Pilkada Nagekeo 2018 Bak Jamur Di Musim Hujan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pilkada Nagekeo 2018 Bak Jamur Di Musim Hujan

13 August 2017

Mencermati gaung pesta demokrasi yang mulai sdikit demi sedikit mulai nyaring terdengar sudah sepantasnya sebagai masyarakat yang punya kedalautan dalam memilih tentu saja harus mencermati dan lebih ekstra rasional dengan kompleksitas berbagai persoalan Nagekeo yang agak sedikit rumit (Foto: Dok. Pribadi)
Gong pemilihan kepala daerah (PILKADA) memang belum di bunyikan oleh komisi pemilihan umum (KPU) sebagai lembaga otoritas independen yang menyelenggarakan pemilihan umum. Kabupaten Nagekeo sebagai daerah otonomi baru hasil pemekaran dari Kabupaten Ngada telah berumur 10 tahun.
 
Secara matematis daerah ini sudah pernah menyelenggarakan proses pemilihan kepala daerah sejak desember 2006 dan menghasilkan beberapa kepala daerah yaitu Drs.Yohanes S.Aoh dan (alm) Drs.Paulus Kadju pada periode pertama dan periode kedua sampai detik ini masih dibawah komando Drs. Elis Djo dan Paulinus Y. N. Veto S.Ip.
 
Desas desus menjelang pilkada kini mulai gaung dipermukaan, hal ini didasari atas hampir habisnya masa jabatan kepala daerah di bawah komando Drs.Elias Djo dan Paulinus Y.N.Veto S.Ip. Pilkada Nagekeo 2018 akan berbarengan dengan pilgub NTT.
 
Santer terdengar dalam obrolan keseharian masyarakat baik dalam warung kopi, tempat kerja, pasar dan lain lain beberapa nama yang kemudian diprediksikan akan menjadi bakal calon dalam memperebutkan kursi EB 1 NGK dan EB 2 NGK.
 
Animo yang begitu luar biasa dari berbagai bakal calon perlu kita apresiasi dengan tawaran program dan visi misi yang luar biasa, mulai dari calon yang sudah dikenal oleh masyarakat luas maupun bakal calon yang baru dikenal lewat baliho, stiker, serta dari bakal calon yang berdomisili di Nagekeo sampai yang masih berdomisili di luar Nagekeo dengan perantara baliho dan stiker sebagai simbol domisili sementara di Nagekeo.
 
Bagai jamur di musim hujan yang tumbuh dimana mana begitu pula menjelang pilkada Nagekeo banyak calon yang mulai mensosialisasikan diri ke masyarakat dalam berbagai cara mulai dengan tatap muka langsung, pembentukan tim relawan, sampai sosialisasi di dunia maya.
 
Mencermati gaung pesta demokrasi yang mulai sdikit demi sedikit mulai nyaring terdengar sudah sepantasnya sebagai masyarakat yang punya kedalautan dalam memilih tentu saja harus mencermati dan lebih ekstra rasional dengan kompleksitas berbagai persoalan Nagekeo yang agak sedikit rumit.
 
Mulai dari berbagai persoalan krusial yang sampai saat ini masih polemik diantaranya, masalah gedung DPRD Nagekeo yang status masih disangketakan, masalah pembangunan waduk Lambo yang masih ditolak oleh tiga desa dampak langsung genangan, yaitu Labolewa, Rendubutowe, dan Ulupulu.
 
Persolan pembangunan areal persawahan Mbay Kiri, persoalan pembangunan bandara Surabaya 2. Dan masih banyak lagi persoalan lainnya. Menjadi harapan kepada para bakal calon yang terpanggil ikut berkontribusi mulia dalam pembangunan Nagekeo hendaknya memperhatikan beberapa aspek yang bersentuhan langsung dengan akar rumput karena pada dasarnya menjadi seorang pemimpin berarti menjadi seseorang yang bisa menyentuh hati.
 
Sebagai generasi muda Nagekeo saya pribadi punya beban moril untuk turut serta memikirkan langkah terbaik soal keberlangsungan Nagekeo kedepan untuk itu beberapa tawaran konsepan saya kepada siapapun yang kelak menjadi pemimpin Nagekeo sebagai berikut.
 
1. Hendaknya Memahami kompleksitas permasalahan yang terjadi saat ini secara komprehensif serta mampu mengambil solusi yang cocok dengan pokok persoalan dan berani mengambil kebijakan yang tentunya pro rakyat.
 
2. Menjadi pemimpin yang mampu berpikir universal populis melihat Nagekeo secara keutuhan dengan tidak mengkotak kotakan baik dari garis keturunan, suku, ras dan agama karena keutuhan Nagekeo adalah keutuhan yang dilandasi semangat “to'o jogho waga sama"
 
3. Mampu memberikan teladan kedisiplinan dan menindak tegas bawahan apabila menggunakan barang inventaris pemerintah untuk urusan pribadi karena sangat miris ketika menyaksikan plat merah lebih diutamakan untuk urusan pribadi. Dan perlu diketahui kursi empuk berlapiskan spon yang ada di dalam kendaraan tersebut adalah sumbangan jelata dari perasan keringat.
 
4. Dalam proses pendekatan dengan masyarakat akar rumput hendaknya bisa mengakomodir kearifan lokal melalui pendekatan budaya dengan memposisikan diri sebagai kepala daerah dan juga 'mosa nua laki ola'
 
5. Mampu bersinergi dengan baik bersama legislatif dalam mengeluarkan peraturan peraturan pro rakyat misalnya perda tentang pengaturan harga komoditas masyarakat dan membangun kembali koperasi unit desa sebagai pusat lalu lintas perdagangan komoditas di desa sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi dan memperkecil permainan harga komuditas dari tengkulak.
 
6.Memperhatikan pendidikan sebagai aset sumber daya manusia di masa yang akan datang dengan tidak menciptakan jarak antara sekolah swasta dan sekolah negeri
 
7. Dekat dengan rakyat dan menjadikan mereka sebagai aset pembangunan dengan memanfaatkan kekayaan Sumber Daya Manusia Lokal sehingga tidak terkesan menjadi tamu di rumah sendiri.
 
Tentu Harapan dan kenyataan harus beriringan sehingga munculnya para bakal calon pemimpin Nagekeo tidak sekedar bagai jamur yang dikarenakan musim yang memepengaruhi tetapi atas dasar pro populis dan semangat mulia melalui jalan pengabdian dan dedikasi untuk Nagekeo tercinta. To'o jogho Waga Sama.

Oleh: Rus Lepe