Pemenangnya Masih Ayahku

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pemenangnya Masih Ayahku

2 August 2017

Ia selembut ibuku dan tetap terlihat kuat sebagai seorang lelaki yang selalu bisa kuandalkan untuk alasan apapun yang datang sebagai masalah yang menamparku sebagai bumbu kekuatanku menghadapi hidup (Foto: Yohana Bombol)
Bukankah pernah kuberitau, jangan jatuh pada hati yang enggan jatuh. Lalu bagaimana kau tetap disana menunggu yang tidak pasti? Aku tak pernah memintamu untuk merangkai banyak kata menjadi narasi, sementara sekalipun mataku tak ingin melihatnya untuk dibaca. Kau tahu, sesuatu tentang hati sedang menarikku tenggelam pada wahana yang tidak kukenali. 

Tentang rasa pedih dan sakit tinggal dan meninggalkan. Dan bila kau bersedia, kuceritakan beberapa darinya yang kukira bisa membuatmu mengerti banyak hal tentang keberuntungan yang tidak memihak hatiku untuk sekedar memelukmu sebagai penikmat rindu, dan aku di dalamnya sebagai alasanmu merindu.

Aku belum mengerti bagaimana menata hati setelah ketidakberdayaanku menghadapi masa-masa sulit itu. Keyakinanku tentang sebuah kepercayaan diporakporanda oleh kepergian separuh yang menjadi bagian terbesar alasanku bernafas. Ayahku. Bagaimana harus kuceritakan padamu saat aku mengabaikanmu tanpa alasan yang seharusnya kukatakan. 

Aku sangat mencintai ayahku. Melebihi apapun yang pernah kulihat, termasuk sosok lelaki yang datang dengan alasan berbeda untuk menjadikanku wanitanya. Dan tidak segan-segan aku ingin bersaing dengan ibuku, karena aku sangat mencintai ayahku melebihi bait-bait yang sering kurangkai untuk menceritakan tentang kehebatannya.

Ayahku adalah ibu bagiku. Ia selembut ibuku dan tetap terlihat kuat sebagai seorang lelaki yang selalu bisa kuandalkan untuk alasan apapun yang datang sebagai masalah yang menamparku sebagai bumbu kekuatanku menghadapi hidup. Sama seperti yang terjadi saat usiaku masih sangat muda, Tuhan mengajak ibuku kembali ke rumahNya yang istimewah. Dan aku masih belum tahu mengizinkannya atau tidak. Dan kau tahu, ayahku adalah orang hebat. 

Agar bisa menyakinkanku untuk mengizinkan ibuku pergi dengan merelakannya, ia melakukan banyak hal padaku. Hingga akupun mengerti, bahwa ayahku mencintaiku sama besarnya dengan cintaku padanya meski cintaku padanya tak bisa kubuktikan secara nyata dalam pandangan mataku. Karena yang kupahami saat ini, aku yang tak bisa melihat ayahku dan ayahku yang akan dengan bebas mengamati setiap derap langkah melanjutkan hidupku.

Aku tahu kau akan merasa tak adil bila kusandingkan dengan ayahku. Kau tak pernah bisa menyaingi ayahku. Karena urusan hati dan tentang nafasku, ayahku akan menjadi pemenangnya. Kau bisa menjaga tubuhku dan memastikan tetap bernafas, tapi kau tak bisa menjaga cintaku. Sama seperti aku yang tak begitu yakin menyerahkan hatiku.

Kau tahu, setelah memperjuangkan agar keyakinanku kembali, Tuhan memainkan satu adegan penting dalam hidupku. Aku tahu Ia sedang tidak bercanda padaku, ataupun sedang mengajakku tersenyum untuk kekonyolan yang sering terjadi. Ia membawa pergi ayahku ke tempat yang tak bisa kudatangi untuk memeluknya. 

Aku kehilangan keyakinan untuk kedua kalinya dengan segala harapan yang sering diajarkan ayahku sebagai dasar kepercayaanku untuk tetap menjalani hidup. Ayahku memenangkan hatiku setelah kepergian ibuku, dan ayahkulah yang mengalahkannya dengan kepergiannya sendiri. Lalu bagaimana dengan hatiku setelah itu?

Sama seperti yang kau inginkan, aku pun pernah jatuh cinta. Sekali. Dan cinta itu tak memiliki daya kekuatan yang menguatkanku selain cinta ayahku. Aku tak sehebat ayahku tentang cinta. Konon, ayahku memenangkan hati ibuku dalam sekali pertemuan. Dan ia mentahtakan nama ibuku setinggi yang tidak bisa kudengar dari bibirnya sebagai cerita romantis. Dan cinta itu pun memisahkan dan mempertemukan mereka kembali pada dunia yang berbeda.

Saat itu, aku sangat jatuh. Jatuh cinta dan jatuh hati. Cintaku jatuh pada hati yang salah. Hati yang tak mengerti sebuah hubungan. Hati yang tak tahu menjaga hati yang lain. Hati yang datang dan pergi sesukanya. Hati yang membuatku takut. Sangat takut. Hati yang sampai hari ini kukagumi sebagai penjahat sejati yang tak bisa aku tangkap untuk dihukum, karena separuh keyakinanku tentang cinta dibawa pergi bersamanya. Hingga yang kuakui, bahwa cinta bukanlah hal mudah.

Aku mencari ayahku saat itu. Berharap ayahku akan datang, berbisik bahwa ada cara yang bisa kulakukan untuk membawa pulang keyakinanku akan cinta dan menyembuhkannya. Terlalu lama aku menunggu ayahku membuatku mengenal banyak hal yang bisa ku pahami seiring berjalannya waktu. Lelaki yang pantas kucintai untuk batasan yang akan Tuhan tentukan hanyalah ayahku. 

Dan sampai pada hari yang Tuhan inginkan untuk menambah satu laki-laki untuk kupercayai, aku masih harus menata hatiku sebisa mungkin. Tidak juga dengan menunggu ataupun mencari, tetapi dengan membiarkannya menjangkau hatiku sambil kubiarkan ayah menuntunku untuk memilih yang selaras dengan caranya mencintaiku.

Dan aku tahu, bahwa pada hari yang tidak kuketahui kau merindukanku dengan seribu kesibukkan yang kau miliki. Sama denganmu, aku pun menahan rindu. Hanya saja, aku tak bisa memiliki rasa rindu sepertimu. Yang bisa kulakukan hanya menyiapkan diriku untuk lebih baik sehingga aku pantas untuk bersanding bersama pilihan yang Tuhan titipkan, nantinya. 

Dan sampai hari ini, yang kuakui pemenang hatiku masih ayahku.

Oleh: Yohana Bombol
Kontributor marjinnews.com Wilayah Malang