Pendidikan dan Tradisi Masyarakat yang Memudar

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pendidikan dan Tradisi Masyarakat yang Memudar

3 August 2017

Orang tua sebagai salah satu media dalam masyarakat sudah menguasai  muatan budaya yang sangat terbatas bahkan sama sekali tidak dengan spesialisasi yang berbeda (Foto: Edid Theresa)
Pendidikan lahir dari keinginan masyarakat untuk memelihara dan mewariskan kebudayaan dan filsafat hidup masyarakat kepada generasi  muda (Parkay et al, 2010:40) demi terciptanya masyarakat yang pola perilakunya sesuai norma yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat tentunya.
 
Menguasai suatu kebudayaan yang sudah dihidupi dalam bermasyarakat tentunya adalah suatu tanggung jawab bersama. Berlakunya suatu sistem pendidikan merupakan  tolak ukur keberhasilan kita dalam mencapai tujuan dan cita-cita kehidupan bermasyarakat. Karena bukan tidak mungkin kebudayaan adalah suatu yang membawa kehidupan ke dalam ranah kebaikan. Di balik itu, tanpa pendidikan yang memadai semua ini  tentu tidak akan tercapai. Boleh dikatakan kebudayaan dan pendidikan harus seimbang.
 
Dalam tatanan masyarakat yang sederhana keinginan untuk mewariskan kebudayaan itu dipenuhi melalui pendidikan langsung (tutorial), seperti cerita rakyat, upacara adat, dongeng, nyanyian dan pendidikan/latihan  kepada anak dilapangan, sawah, dan lingkungan keluarga.
 
Semua proses ini berlangsung sangat mudah, karena semua orang dewasa dalam suatau masyarakat  menguasaai muatan budaya (pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai) yang harus dikuasai anak-anak karena mereka harus hidup fungsional. Disisi lain anak-anak mengamati dan belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa di lingkungan kehidupan sosial mereka (Ornstein dan Levine, 1985: 75).

Namun, ketika dalam masyarakat modern pengetahuan dan keterampilan bertumbuh pesat, masyarakat berkembang pesat, tidak semua orang dewasa di suatu masyarakat menguasai muatan budaya yang  perlu dimiliki anak agar fungsional dalam masyarakat, sehingga sistem pendidikan tradisional tersebut tidak mungkin dilakukan.
 
Orang tua sebagai salah satu media dalam masyarakat sudah menguasai  muatan budaya yang sangat terbatas bahkan sama sekali tidak dengan spesialisasi yang berbeda. Akibatnya, budaya sudah dapat diteruskan atau diwariskan kepada generasi muda  apalagi dalam masyarakat yang kompleks.
 
Lembaga pendidikan adalah salah satu kenyataan untuk menstransferkan budaya kepada anak-anak yang dimulai dari keluarga sampai pada lembaga sekolah formal. Muatan budaya akan dipelajari di sekolah seperti adanya yang mencakup keterampilan yang lama kelamaan tumbuh dan berkembang menjadi cultural patterns, semuanya tercakup dalam mata pelajaran yang diajarkan guru di sekolah.
 
Memang semuanya tidak mudah untuk dilakukan, mengingat semakin kompleksnya pengetahuan yang dipelajari dalam kebudayaan. Harapan menjadi seorang manusia dan seorang bermartabat menjadi tujuan utamanya.
 
Menjelang abad ke 20, perkembangan ekonomi, sosial masyarakat, demokrasi, industri perdagangan serta nasionalisme berpengaruh pada pendidikan. Pendidikan yang sebelumnya  didominasi mata pelajaran bermuatan tradisi, agama, dan bahasa klasik memicu berubahnya sistem pendidikan yang berakibat pendidikan tidak lagi berfokus pada mata pelajaran tetapi  juga untuk  memenuhi kebutuhan ekonomi, politik, sosial, perdagangan dan kemasyarakatan. 

Perkembangan globalisasi menemani abad ke-20, perubahan yang sangat cepat menimbulkan perubahan sistem pendidikan yang sedang berlangsung. Karena pemerintah tentunya menata masa depan pendidikannya. Hal ini menjadi tantangan yang tidak bisa terabaikan dari kenyataan harian kita.

Tanpa disadari, perubahan yang demikian berdampak pada masyarakat. Mahalnya permintaan kebutuhan pendidikan berpengaruh pada minat masyarakat untuk menitipkan anaknya di sekolah sebagai pendidikan formal. Rendahnya SDM yang dimiliki semakain terpuruk menemani pemahaman masing-masing masyarakat.
Apa yang terjadi? Angka putus sekolah semakin marak. Kesempatan belajar untuk anak pinggiran juga semakin terbatasnya. Tentu hal ini berpengaruh pada pendidikan moral anak. Keluarga sebagai media pertama dan utama pendidikan anak tentunya turut andil dalam mengatasi masalah ini. 

Tetapi permasalahan sekarang adalah sulitnya orang tua mendidik anak yang sudak menginjak usia remaja. Ya tentu saja. Karena masa seperti ini sudah tidak lumrah lagi untuk dididik. Pergaulan yang semakin luas mempengaruhi pola pemikiran anak yang berunjuk pada perilkau yang boleh dikatakan bertolak belakang dengan sistem norma yang berlaku dan menjadi harapan dalam kehidupan bermasyarakat.. Apakah kita membiarkan ini semua terus terjadi?

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. 

Citra budaya yang bersifat memaksa membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. Dengan berlandasan pola pikir yang boleh dikatakan masih klasik ini, sistem pendidikan dan gaya orangtua membina anak tersusun kerangka fasih bahwa  muatan pendidikan bukan lagi suatu kewajiban, namun berlaku sebagai suatu yang biasa-biasa saja pengaruhnya. Hasilnya, tradisi kebudayaan tetap menjadi yang teratas.

Oleh: Edid Theresa
Mahasiswa S1 Fakultas PBSI Univ. Sanata Dharma, Jogjakarta