Senja Terakhir Di Labuan Bajo
Cari Berita

Senja Terakhir Di Labuan Bajo

3 August 2017

Jika dengan melupakan diriku adalah cara untuk mengingat dirimu, maka cinta adalah kemanunggalan Di remang senja, rinduku masih belajar meng-eja tentang bahagia jingga atau kelabunya dusta dalam asmara (Foto: Elvy Tanggal)
Dalam diam yang beradu kenikmatan kerinduan, diatas jalan berdebu dengan lubang sana-sini langkahku menapaki jalan ini sendirian. Riak-riak air kotor sisa permandian masyarakat metropolitan kecil ini, menjadi musik terindah penghibur langkah. Anak-anak kecil berlari riang saling mengejar, ibu-ibu muda bermandi peluh menyiapkan diri untuk aksi diatas ranjang nanti malam, bapak-bapak sibuk mengatur kepulan asap rokok yang membubung lantas membiarkan dapur berhenti mengepul. Realitas tatapan mata yang tersaji nyata tentang kehidupan.

Isu-isu kecil hingga besar tersaji ria di media sosial, membuatku bosan mencari kesenangan di dunia maya yang awalnya nyaman mencari kata, betah ditinggal kenikmatan. Apa lagi sejak kepergianmu bersama angin, dan hilang membusuk bersama daun benar-benar menghancurkan hatiku. Kaper hingga Kampung Ujung menjadi saksi perjalanan cinta kita. Kecupan mesra dalam pesona alam Labuan Bajo membuat kepala ini pecah berkeping-keping. 

Andai engkau tahu, bahwa meramu rindu tentangmu pekerjaan mudah jika engkau sekali saja memberi kabar. Sekali saja memberi alasan mengapa engkau menghilang. Itu saja, memangnya susah?

Kini sudah semakin dekat. Pesona senja itu kembali muncul di ufuk barat. Aku siapkan pena untuk membunuhmu. Aku siapkan kertas sebagai kain kafan pembungkus cintamu itu. Sudah terlalu jauh aku melangkah, menapaki setiap hinaan dan cacian akan sesuatu yang membuncit di dalam perutku.
Mendengar teriakan dan umpatan soal kesukaanku merindukanmu meski itu orang lain. Aku memang pramuria, wanita jalang yang mungkin tampak seperti seonggok daging tak bermakna. Meladeni nafsu-nafsu pemburu selangkang di kala malam dan berdesah nikmat bersama miras dan peluk hangat yang membabi buta pakainku.

Sekarang ini, ketika tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi tujuan yang bermakna. Dibawah kaki langit, sebelum semuanya berakhir pilu dan para pemburu selangkang itu berteriak soal namaku setelah senja ini berlalu tanpa sedikit pun aku menjawabnya. Aku menulis ini kepadamu, sebuah senja di bawah kaki langit. Semoga engkau membacanya dan mencariku dalam gelap tanah yang sedianya akan menjadi rumah terakhirku setelah mengembara cukup jauh.

Senja di kaki langit,
Jika dengan melupakan diriku adalah cara untuk mengingat dirimu, maka cinta adalah kemanunggalan Di remang senja, rinduku masih belajar meng-eja tentang bahagia jingga atau kelabunya dusta dalam asmara. Hanya sepi yang ku punya, sunyi mengajarkanku tentang ketabahan, setabah tanah yang di genangi air hujan dan apalah itu umur panjang, sehat yang meruah ataupun harta melimpah. 

Bila di senja ini saja aku masih tanpamu tanpa berfikir panjang hati ini memikirkanmu tanpa ragu dan tiada putus asa dalam benak ini senja abu-abu, terjemahkan tentang rindu yang telah punah. Ketika hati tergores sembilu, luka cinta teteskan darah Dibawah senja sore ini. Aku menemukan rindu diantara jingganya. 

Dimana dulu kita berpadu satu Mungkin senja tercipta, ketika Tuhan tersenyum bahagia Tengah aku menalar bahagia ini, menyandarkanku pada sebentik buaian mimpi dibalik tabir kehidupan sarat kejutan. ya, kau  ketika senja hadir aku mencoba meraba arti bahagia yang kau kemas, aku mencoba memahami setiap bait yang katanya itu bahagia.

Sebuah senja; di bibir samudera seseorang menanti jumpa, hingga pekat mengecup sukmanya, ia sadar semua sia-sia di balik senja, ada nestapa yang selalu berharap jadi cahaya ketika malam datang tanpa gemintang atau rembulan untukmu yang saat ini kurindu… Terima kasih untuk semua kasihmu, perhatianmu, pengertianmu, adalah yang terindah yang pernah ku dapat  Kenapa senja hari ini kelabu? Tak bisakah kau sedikit biru? Cukup hati ini saja yang pilu, menangis membenam rindu  Kau membuang semua nyerimu untuk senyumku, untuk tawaku dan untuk bahagiaku. 

Itulah caramu mencintaiku  Hanya mampu mengabadikanmu dalam rasa, melalui tinta, membekap ratapan kenangan. Kita yang telah usai. Seperti senja ini Untukmu yang kurindu… Berbaringlah, lelaplah dalam letihmu. Bayangkan hadirku untuk tenangkanmu. Biarkan kuterjaga untukmu berlayar arungi samudera rindu. 

Melintas cakrawala hati, menuju nirwana cintamu Senja kian menua, di matamu; cinta mengabadikan jingganya, janganlah menangis, kelabu mukamu; aku tak ingin menikmatinya Rama-rama bersayap madah hinggap lalu menetap di dada. Kelak, ia melahirkan cinta pada purnama ketiga Di sudut semesta, biru langit bermahkota senja membias jingga, ah benar saja tak selalu indah ia kutatap tanpa si gadis manja Berpayung pada hujan didekap oleh gigil. Seperti rindu yang tak hentinya memanggil. Mungkin ini akan menjadi senja terakhir di kota kecil, Labuan Bajo.

Oleh: Ecclesia Christi