Bersua Kata, Kumpulan Puisi Erlina Mamus
Cari Berita

Bersua Kata, Kumpulan Puisi Erlina Mamus

25 September 2017

Kalau cinta mampu berbicara, mungkin sulam rindu yang kuberi mampu kau pahami butirnya (Gambar: Istimewa)
AKAN ADA RASA

Ketika cinta sudah tumbuh di hati
Itu takan mudah untuk diubah
Karena segala rasa ada, dan berharap tetap
Cuma hati yang akan rasa semuanya

Adanya aku ini Cuma bersamamu
Tergulirnya waktu semua tak  ada
Akankah rasa masih ada
Walaupun hinggap sebentar

Secuil nada akan ku lantunkan
Menemani segala rasa yang tak pasti
Semua terbeban di hati
Tak kunjung mengerti akan rasa



HATI SERIBU TAHUN

Kemana hati ini hinggap menetap
Walupun sudah rapuh seribu tahun
Ingin mengobat, tapi sudah terlalu luka
Hati ini tetaplah hati seribu tahun

Ingin melangkah dan menetap
Tapi…hati ini tetaplah hati seribu tahun
Menetap dan menemani hidup
Membara seperti api-api
Seribu cahaya berkunjung di hati
Tapi takan bisa menemani hati seribu tahun
Disini masih tersimpan bintang-bintang gemerlap
Menemani hati seribu tahun


SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi menemaniku disini
Menerawang jauh yang tak pasti
Menghilangkan semua beban yang tersesak
Menghapus memori tentang sesuatu

Hanya Secangkir kopi yang mengerti semuanya
Semua penat akan musnah seketika
Menghilang tanpa meninggalkan jejak
Itu semua hanya secangkir kopi
Secangkir kopi menemaniku disini
Membuat aku merenung diri sendiri 
Mengambil sesuatu tanpa beban
Tapi semua musnah karena secangkir kopi
SINAR DUNIA

Tatapan mata sayu masih memancar terang 
Memandang bangga kepada orang tercinta
Sudut mata indah memancarkan butiran kecil seperti salju
Terukir senyuman yang tak ada bandingnya
Sejuta rasa bangga melihat mereka tersenyum bahagia

Sorotan matanya membuat kita melangkah tenang
Belaian tangannya membuat kita terasa nyaman
Doanya menemani kita sepanjang waktu
Semuanya itu dia berikan untuk kita anaknya
Dengan iklas tanpa pamrih
Bibirnya memberikan sejuta senyuman
Melihat kita sudah berdiri kokoh
Menyambut kita dalam dekapannya
Dan menyirami kita dengan air mata haru
Hanya kata terimakasih yang mampu kita ucapkan

KELUARGA

Sepetak sawah kau hidupkan aku
Sepiring nasi kau besarkan aku
Segubug rumah kita tinggal bersama
Membagi suka maupun duka

Kini langkah menghantarku pergi jauh
Membawa semua angan-angan
Meninggalkan semua kenangan
Dan Meninggalkan semua keluarga
Lambaian tangan  dan doa menghantarku pergi
Menemani hati yang masih tersesak
Berat rasanya melangkah jauh
Tapi semua sudah di rencanakan 


REKENING GENDUT

Makananmu bukan lagi empat sehat dan lima sempurna
Tapi ribuan sehat dan ribuan sempurna
Kediamanmu megah melebihi istana-istana
Itu karena rekening gendut

Kata-katamu terdengar bijaksana
Senyummu terlihat iklas
Cara berdirimu kokoh seperti besi
Tapi itu hanyalah iklan belaka
Hatimu sudah di penuhi oleh rekening gendut
Pikiranmu sudah di kuasai oleh rekening gendut
Utangmu  sudah dilunasi oleh rekening gendut
Hidupmu benar-benar rekening gendut


SEGULUNG KERTAS

Segulung kertas membawahku kedunia nyata
Menyampaikan segala impianku
Impian yang selama berapa tahun terpendam
Kini terbongkar oleh segulung kertas

Segulung kertas yang tak bisa di tandingi harganya
Semurni emas yang berkilau memancarkan sinarnya
Memamerkan semakna nilai keindahan
Merenung sedalam lautan tentang kenyataan
Segulung kertas telah membawa nama ke dunia nyata
Mengharumkan semua sanak keluarga
Melambungkan impian dengan segulung kertas
Menyampaikan inspirasi dengan segulung kertas

SETITIK TERANG

Setitik terang dalam hidup hanyalah engkau
Yang membawah terang dan gelapnya hidup hanyalah engkau
Jika separuh kunci terangmu kau berikan kepadaku
Semua terang kehidupan akan terpancar sinarnya

Sinar yang akan menerangi jalan kehidupan
Walaupun setitik embun yang hilang 
Tapi seberkas cahaya yang engkau berikan
Memberikan senjata kekuatan kehidupan
Setitik hujan membasahi terang itu
Tapi takan bisa musnah walaupun sekejap
Setitik terang masih saja terang bederang
Menyinari gelapanya kehidupan

TAKKAN MENGERTI

Menatap dengan mulut terkunci melihat dirimu
Terdiam sepi tanpa mengedip
Terukir senyum di bibirmu yang begitu indah
Desiran ombak takan bisa mengerti dengan semuanya
Segenap rasa terbaur dalam dada

Engkau tak pernah mengerti dengan semuanya
Tak pernah mengerti dengan kata-kata indah
Tak pernah paham dengan lantunan nada
Yang sering engkau dengar dan merasakan
Tapi semua hanyalah sia-sia ku berikan
Engkau tetaplah tak mengerti
Kadang aku bertanya dalam keheningan
Dengan apa aku mengungkapkan semuanya

Tapi keheningan tetap saja tak menjawabku
Kadang aku tersenyum supaya engkau bahagia
Tertawa bahagia dalam kesedihan
Tapi engkau masih tetap tak mengerti
Dengan apa aku bisa mengatakannya
Atau kepada siapa aku mengatakannya
Hanya pertanyaan yang tersesak di dada
Engkaupun masih tak mengerti
 
Oleh: Erlina Mamus
Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Tujuh Belas Agustus, Surabaya