KOPI DAN KENANGAN

Suara gemercik hujan menggoyahkan lamunanku. Seketika ingatan itu terbuang dengan sendirinya. Bukan tanpa sebab, tapi kali ini tubuhku memilih diam. Di depanku dua manusia sedang tertawa bahagia. Aku tahu, mereka pasti mengira dunia ini milik berdua. Bukankah begitu yang namanya cinta? (Gambar: Istimewa)
Suara gemercik hujan menggoyahkan lamunanku. Seketika ingatan itu terbuang dengan sendirinya. Bukan tanpa sebab, tapi kali ini tubuhku memilih diam. Di depanku dua manusia sedang tertawa bahagia. Aku tahu, mereka pasti mengira dunia ini milik berdua. Bukankah begitu yang namanya cinta?
 
“Pa, kopi susunya dua” kata kedua pasangan itu tanpa mempedulikan yang lain
“Sabar ya, kalau kamu Fan pesan kopi apa?” jawab pa Soni sang pemilik kedai kopi sambil mendekatiku
“Seperti biasa om” jawabku singkat.
 
Dari sudut kedai, pa Soni masih menatap Irfan dengan penuh kesedihan.
 
“Dasar anak muda, begitu rapuh hatinya terhadap sebuah cinta” gumam pa Soni dalam hati dan mempercepat langkahnya untuk mengantarkan kopi pesanan pelanggan.

“Secangkir kopi pertama di pagi hari, tak lagi panas seperti biasanya. Menjadi hangat seperti kamu ketika tahu bahwa ada sosok yang menyukaimu. Bagi sang waktu, merubah sikap seseorang terasa begitu mudah. Semudah merubah panas menjadi hangat seperti kopimu di pagi hari. Kamu memang begitu, tak suka meminum langsung ketika panas, namun hanya menghirup perlahan aromanya, lalu dibiarkannya mendingin begitu saja.”
 
Kembali kalimat itu mengusik Irfan saat bibinya menyentuh cangkir bermotif mawar itu. Kalimat itu yang sering diucapkannya ketika meracik kopi untuk Irfan. Entah apa maksud semua itu tetapi yang jelas kalimat itu selalu diucapkannya setiap saat.
 
“Sudah tidak menulis puisi lagi Fan” tanya Pa soni mengagetkan Irfan
 
“Tidak lagi pa, saya ingin istirahat dulu untuk beberapa waktu” jawab Irfan sambil menikmati tiap tegukannya.
 
“Oh begitu, lalu bagaimana hubunganmu dengan Santi?” tanya pa Soni dengan nada yang pelan
 
“Haha, kami sudah selesai om, dia hanya sebuah kenangan dalam kehidupan saya” jawab Irfan dengan sedikit senyum duka yang dia berikan 
 
Wajah Santi, ya wajah itu.
Seingatnya, tidak ada yang lebih cantik dari Santi, walaupun melati sedang mewangi, kupu-kupu sedang beterbangan, dan mawar-mawar sedang merekah, tidak ada yang lebih menawan dari diri wanita yang ia puja, meskipun senja tengah merona, ataupu hujang yang datang bersama pelangi.
 
Itulah yang selalu dia rindukan.
 
Kembali dia teringat akan waktu yang mereka habisi bersama di kedai ini
“ Kamu pesan apa Irfan” tanya Santi.
”Secangkir kopi hitam” jawabku tanpa melihat deretan minuman yang tertulis dalam menu. Secangkir kopi hitam di siang hari, sebagai teman untuk menghabiskan waktu bersamanya
 
Pergi ke kedai di pagi,siang,sore atau pun di malam hari, duduk bersama, hanya ditemani secangkir kopi sambil menulis puisi seolah sudah menjadi sebuah tradisi bagi kami, aku dan Santi.
 
“Mengapa selalu kopi, mengapa bukan teh atau yang lain Fan. Apa memang kopi menjadi sahabat seorang penulis puisi seperti kami” tanya Santi sambil mencubit hidung Irfan
 
“Bukan itu, karena kopi adalah aku dan aku adalah kopi” jawabku santai
 
“Ah kamu, sudah berapa lama kamu menyukai kopi Fan” tanyanya lagi
“Ah, tidak terlalu lama, yang jelas dia sudah menjadi teman hidup saya yang tidak bisa saya lewatkan begitu saja” jawabku.
 
“ya ya ya, lalu kenapa kopi dan kedai ketika denganku?” tanyanya sambil mengangguk
 
“Tidakkah kamu tahu? Kopi ini hanya sebuah celah bagiku untuk sedikit saja mendapatkan perhatian darimu? Karena setidak-tidaknya setiap hari kamu akan meluangkan waktumu dan  menatapku dari seberang meja sambil tersenyum.” Jawabku sambil memegang bahunya.
 
Santi pun memeluku dengan penuh kehangatan, hujan dan petir mengiringi kisah kami waktu itu, yah waktu saat aku dan dia menjadi kami.
 
Pagi hari yang cerah dari balik jendela sambil memandang sepasang burung yang dengan suara minornya menyambut mentari pagi. Bunga melati yang perlahan mekar sambil  menantikan kapan mentari menyembul sempurna dan tak lagi malu-malu. Kadang sinar pagi matahari menyakitkan, karena itu berarti sudah ada satu hari lagi yang harus kulewati dengan harapan penuh bisa bertemu kembali dengannya.
 
“Kopi” kembali kata itu muncul dalam benak Irfan. Kata yang selalu menjadi sahabat dalam hidupnya. Segera diambilnya topi kodok yang menutup rambut gondrongnya yang kian tak terawat dan bergegas menuju kedai pa Soni.
 
“Pa, seperti biasa” kata Irfan kepada pemilik kedai
“Ok Fan, sabar ya” kata pa Soni yang sudah tahu betul pesanan Irfan
 
“Pa, siapa pemuda itu, setiap hari saya seing melihat dia mengahbisakan waktu di kedai ini dan tempat duduknya pun selalu di pojokan sana” tanya seorang pelayan baru kepada pa Soni
 
“Namanya Irfan, dulu dia penulis puisi dengan tema kopi yang paling hebat. Karya-karya bahkan samapi keluar negri, namun sekarang dia sudah tak lagi menulis karena kekasihnya menikah dengan orang lain apalagi kedua orang tuanya telah meninggal. Sudah-sudah, sekarang mending kamu cuci gelas yang kotor biar saya yang bawakan minuman ini untuknya” jawab pa Soni
 
“Fan ini kopinya” kata pa Soni sambil meletakan cangkir kopi di sudut kedai itu
“Terima kasih om” jawab Irfan sambil mengisap rokok kreteknya, asap pun mengepul seakan memenuhi seluruh teras kedai yang berukuran 7x9 meter itu.
 
“Nak, boleh bapa tanya sesuatu” kata pa Soni sambil nearik salah satu kursi plastik dari kolong meja
“Silakan pa, tanya saja” jawab Irfan dengan tangan yang sambil mengetuk meja
 
“Tapi sebelumya kamu jangan tersenggung ataupun marah, bapak hanya tanya, apa seberarnya yang terjadi padamu dan juga Santi, mengapa hungungan kalian harus berakhir?” tanya pa Soni penasaran
 
Irfan hanya tertundung dan sesekali mengangkat dagunya sambil tersenyum petanyaan itu seperti tak pernah didengarnya, matanya hanya memandangi burung-burung yang hinggap di dahan beringin depan kedai kopi pa Soni.
 
Perlahan Irfan menatap pa Soni, sedikit senyuman dilemparkan pada pemilik kedai yang paruh baya itu, matanya metap tajam. Tak lupa tangan kananya mengambil cangkir diatas meja.

“Secangkir kopi di pagi hari ini, satu cara untuk mengingatkan bahwa panasnya sesapan pertama jauh lebih nikmat dibanding dinginnya cangkir tanpa isi. Secangkir kopi yang mengingatkan, bahwa jauh lebih nikmat menghabiskan pagi berdua dibanding seorang diri. Panasnya cinta, dinginnya hati, terasa biasa bagi mereka yang sudah terbiasa. Seperti halnya sebuah cinta, akan hadir karena terbiasa. Begitu pula rasa sakit, akan terasa biasa ketika itu sudah hal yang biasa. Tentang sebuah rasa diabaikan, dan kini yang menyakitkan adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena mengabaikan. Seperti halnya kebiasaan lama, penyesalan selalu datang di akhir cerita” jawab Irfan singkat sambil menghisap kretek yang kian habis dimakan waktu
 
“Apa, penyesalah kamu bilang, kamu masih mengatakan menyesal meninggalkannya. Bapa heran sama kamu, masa mudamu harus hancur seperti ini” kata pa Soni yang menyesal mendenga kata-kata Irfan. Lelaki paruh baya itu memang banyak mengetahui tentang hubungan mereka. Kedai miliknya menjadi saksi bisu saat pertama kali Irfan yang dengan kaca matanya duduk dipojokan kedai sibuk mengatur kaca mata bulatnya sambil menulis puisi dan tiba-tiba seorang gadis lugu nan cantik meminta agar duduk bersama. Saat itulah irfan dan Santi saling jatuh cinta. Sore dengan hujan begitu lebat bukan saja membawakan basah tetapi menyatukan kepingan hati yang telah bertemu pasangannya.
 
Indah memang ketika kembali mengingat kenangan itu. Gadis lugu yang yang rambutnya kadang luruh diujung dagu bila tertundung mencuci gelas di kedai.
 
“Tuhan memberikan kita rasa agar kita dapat merasakan semua rasa yang ada. Baik itu rasa suka, duka, sedih, kecewa, sakit hati, bahagia, bangga, frustasi atau kecewa. Semua rasa itu bukan” jawab Irfan singkat
“Tapi, jika Tuhan menghendaki sebuah pertemuan , bagaimanapun caranya itu pasti terjadi bukan?” tanya pa Soni yang semakin emosi dengan tingkah Irfan yang semakin ambigu
 
“Cukup, cukup sudah kita membahas tentang masa lalu. Aku tahu ini sulit. Jangan biarkan aku kembali bermsuh dengan masa lalu. Aku sudah berdamai dengannya dan biarkan di bahagia bersama keluarga kecilnya yang baru. Melihat dia tersenyum itu sudah cukup bagiku. Bukankah itu cinta yang sesungguhnya” jawab Irfan sambil menikmati kopi.
 
“Tidak, kamu egois Fan, hanya memikikan dirimu sendri tanpa peduli dengan Santi. Kamu meninggalkannya begitu saja dan menyuruh sahabatmu sendiri untuk menikahinya. Ya egois, kamu memang egois” jawab pa Soni dengan nada yang memecah keheningan kedai itu.

Diam memangku kata pada batas bibir saat Irfan dengan kalimat yang diucapkan lelaki paruh baya itu, kembali kisahnya bersama Santi hadir dalam ingatannya.

“Akhir-akhir aku lihat kamu tak lagi menulis puisi dan terima kasih juga karena kamu selalu hadir meluangkan waktu untukku” kata Santi sambil mencubit lengan Irfan.

“Kamu tahu, makan,tidur, dan kopi adalaha tiga hal yang tidak penah aku lewati. jika aku melewatkan ketiga hal ini hanya untukmu, jadi jangan tanya lagi seberapa penting dirimu untuku” kata Irfan singkat sambil mengusap rambut Santi yang bersandar dilenganya.

“Tapi sebelumnya ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu” lanjut Irfan yang kini lebih serius dan air mata yang perlahan jatuh diatas pipinya
 
“Kamu kenapa Fan, tidak biasanya kamu seperti ini” tanya Santi yang kini menatap Irfan sambil memegang kedua pipinya.
 
“Saya,saya hanya ingin kita berdua mengakhiri hubungan ini, saya merasa kita tidak bisa untuk bersama” kata Irfan sambil memegang kedua tangan Santi yang kini semakir bergetar.

“Kenapa, kenapa harus begini” tanya Santi pelan, air matanya jatuh berderai membasahi pipinya yang kian memerah.

“Aku bukan lelaki yang pantas untukmu, aku berharap kau bisa terima ini” jawab Irfan singkat yang kini tak lagi menatap Santi.

“Apa? Kamu jahat, kamu egois. Mengapa kamu lakukan hal seperti ini dalam hidup saya. jahat, ya kamu jahat” jawab Santi sambil memukul dada Irfan.

“Tidak, kita memang harus seperti ini. aku mencintaimu sebagai seorang gadis yang pernah aku cintai tapi bukan untukku” jawab Irfan sambil tersenyum, senyuman yang senada dengan air mata yang kian menari pada pipi dan dagu.

“Baiklah kalau itu maumu, jangan pernah lagi kau tampakan wajahmu di depanku.
Semoga kelak kita bertemu pada sebuah kebetulan, yang akan buat engkau meneteskan air mata lagi” jawab Santi tegas.

“Terima kasih, jaga dirimu untuk yang bukan aku” kata Irfan sambil tersenyum, kini kakinya beranjak pergi dari sudut kedai Pa Soni.

Waktu cepat berlalu. Kemarin adalah sebuah kenangan. Hari ini adalah kisah yang harus kembali diukir. Irfan yang dengan keambiguannya masih meutup dan merahasiakan alasan dasarnya meninggalkan Santu. Meski dalam sebuah kebetulan.

“Seperti halnya secangkir kopi hitam tanpa gula, kau takkan pernah tahu rasa pahitnya tanpa pernah kau meminumnya. Begitu juga soal menunggu, kau takkan pernah tahu betapa pahitnya sebuah arti kata menunggu. Menunggu itu bukan soal kesabaran, tapi juga soal kepastian. Kepastian sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan “Apakah layak, dia menunggu selama itu?”kata pa Soni kepada Ifran. Kini lelaki paruh baya itu tak lagi mempertanyakan alasan mendasar yang ada pada diri Irfan untuk meninggalkan Santi. Baginya itu adalah kisah yang terjadi dalam kedainya dan diingat hingga dia mati nanti.
 
Pagi yang indah di hari Minggu, matahari kini tak lagi malu-malu menunjukan kuasanya. Burung gereja berterbangan di atas awan, merpati sibuk mematuk makanan yang ada di halaman rumah, sedang di taman seorang nenek paruh baya sibuk merawat mawar agar tak mati tanpa memikir tentang hidupnya sendiri. Irfan dengan topi kodoknya keluar dari balik pintu.
 
“Nek, tong rawat bunganya aku mau ke kedai pa Soni? Kata Irfan sambil berjalan menujun kedai.
Setelah kejadian beberapa bulan lalu di masih saja menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi.
 
“Pa seperti biasa, kopi satu” kata irfan kepada pa Soni yang secara kebetulan bersaan dengan kalimat seorang wanita.
Irfan coba berpaling melihat asal suara itu, pelahan dan lagi-lagi air matanya jatuh membasahi pipi
 
“Santi, apa kabar, lama tak melihatmu?” tanya Irfan gugup sambil mendekati gadis tadi yang tak lain adalah Santi.
 
“Irfan, kamu apa kabar, aku baik-baik saja, aku juga baru saja menikah” jawab Santi
 
“Suamimu mana, selamat atas keluarga barumu’ jawab Irfan pelan
 
“Itu dia” jawab Santi sambil menunjuk Afin yang duduk di tempat biasa Irfan
 
“Kamu tahu, dia juga memliki hibi yang sama dengan kamu, dia sangat meyukai kopi” lanjut Santi dengan sedikit senyuman yang dia berika pada irfan.
 
Senyum, yang senyum itu, kembali menghantuinya.

Taga, Selasa, 05 September 2017
Oleh: Klaudius Masianus Juwandy
Mahasiswa STKIP Santu paulus ruteng Prodi Dikbindo Semester VI

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: KOPI DAN KENANGAN
KOPI DAN KENANGAN
https://4.bp.blogspot.com/-9hKJXeyRSwQ/WbfwZ-CKDzI/AAAAAAAABao/T3NcoA3LmUAG4bAUOS7Oac99OUcG-pLlgCLcBGAs/s320/Kopi%2Bdan%2BKenangan%2BMarjinnews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-9hKJXeyRSwQ/WbfwZ-CKDzI/AAAAAAAABao/T3NcoA3LmUAG4bAUOS7Oac99OUcG-pLlgCLcBGAs/s72-c/Kopi%2Bdan%2BKenangan%2BMarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/09/kopi-dan-kenangan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/09/kopi-dan-kenangan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy