Gereja, Demokrasi, dan Kelembagaan

Bagaiaman pun teriakan penderitaan dari umat tidak bisa ditutup-tutupi lagi, walau pun demikian gereja tidak bisa sepenuhnya disalahkan, apalagi secara serampangan dituduh sebagai penyebab kemiskinan (Foto: Andi Andur/marjinnews.com)
Polemik kemiskinan dan keterbelakangan membingkai wajah Gereja Katolik Flores. Gereja tidak hanya hadir bahkan menjadi bagian dari struktur kemiskinan itu sendiri. Namun untuk semua itu megahnya katedral, dan indahnya gereja-gereja paroki, ditambah biara-biara yang berdiri kokoh berhasil menyuguhkan realitas lain betapa gereja ingin memanipulasi realitas kemiskinan itu. Untuk mereka yang seumur hidupnya belajar berteologi situasi ini akan ditepis dengan pernyataan "ini ialah persembahan terindah untuk Tuhan".
 
Bagaiaman pun teriakan penderitaan dari umat tidak bisa ditutup-tutupi lagi, walau pun demikian gereja tidak bisa sepenuhnya disalahkan, apalagi secara serampangan dituduh sebagai penyebab kemiskinan. Gereja perlu dipaksa untuk mereformasi diri  bukan hanya reformasi simbolis tata upacara agar mampu secara realistis hadir sebagai wahana pembebasan umat bukan pusat pemasaran sakramen.
 
Gereja perlu kembali pada kesadaran kemanusiaan sebelum melompat pada tata aturan kelembagaan. Tidak bermaksud untuk menyangkal struktur kepemimpinan yang hirarkis para klerus melainkan agar posisi umat dalam sebuah persekutuan iman benar-benar disadari peranan dan fungsinya.
 
Pasca konsili vatikan ke 2, struktur kepemimpinan dalam diri gereja katolik mengalami perubahan. Pada awalnya struktur kepemimpinan berbentuk piramida dimana para klerus adalah pemimpinnya dan umat hanya menjadi pengikut, dalam perubahannya diganti dengan model melingkar dimana semua orang dalam lingkaran adalah memiliki kedudukan yang sama dengan tugas dan tanggungjawab masing -masing.
 
Para klerus memiliki fungsi sebagai gembala jiwa melalui pelayanan sakramen  memenuhi kebutuhan rohani umat, bukan kebutuhan jasmani. Kebutuhan jasmani dalam hal ini adalah sarana dan prasarana yang menunjang dan menopang kehidupan umat. Maka atas dasar prinsip inilah seharusnya kehidupan para klerus berbanding lurus dengan kehidupan umat. Namun kenyataannya terbalik, para klerus selain menikmati status sosial yang tinggi, juga punya fasilitas yang bisa dikatakan berlebih.
 
Penghormatan umat muncul semata- mata karena ilusi materialisme dan tahayul akan kuasa ilahi yang ada di tangan para imam. Sampai pada titik ini, kemampuan teologi  menunjukan jalan pencerahan, pembebasan dan sebagai sarana keselamatan perlu dipertanyakan. Allah adalah polisi moral yang mengawasi perilaku setiap umatnya siang dan malam, semua orang harus tunduk dan taat termasuk pada hal-hal yang tidak difirmankanNya tapi diwajibkan para gembalanya. Gereja kesulitan  menyelaraskan idea tentang kebijaksanaan cinta kasih ilahi dengan praksis kehidupan manusia yang kompleks.
 
Allah meminta manusia untuk menjauhi mamon (segala bentuk pendewaan materialism) dan hidup seturut sabda kebenaran yakni hidup miskin (mampu mengambil jarak) di tengah dunia yang serba materialistis. Namun para klerus kita malah mengambil jalan kompromi dengan menggunakan status penggembalaannya untuk kesejahteraan pribadi, sementara domba-domba dibiarkan terpencar mencari jalan keselamatannya sediri dalam keadaan miskin dan tertindas.

SEMANGAT KOMUNITAS
Gereja adalah sebuah komunitas bukan individu yang berdiri sendiri (Kis 2:44-45). Sikap saling tuding atau mencari kambing hitam adalah tanda bahwa semangat kehidupan komunitas sudah dicedreai oleh semangat matrialistis. Kemiskinan yang melanda Flores adalah akibat dosa dan jalan kompromi yang dipilih para gembala yang secara individu menjadi pragmatis terhadap sabda Allah dan tidak benar-benar mau terlibat dalam pergulatan kemiskinan umat.
 
Semangat komunitas memiliki nilai demokratis,  kehidupan institusi gerejawi harus di gugat untuk mengembangkan semangat yang menunjang keadilan sosial melalui cara-cara kelembagaan.  Mekanisme kelembagaan komunitas inilah yang perlu dikembangkan melalui pengambilan keputusan bersama dalam kehidupan jemaat. Singkat kata, pengembangan wacana gereja mandiri, jangan hanya diartikan secara sempit berupa kemandirian ekonomis semata.
 
Misalkan saja, seorang imam tidak memiliki hak untuk mendirikan bangunan gereja sebelum jemaat atau umat dalam sidang umum pastoral menyetujuinya. Umat yang akan memutuskan apakah bangunan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak. Begitupun besaran  jumlah iuran mandiri harus ditentukan oleh umat.
 
Pengelolaan aset gereja juga perlu menggunakan asas solidaritas dan subsidiaritas. Dewan Pastoral Paroki bukan tangan kanan klerus melainkan lembaga umat yang mengorganisir kehidupan komunitas, mereka harus memiliki kemampuan menjabatani dan mengakomodir setiap kebutuhan umat dan klerus dalam hal material komunitas termasuk pengelolaan aset gereja. Artinya, warisan kekayaan gereja bukan lagi menjadi otoritas seorang klerus, melainkan milik semua umat yang dikelola secara bersama-sama. Sementara kebutuhan hidup seorang klerus tentu sudah kewajiban umat.
 
Dewan Pastoral Paroki terdiri dari awam yang ditunjuk oleh umat dan klerus untuk mengelola kehidupan komunitas secara profesional, dengan didasarkan pada prinsip–prinsi yang tertuang dalam ajaran sosial gereja (Armada Riyanto “Katolisitas Dialogal” Ajaran Sosial Gereja” ,2014).
 
Pertama, prinsip hormat akan martabat dan hidup manusia. Setiap manusia dalam komuniatas gereja ialah anak-anak Allah yang harus ditempatkan dan diperlakukan dengan setara, tanpa membedakan status, ras, golongan, dan jenis kelamin maupun besaran sumbangan yang diberikan kepada “gereja”. Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa adapaun hak yang melekat pada diri seorang manusia ialah, hak keamanan diri, hak atas integritas moral dan fisik, hak atas sarana yang cukup untuk hidup baik hak atas makanan, perumahan, kesehatan, dan hak atas jaminan sosial difabel, janda usia tua, saat menganggur, hak atas nama baik, hak atas kebebasan beragama dan hati nurani, hak untuk berpendapat, hak atas informasi yang benar, hak atas pengakuan kebudayaan, hak atas pendidikan, hak atas kerja dan upah yang adil, hak untuk berkeluarga atau selibat, hak untuk berimigrasi, hak atas perlindungan hukum, hak atas kewarganegaraan.
 
Ke-dua, prinsip bebas berasosiasi. Manusia adalah mahluk sosial. Relasi yang harus dihidupi dalam komunitas kristiani ialah relasi yang mendukung kehidupan bersama. Komunitas yang konkret mewujudkan nilai-nilai solidaritas manusia adalah keluarga.
 
Ke-tiga, prinsip partisipasi aktif. Manusia merupakan mahluk berakal budi. Manusia berpikir, bekerja, dan merencanakan masa depannya. Partisipasi merupakan hak sekaligus keluhuran martabat manusia. Prinsip ini menjadi perwujudan keluhuran manusia, karena dalam tata hidup bersama semua orang diandaikan secara aktif ambil bagian dalam mengambil kesejateraan bersama.
 
Ke-empat, prinsip perlindungan dan pemihakan sesama yang miskin dan lemah. Ketika komunitas gerjawi merencanakan anggaran pembangunan, preferensi pertama harus terarah untuk membantu mereka yang miskindan lemah agar memiliki peluang yang lebih besar untu meningkatkan taraf kehidupannya. Dalam komunitas grejawi keberpihakan akan menampilkan keadilan jika yang yang miskin dan lemah mendapat peluang lebih untuk mengangkat dirinya.
 
Ke-lima, prinsip tanggung jawab pemelihara. Manusia dipanggil untuk memelihara dan menjadi penjaga yang bertanggung jawab atas lingkungan hidupnya. Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi realitas yang harus segera ditangani oleh komunitas grejani.
 
Ke-enam, prinsip subsidiaritas. Secara konkret prinsip subsidiaritas memiliki arti pembagian wewenang dan tanggung jawab bagi masing–masing individu dalam komunitas. Seorang imam tidak perlu mengurusi hal yang bukan menjadi tugasnya, seperti tanah gereja sejauh itu bisa diurus oleh umat melalui dewan pastoral paroki.
 
Ke-tujuh, prinsip solidaritas. Hidup manusia berada dalam sebuah tatanan komuniter. Bersikap solider adalah cetusan dari solidnya sebuah komunitas. Menjadi solider terhadap yang miskin sebagai bentuk panggilan komunitas kristiani harus mnejadi visi gereja. Komunitas kristianoi harus sadar bahwa kemiskinan merupakan bentuk ketidakadilan struktur sosial yang harus diatasi.
 
Ke-delapan, prinsip kesederajatan dan keadilan manusiawi. Kesedrajatan mengisaratkan perilaku adil. Semua manusia memiliki potensi untuk mengambangkan diri dan bebas dari keterpurukan. Prinsip ini melampaui dan berusaha melawan utilitarinisme.
 
Ke-sembilan, Kesejahteraan bersama. Kesejateraan adalah hak setiap manusia yang tidak bisa dikurangi dan bahkan wajib dipenuhi oleh negara maupun oleh komunitas.  Kesejahteraan harus terus diupayakan dalam kehidupan bersama dan menjadi prioritas untuk mengubah kualitas hidup masyarakat. Kesejahteraan yang dimaksud bukanlah dalam artian distribusi materil melainkan lebih pada penataan sistem yang adil.
 
Ke-sepuluh, prinsip dialog. Dialog adalah cara untuk menggapai harapan bersama. Dengan mengkomunikasikan kepentingan secara terbuka dan rasional. Semangat dialog bukanlah semangat kekakuan ideologis melainkan semangat untuk saling mendengarkan dan secara bersama menyeiramakan langkah bersama untuk mencai tujuan yang dicita-citakan berama.
 
Ke-sebelas, prinsip damai. Damai hanya dikaitkan dengan relasi dengan yang lain.Damai yang dimaksudkan adalah bentuk damai yang kreatif, interrelasional, dan dinamis. Damai mensaratkan untuk lepas dari ego sektoral dan semangat cinta diri yang tinggi.
 
Ke-dua belas, prinsip karitas. Kasih adalah kesempurnaan hidup. Dalam tata masyarakat yang adil, karitas selalu dibutuhkan, ia tidak bisa lepas dari kehidupan manusia itu sendiri. Dimana ada manusia maka disitu ada kasih. Menurut Paus Benediktus ke XVI menjadi puncak dan fondasi tata kehidupan bersama.
 
Sebagai lembaga, gereja adalah ujung tombak perjuangan umat. Gereja yang mampu secara baik menata kelembagaanya akan lebih peka denga persoalan sosial yang dihadapi umat. Lebih mampu menilai situasi masyarakat secara mendalam dan menghasilkan aksi nyata ketimbang ratapan  di mimbar. Bayangkan jika seorang bupati yang merupakan warga sebuah paroki dipanggil dan dinasihati oleh dewan gereja terkait kebijakan yang dibuatnya, atau lingkup yang lebih kecil, ketika seorang kepala desa dibantu dengan gagasan pembangunan desa oleh dewan pastoral. Bayangkan jika demokrasi kelembagaan seperti ini terwujud, yakinlah kita tidak butuh lembaga yang bernama DPR untuk memperjuangkan hak warga, gereja melalui mekanisme kelembagaannya sudah bisa menjadi wakil langsung umat untuk memperjuangkan nilai-nilai.
 
Pengembangan tata cara hidup menggereja dengan model yang ditawarkan tidak hanya berlaku bagi gereja yang miskin. Konsep yang mendorong nilai demokratis harus dikembangka. Gereja Katolik dalam situasi apapun. Hanya dalam tatanan demokratislah fungsi kelembagaan gereja akan berjalan maksimal .
 
Martabat  manusia sebagai ciptaan mengutamakan kesetaraan. Kesamaan bertindak dan berprilaku serta memposisikan sesama dalam komunitas gereja seturut terang kitab suci (Kej 1: 27)
 
Maka kita perlu untuk merevormasi pendidikan katolik, mulai pendidikan para calon imam, katekis, maupun reformasi model pendidikan di universitas-universitas katolik yang selama cendung ekslusif dan apatis terhadap realitas sosial yang ada.
 
Gereja merupakan komunitas surgawi yang ada di dunia itu berarti semua gerak dinamika kehidupan menggereja harus realistis. Bersikap diam dan bertindak prakamatis terhadap realitas sosial adalah bentuk penolakan panggilan Ilahi dan pengkhianatan terhadap komitmen berkomunitas dan semangat individualisme ( Yes 33:7-9).
 
Oleh: Yospeh Stenly Agung Jemparut
Komisariat Daerah III PMKRI

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,275,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Gereja, Demokrasi, dan Kelembagaan
Gereja, Demokrasi, dan Kelembagaan
https://4.bp.blogspot.com/-AkI-4vmIk7U/WbgF1PABG8I/AAAAAAAABa4/watMBcgI5QE02GZqfFgN5zCNk_ppKUdNwCLcBGAs/s320/IMG_1152.JPG
https://4.bp.blogspot.com/-AkI-4vmIk7U/WbgF1PABG8I/AAAAAAAABa4/watMBcgI5QE02GZqfFgN5zCNk_ppKUdNwCLcBGAs/s72-c/IMG_1152.JPG
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2017/09/gereja-demokrasi-dan-kelembagaan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/09/gereja-demokrasi-dan-kelembagaan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close