Solidaritas Hati
Cari Berita

Solidaritas Hati

23 August 2017

Puisi sederhana berjudul Solidaritas hati menggambarkan karakter manusia ditengah dunia masa kini. Manusia seringkali terlalu ingin memuaskan hasrat hatinya dengan segala kenikmatan dan kemudahan yang ada dalam dunia (Foto: Dok. Pribadi)
Manusia.....
Dalam kemanusiaanya tak akan mampu menghapus pribadinya..
Dia terus bergerak mengikuti naluri dan hasrat dalam dirinya...
Langkah yang ia Jejakkan pada tempat dimana ia berdiri......
Memberi suatu pertanda bahwa hidup memanglah harus seperti ini
        
        Baginya kehidupan ini seperti sebuah lukisan di atas kanvas..
        Lukisan yang penuh dengan warna-warni
        Yang memberi keindahan, juga mempercantik setiap sudut kanvas
        Memanjakan mata, menyegarkan hati dan  jiwa..

Seindah inikah lukisan kehidupan manusia...
Masihkah warna-warni memberi keindahan pada setiap
sudut kanvas hidup manusia..
Lupakan.....lupakan semua 
Sebab hanya manusia-manusia lupa yang masih memiliki indahnya hidup
Dan mereka yang ingat dan telah kehilangannya kini mencari
dan tidak lagi menemukannya...

        mereka yang  kehilangan, bersembunyi dalam ketakutan dan kengerian
        Mereka yang dihantui dan di kejar-kejar oleh kejamnya arus dunia yang deras...
        Terbawa dan hanyut entah ke mana, hilang pergi entah di mana..
        Tiada lagi keindahan hidup, tiada lagi kebahagiaan..tiada tawa gembira

Menangis......ya menangislah hiburan mereka
Pekik dan perih kesedihan adalah warna baru bagi mereka
Warna kelam, gelap, pekat...hitam tidak berwarna
Hati tak lagi bisa membahasakannya dalam kata-kata
Mengutarakannya dalam untaian makna pun rasa tak berguna

        Seperti habis tertumpah....
        Meninggalkan bayang-bayang kabur tentang asa masa lalu

Harapan semu seakan meraja dan menjadi tuan atas kenyataan
Mimpi buruk kini menanti,
melambaikan tangan, tersenyum memanggil...

adakah yang melihat????
Adakah yang mendengar????
Ratap tangis pilu anak manusia
Atas seluruh perkara yang menimpanya
Mungkin sudah terlalu jauh
terhanyut meninggalkan dunia dan keindahannya..
       
        Terlalu pagi untuk meratap...
        Meratap drama panjang pahitnya hidup...
        sekian banyak kisah dengan aneka judul dan rentetan adegan
        terpampang dalam ingatan..terkubur sebagai luka

barangkali sudah saatnya...
manusia saling memandang...
mamandang dengan tatapan tajam dan dalam
menguak rahasia diri yang terlupa, yang kabur karena kabut hasrat dunia
mengikis semua penyakit-penyakit kejahatan yang mengakar pada sendi-sendi jiwa

       
        manusia membuka mata...mata hati dan jiwa..
        lihat dan pandanglah...

pandanglah  dengan pandangan manusia
dunia mempertontonkan kebodohanmu...
dunia tertawa melihat kelucuanmu...
kamu...kamu boneka dunia yang sedang digerakkan kian kemari...
angkat kepalamu...

saatnya berlari...sandiwara telah selesai
para boneka meninggal pentasnya dan berganti peran..
hasrat membabi buta telah berubah menjadi iba seribu rasa
kebencian terhadap sesama berubah menjadi cinta seribu makna
keegoisan, rasa angkuh, telah pergi meninggalkan tuannya

kini... hanya manusia seutuhnya...
manusia yang membuat dunia mengerti mengapa dia (mnanusia) ada
mengapa dia hidup, hadir dan bergerak
dia ada untuk dia-dia yang lain, yang ada bersamanya sebagai pelaku dunia
dan berani berkata untuk dunia “ aku adalah aku..
ketika aku berani menjadi aku yang lain......”
       
Sinopsis Puisi 
Puisi sederhana berjudul Solidaritas hati menggambarkan karakter manusia ditengah dunia masa kini. Manusia seringkali terlalu ingin memuaskan hasrat hatinya dengan segala kenikmatan dan kemudahan yang ada dalam dunia. Baginya dalam prinsip hidup, apapun perlu dinikmati tanpa perlu memikirkan akibat dari pemenuhan hasrat yang berlebihan (bdk aliran Hedonisme).  Dunia baginya bgtu indah bagaikan lukisan di atas kanvas yang penuh dengan warna. Oleh penulis manusia seperti ini  di sebut “ manusia Lupa”. Lupa akan yang lain, lupa bahwa hidup hanya sementara, dan lupa bahwa masih ada yang menderita dan lupa bahwa kenikmatan dan kebahagiaan bukanlah segalanya.

Selanjutnya penulis mendeskripsikan secara panjang lebar bagaimana “manusia-manusia ingat” ada dalam dunia. Mengapa disebut manusia ingat?? Karna mereka telah meninggalkan suasana bahagia dan damai dan kini tinggal dalam penderitaan yang mencekam. Yang dapat mereka lakukan hanyalah MENGINGAT kebahagiaan yang pernah mereka rasakan. Hampir sepertiga dari puisi ini mengungkapkan betapa penderitaan yang di alami oleh manusia ingat sangat menyiksa sampai sampai dikatakan tangisanlah hiburan mereka.

Pada akhir puisi jelas terungkap bahwa melalui kontak dengan dunia, manusia lupa menyadari bahwa banyak saudara-saudaranya yang tidak mengalami kebahagiaan dan hidup sengsara.. maka dengan kesadarannya ia mulai mengubah pola pikir dan mentranspormasi diri mengambil bagian dalam penderitaan sesama. Ia yang dahulu adalah boneka dunia berganti peran dan ikut mersakan (solider) penderitaan sesamanya...

Dalam kaitannya dengan budi pekerti: sebagai manusia yang membangun hidup bersama dalam berbagai aspek:  suku, agama, ras, bangsa, warna kulit, kita tidak boleh membeda-bedakan atau mementingkan diri kita sendiri, apalagi berbahagia diatas penderitaan orang lain. Lihat sekitar kita banyak saudara kita yang menderita, sengsara. Kita harus membangun sikap peduli, sikap ikut prihatin, sikap berbelarasa, sikap ambil bagian dalam penderitaan, bahkan sikap berbagi dan saling menolong. Semua terangkum dalam sebuah kata SOLIDARITAS. Solidaritas muncul akibat krihatinan mendalam atas orang yang menderita. Solidaritas muncul dari HATI.

Oleh: Sr. Maria