Imam dan Seorang Gila
Cari Berita

Imam dan Seorang Gila

14 September 2017

Engkau bersahabat dengan orang kaya dan para pejabat, kau hibur mereka denga kata-kata indah dan bersantap bersama mereka. Engkau tidak menghardik kesalahan mereka dan mereka kau biarkan hidup dalam kesalahan mereka. Banyak umatku yang miskin dan menderita namun engkau sekali-kali tidak melawat mereka (Gambar: Istimewa)
Alkisah di sebuah paroki miskin hiduplah seorang imam dan si gila. Setiap hari si gila akan berkeliling paroki sambil membawa kitab suci dengan pakaian compang camping dalam kondisi tidak terawat. Setiap kali si gila berjumpa dengan warga paroki ia akan berteriak dengan lantang: “bertobatlah!  kerajaan Allah sudah dekat”. 

Ia tidak punya keluarga dan sanak saudara, tidak punya rumah untuk berteduh, ia bertahan hidup dengan memakan tumbuhan dan serangga, sesekali warga paroki yang iba padanya memberinya makan. Ia sering diganggu oleh anak-anak dan menjadi tontonan yang lucu bagi warga paroki. 

Suatu ketika si gila meninggal, pada saat yang sama di sebuah rumah sakit katolik sang pastor paroki menghembuskan napas terakhirnya. Ketika dalam perjalanan ke surga, seorang berpenampilan gelandangan menghampiri si gila dan sang imam. Ia menjabat tangan sang pastor, sementara si gila dipeluk dan diciumnya bahkan ia menggendong si  gila.

Sang pastor mempercepat langkah tidak ambil pusing dengan peristiwa itu, dari kejauhan cahaya gerbang surgawi sudah tampak. Sementara si gila dan orang yang menggendongnya berjalan lamban sambil menikmati sukacita, sang pastor sudah sampai di depan gerbang. Dengan sedikit merengut sang penjaga gerbang bertanya pada sang pastor. 

“Siapa engkau?” dengan lantang sang imam menjawab "Aku ini hamba Tuhan!"

 Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangan sang imam, “Aku Tidak Mengenalmu!”

“Tuhan!” Sambil memberi hormat, Petrus si penjaga gerbang menyapa sosok yang berdiri di belakang sang imam.

Sang imam terperanjat, sosok tersebut adalah Yesus, gelandangan  yang tadi menjabat tangannya. Imam pun berlutut dam menyembah sambil berkata. 

"Pada saat aku hidup aku mempersembahkan hidupku padamu. Aku tidak menikah, dan tidak menyentuh wanita. Aku bersumpah hidup miskin, dan taat pada pimpinan gembala. Aku melayani sakramen setiap saat bagi umat di paroki. Aku berkotbah setiap hari minggu dihadapan umat yang kau percayakan padaku. Bagaimanakah Engkau tidak mengenal aku? Sementara orang gila ini! Engkau rangkul, dan Engkau gendong?".

Yesus tersenyum Lalu berkata, "setiap orang yang mengaku hambaku pasti mengenal aku, tapi ketika ku jabat tanganmu engkau tidak mengenal aku, sementara orang ini yang kau anggap gila memeluk dan mencium aku karena dia mengenal aku. Aku berkata kepadamu, ketika engkau hidup, engkau memiliki rumah untuk berteduh, makananmu tercukupi. Engkau tidak pernah merasakan dinginnya malam, derasnya badai, sebab engkau tinggal di rumahmu yang nyaman. Setiap kali engkau berbicara atas namaku orang mendengarkanmu,  mereka kagum denganmu, menghormatimu dan mempersembahkan hasil terbaik mereka untuk mencukupi hidupmu. Engkau bersahabat dengan orang kaya dan para pejabat, kau hibur mereka denga kata-kata indah dan bersantap bersama mereka. Engkau tidak menghardik kesalahan mereka dan mereka kau biarkan hidup dalam kesalahan mereka. Banyak umatku yang miskin dan menderita namun engkau sekali-kali tidak melawat mereka. Banyak diantara umatku yang tersesat namun engkau tidak mencari mereka. Aku berkata kepadamu, engkau mencintai "gereja buatanmu" dan berpaling dari umatku, engkau mengetahui aku namun tidak mengenal aku!" dan untuk semuanya itu, engkau sudah mendapat upahnya. 

Yesus berpaling dan mengarahkan pandangannya pada si gila lalu berkata. "Lihatlah hambaku ini, semasa hidupnya  ia dibuang sanak saudaranya, ia dihina dan dikucilkan. Ia makan dari tumbuh-tumbuhan di padang, dan minum dari air sumur para penduduk. Ia tidak mendapat sumbangan. Angin, badai, hujan lebat, teriknya matahari menyiksa dirinya siang dan malam. Ia tidak punya tempat untuk berteduh dan pakaian yang layak. Namun lihatlah, ia menjadi kesenangan bagi anak-anak dan penghibur mereka yang miskin papa. Ia meneriakan pertobatan pada setiap orang yang ia jumpai siang dan malam. Ia mewartakan kerajaanku kemana pun ia melangkah. Ia lah hambaku yang sesungguhnya dan aku mengasihinya.

Setelah Yesus berkata demikian, ia melangkah memasuki gerbang surgawi sambil menggendong hamba yang dikasihinya "si gila", dan dari belakangnya pintu surga pun ditutup. 

Oleh: Stenly Jemparut