Sepenggal Senja untuk Si Pecinta Kopi
Cari Berita

Sepenggal Senja untuk Si Pecinta Kopi

2 August 2017

Kukirimkan padamu sepenggal senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala (Foto: Tasya Harman)
Pada setiap senja ketika angin yang berhembus mesra dengan sabar menyambar tanpa sedikit pun menoleh kiri dan juga kanan, pikiranku tertuju pada sosok dibalik tarian lembut asap kopi berbau semerbak itu. Senyumannya tercurah lembut bersama bayangan lampu neon yang menyala redup. Entah mengapa kehadirannya begitu menggelora dalam dada. Merasuk sukma kalbu yang terbang bersama awan entah kemana.

Aku datang dari tanah yang jauh. Singgah di sebuah surga tanpa cela, menikmati setiap ketenangan alamnya yang membuatku selalu mengigau. Ruteng, sebuah kota dengan segala kesejukan dan nuansa cinta karena ramah masyarakatnya. Meski kadang tersiksa oleh dinginnya yang menggebu, ada sesuatu yang membuatku selalu ingin pulang kesana. 

Pada setiap kesempatan, potret kehidupan yang apa adanya selalu menghantui pikiranku. Berbagai rekaman kamera kecil yang selalu aku bawa, senyum mesra selalu menyapa. Kenikmatan setiap tetes kopi hangat bersama pisang goreng gurih menggoda lidah untuk mampir pada sebuah kedai kopi tepat di dekat menjulangnya tiang-tiang Gereja.

Aku selalu ingin pulang kembali kesana. Mengingat setiap jengkal cerita yang terukir bersama tapakan kaki yang manja menjadi sebuah kerinduan tak terbendung. Apa lagi jika mengingat si pecinta kopi berlesung pipi itu. Ragaku tak sanggup mereka-reka, apa jadinya jika dia tidak mengingatku? Seorang pecundang yang bekerja sebagai kuli tinta. Dari tanah yang jauh pula.

Namanya Tasya. Gadis cantik pemilik senyum indah yang selalu menyeduh kopi untukku. Dia dipanggil Enu oleh ibunya, disapa molas oleh teman-temannya yang laki-laki. 

Bukannya gegabah, tetapi apalah artinya sebuah pertemuan jika tidak meninggalkan sejumput kenangan? Apa artinya sebuah senyuman jika tidak menyampaikan sebuah pesan bermakna ganda dari gadis cantik seperti dirinya? Apalah...

Jika kalian menjadi aku, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Rasa yang sebenarnya harus diungkapkan haruslah dipendam dalam. Hasrat untuk memiliki sedikit saja senyumannya masih ada hingga sekarang. Tetapi, adakah dia tahu soal rasa itu? Adakah dia paham soal makna dibalik tatapan seorang bangsat pada setiap kali ia menyeduh kopi padaku? Sudahlah, aku hanya ingin menjaganya. Menjaga senyumnya, menjaga martabatnya sebagai perempuan yang aku hargai seperti ibuku.

Kalau boleh berkata jujur, maksudku menuliskan ini adalah untuk memberinya kejutan bahwa diam-diam kopi yang diseduhnya membawa kasiat hebat bagi peminumnya. Ruteng terlalu dingin untuk membuang kenikmatan secangkir kopi. Atau mungkin karena dia yang menyeduhnya maka hasrat untuk menikmati sejumput kopi itu muncul?

Aku sadar bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja jika kita berlaku jujur. Bukan hanya bagi orang lain, tetapi jujur juga dengan diri sendiri. Terutama soal rasa. Rasa untuknya yang membuatku selalu ingin pulang kesana walau untuk melihat senyumannya.

Maka dari situlah, ketika hasrat itu muncul aku menulis ini untuknya. Untuk dia yang selalu membuatku merindu. Untuk dia yang menyeduh kopi dengan cinta lewat senyumannya yang tulus. 

Tasya tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah engkau menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan.

Kukirimkan sepenggal senja ini untukmu Tasya, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Tasya, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. 

Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Tasya. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. 

Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Tasya. Kukirimkan sepotong senja untukmu Tasya, bukan kata-kata cinta.

Kukirimkan padamu sepenggal senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. 

Sepenggal senja yang aku padukan dengan secangkir kopi sambil membayangkan derai lembut rambutmu, sapa mesra senyummu dan cinta yang tulus dalam setiap tetes kopi yang engkau seduh kepadaku.

Tasya tercinta, suatu waktu jika kata-kataku mengusik dirimu dan mengganggu rutinitasmu. Buang saja surat ini. Tetapi, tetaplah menyeduh kopi untukku. Menyeduh cinta dalam ramuan hangat pekatnya sapa pagi. Kini aku bingung, harus kuakhiri bagaimana surat ini untukmu. Biarkan saja dia mengalir lembut seperti derasnya air hujan sore itu. Ketika engkau dengan penuh mesra bersandar dibahuku sambil berbisik, "Adakah sesuatu bermakna yang bisa aku berikan untukmu?".

Pertanyaan itu masih terngiang di telingaku hingga detik ini. Aku hanya bisa menarik napas dalam sambil tersenyum lirih dan memandang potretmu berkata, "Jangan pernah berhenti menyeduh kopi untukku, karena disitulah aku akan selalu mengingatmu".

Untukmu yang selalu memberiku sebuah ingatan akan kenangan, aku hanya mau bertanya, "Adakah engkau juga merindukanku, meski kini engakau harus menyeduh kopi untuk dia yang dipilih ibumu?"

Sampai ketemu lagi di Kota Dingin, Ruteng. Ijinkan aku pada waktu itu mengecup keningmu sebagai kenangan akan cintaku bersama remah kopi yang engkau bersihkan dengan air hujan mataku. Sepenggal senja ini hanya untukmu, si Pecinta Kopi bernama Tasya.

Oleh: Ecclesia Christi
Merangkai Kisah, Merajut Asah