warung yang lumayan cantik untuk ukuran seorang penjaga warung. Keuletannya memecahkan telur, menggoreng hingga menyajikannya bersama serangkain pelengkap nasi penyet itu membuatnya sangat istimewa. Jangan tanya paras dan tatapan matanya, aku bahkan terpaku dan terpana pada pandangan pertama.

Sudahlah, biarkan aku saja yang menikmati itu. Akan saya ceritakan nanti selepas aku membicarakan pertemuan tak terduga dengan Wiji Thukul si anak hilang yang tengah berkotbah untuk kaum-kaum papa terminal Bratang siang itu. Tenang saja.

“Kalian itu pesanlah dulu kopi pada mbak ayu, materi ini akan berat untuk dicerna” kata Wiji memberi kode hendak mentraktir mereka. Beberapa dari mereka dengan cekatan memesan kopi. Sementara Wiji Thukul mengambil beberapa gorengan untuk mempernikmat kopi di siang hari.

“Paham hak asasi lahir di Inggris dalam abad-17. Inggris memiliki tradisi perlawanan lama terhadap segala usaha raja untuk mengambil kekuasaan mutlak. Pada tahun 1215 para bangsawan sudah memaksa raja untuk memberikan magna Charta Liberatum yang melarang penahanan, penghukuman, dan perampasan benda dengan sewenang-wenang. Setelah itu, muncul beberapa kesepakatan hingga pada 10 Desember 1948 Majelis Umum PBB mengeluarkan pernyataan hak-hak asasi sedunia yang pertama. Dua persetujuan PBB tahun 1966, Persetujuan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomis, Sosial, dan Kultur dan Persetujuan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, berbeda dengan Piagam PBB tahun 1948 juga memperhatikan masalah-masalah khusus negara-negara bekas jajahan. Sampean ngerti ta cak?” tanya Wiji Thukul melihat pendengarnya bengong tanpa sedikit pun menyentuh kopi yang sudah diseduh mbak yu.

“Sampean iku arek kampus endi Kul? Anakku sing kuliah aja gak pernah cerita macam engkau ini”

“Hahaha, sampean iku ojo lali mas, anakmu itu telah mas beri handphone. Jangankan baca buku, mereka lebih suka duduk menunduk melihat propaganda teknologi yang menjajah kita sekarang ini”.

“Terus, piye Kul?”

“Jangan marahi mereka mas, mereka gak pernah salah. Mereka hanya keliru melihat apa yang mereka lihat. Mereka hanya berpura-pura tidak mendengar untuk apa yang mereka dengar dengan jelas. Jadi apa mas? Jangan sampai kita menjadi manusia tak berdaya melihat tipu daya anak-anak kita. Saya sih Cuma satu mas, anak saya pokoke jangan sampai pakai narkoba. Meski mereka sering nunduk, tapi jangan nunduk kepada narkoba”

“Aduh, berat Kul. Aku iki bagaimana mau memperhatikan anak-anakku, wong cari makan aja susah”

“Hahaha, mas mas jangan patah semangat. Saya betah di terminal ini hanya karena satu hal, sampean dan orang-orang kecil ini selalu berlaku jujur atas segala sesuatu tentang kehidupan yang kalian rasakan”

Semua orang diam, kecuali Wiji Thukul yang sibuk merenung dibalik asap rokok yang tinggi membubung. Bekas luka dipelipis kirinya masih tampak jelas. Mereka yang lain sibuk dengan perasaannya masing-masing, dalam hati saya berpikir keras. Berbicara HAM tidak akan selesai jika masih ada manusia yang belum begitu paham akan aksi perampasan hak-hak dalam dirinya. Seperti orang-orang dilingkaran Wiji Thukul siang itu.

Sebuah teriakan sopir angkot berhuruf ‘N’ menyadarkan aku untuk segera beranjak. Belum sempat aku membayar, sapa mesra Mbak Yu membekas lembut dalam telinga. Bayang pelangi jingga matanya membentuk guratan rindu dalam balutan cerita Wiji Thukul soal HAM. Begitulah cerita tersebut berakhir bersama angin panas Kota Surabaya. 

Bersama bayang semu rindu-rindu terhadap Mbak Yu, rangakaian cerita ini aku tulis dalam ingatan menuju pusat kota tempat segala kemunafikan kehidupan dibentuk rapi dan tertutup rapat. Aku merindukanmu kawan.

Surabaya, 20 September 2017

Oleh: Andi Andur  
Pemimpin Redaksi marjinnews.com