Salamku Untuk Dinda
Cari Berita

Salamku Untuk Dinda

14 August 2017

Sementara itu, Dinda semakin pandai menahan air matanya dengan senyum. Aku tahu, Setiap kata dari mulutnya, caranya tersenyum bukan mewakili perasaannya, dia hanya ingin mencoba menguatkan aku (Gambar: Istimewa)
Sudah terlalu banyak buku tentang kesehatan yang sudah aku baca, rumah sakit sudah seperti rumah sendiri, baca artikel kesehatan di internet, tanya teman di media sosial, obat tradisional, sampai kepada tuan dukun, semua sudah aku lakukan atas saran dari orang-orang. Tapi keadaan masih tetap sama, bahkan malah menciptakan penyakit baru. Kalau saja aku tahu si pengendali waktu, aku rela bayar seberapapun yang dia minta asalkan dia mau menahan waktu.

                                                                    ***

Jendela rumah sakit terbuka lebar, gordenya hanya menutup ¼ dari jendela, sengaja aku menyuruh perawat untuk membukanya supaya aku masih bisa melihat dunia diluar rumah sakit. 

Oh ya, aku dirawat diruang melati kamar nomor 3 rumah sakit dr. Ben Mboy Ruteng, hari ini aku ditemani Dinda kekasihku, Dinda sedang menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Nusa Cendana Kupang. Dia sengaja datang untuk menjenguku. 

Sementara itu ayahku sibuk, karena mungkin dia ayahku, dia tidak berpikir kalau aku sudah mencuri kesenangan di masa tuanya hanya demi mencari uang  untuk membiayai perawatanku dan juga tuntutan uang sekolah adikku yang sekarang duduk dikelas XI disalah  satu sekolah menengah atas di kota Ruteng. 

Andai saja ibu masih hidup, mungkin ayah tidak sesibuk sekarang. Tiga minggu terakhir sudah jarang sekali keluarga yang datang melihatku di sini. Mungkin mereka sudah bosan atau mungkin mereka ada kesibukan lain, entahlah...
“Jer, kamu tahu tidak dokter yang pingsan kemarin?” Dinda mengajaku bicara.
“Emang ada dokter pingsan Din? Dokter siapa?”
“Iya Jer, dokter praktek diseputaran RUKO PEMDA, dia pingsan gara-gara kemarin saat aku test kesehatan hati disana, dia kaget dihatiku ada kamu. Hehehe”
“Hehehe kamu bisa aja Din, emangnya aku bakteri bisa tinggal di hati. Hehehe”
“Dulukan kamu pernah gombal aku kaya gitu Jer, udah lupa ya? Dinda tertawa sembari mencubit pipiku. dasar pelupa kamu Jer” katanya.

Sore itu begitu bahagia, aku hampir lupa kalau aku sedang dalam kendali sang penyakit yang setiap detik semakin kejam mengendalikanku. Sementara itu, Dinda semakin pandai menahan air matanya dengan senyum. Aku tahu, Setiap kata dari mulutnya, caranya tersenyum bukan mewakili perasaannya, dia hanya ingin mencoba menguatkan aku.

Dinda membaringkan kepalanya dibahuku, sembari mulutnya menyanyikan lagu Dia dari Anji. Sesekali tangan kanannya mengelus rambutku. Entah apa makna tersirat dari lagu ini yang kemudian membuat saya lupa kalau saya sedang sakit dan anehnya kehadiran Dinda membuat saya membenci waktu. 

Entah mengapa disituasi seperti ini waktu itu seolah tak berarti? Sementara saya bergulat, tiba–tiba kami terbangun oleh pemberitahuan yang bersumber dari alat yang berada disudut kamar nginap saya.

“Selamat sore, pemberitahuan bagi para pengujung pasien rumah sakit dr. Ben mboy bahwa jam besuk sudah selesai. Maka kami minta dengan hormat agar pengujung segera meninggalkan ruangan rawat nginap pasien. supaya pasien dapat beistirahat dengan tenang. Terimakasih”.

Petugas keamanan mengumumkan jam besuk sudah selesai, waktu satu jam tiga puluh menit seperti hanya sedetik. Aku tak kuasa menahan air mata, Dinda memelukku  erat, air matanya mengalir begitu deras. Setiap hari dalam sepekan Dinda datang menjenguku dan esok harus kembali lagi ke Kupang.

“Jer cepat sembuh ya, dalam doaku akan selalau kusebut namamu. Aku harus pulang, esok pagi aku terbang ke Kupang, dan setelahnya aku berharap kau disini selalu  menikmati setiap cahaya dan angin dari timur, bersama mereka kititipakan rindu dan doaku. Aku akan selalu mencintaimu Jer. Aku pamit Jer. Kamu yang kuat.”

Dinda melangkahkan kakinya keluar, semenjak itu ada dua raja dalam hidupku, penyakitku dan rindu.

Aku sama sekali tidak tahu, ini tanggal berapa dan hari apa. Aku merasa siang dan malam sudah tidak bisa dibedakan. Aku menghabiskan waktu dengan menulis catatan tentang penderitaanku dan apa saja yang ingin aku tulis. Sampai hari ini diary kecilku sudah hampir penuh. Tulisan pertamaku adalah tentang aku dan penyakitku yaitu aku pejuang paru-paru:

Aku pejuang paru-paru,
Namaku Jeri umurku 20 tahun, seorang mahasiswa di kota ruteng. Dari kelas VII aku sudah belajar merokok, waktu itu aku mulai dengan sembunyi-sembunyi, ambil puntung rokok dijalan lalu mengkonsumsinya kembali. 

Karena kebiasaan itu aku akhirnya menjadi pecandu rokok, bertahun-tahun aku merokok dan tidak pernah berhenti, aku selalu melawan jika orang tuaku menasihatiku supaya jangan merokok, aku bahkan tidak percaya dengan tulisan dan kata orang tentang bahaya merokok. 

Hingga sampai sekarang aku baru sadar ketika kenikmatan asap rokok membunuhku. Aku sangat lemah karena diserang penyakit paru-paru kronis. Dokter bilang itu karena rokok. Aku memperjuangkan hidupku dirumah sakit, aku berjuang untuk paru-paruku. 

Oh ya, paru-paru kronis atau kata dokter COPD (Chronis Obstructive Pulmonary Disease) adalah penyakit baru kronis yang menghambat aliran udara ketika menarik napas dan menimbulkan kesulitan bernafas. Karena penyakit ini sifatnya kronis, maka kerusakan paru ini tidak bisa lagi disembuhkan. 

Penyakit ini sangat erat dihubungkan dengan asap rokok. Aku sadar kenikmatan dimasa laluku adalah musibahku dimasa sekarang. Aku benci asap rokok. Jika sembuh aku berjanji tidak akan merokok lagi. Aku, keluarga dan orang-orang terdekatku tersiksa memperjuangkan paru-paruku.

Sebenarnya aku ingin sekali menulis banyak tentang pengalaman hidupku, terutama tentang bahaya merokok. Aku ingin tak ada lagi generasi berikutnya mengalami nasib sepertiku. Yang hanya mengejar kenikmatan sementara tanpa memikirkan akibatnya. Selain itu aku ingin sekali menulis tentang kuasa rinduku kepada Dinda, yang adalah cinta tanpa keramaian. Aku sedikit bahagia karna saat kritis seperti ini dia tidak disini, setidaknya aku tidak lagi mencuri kebahagiannya karna kebusukanku dan tak ada lagi air mata yang semakin memupuk rasa bersalahku.

Sebenarnya, aku ingin menulis lebih  banyak lagi. Tetapi Semakin aku memaksa menulis, tulisanku semakin tak terarah, bahkan sangat berantakan. Pegang pena saja sepertinya tak kuat lagi, aku merasa sudah waktunya beristirahat dan berhenti menulis, tulisan terakhirku adalah puisi “SALAM UNTUK DINDA” aku hanya bisa menulis judul. Aku tak kuat lagi, penglihatanku semakin buram dan aku tak merasakan apapun.

Semenjak itu aku tak lagi tau apa-apa.

Oleh: Vicky Purnama, STPMD Yogyakarta