PAPUA BISA APA?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

PAPUA BISA APA?

23 August 2017

Papua Bisa Apa? Merupakan sebuah puisi yang dibawakan oleh Teodorikus Hanpalam dalam aksi Solidaritas Peduli HAM dan Demokrasi Papua Kota Surabaya, Selasa (22/8). 
Andai mulutku bisa bersuara.
Andai hatiku terbuat dari baja.
Aku tidak kan mungkin gundah gulana.
Aku tidak kan mungkin disandera sepanjang masa.

Berkata sepata saja aku tak bisa.
Dalam setiap langkah, aku harus berhadapan dengan garangnya pasukan bersenjata.
Peluru menikam, aku terbungkam.
Tubuhku terkoyak-koyak dengan kejam.
Dan mereka bangga tanpa malu dan tanpa prikemanusiaan.

Aku bisa apa?
Papua bisa apa?

Suara dentum tembakan menakutkan seisi bumi cendrawasih, hampir berselang hari, mereka seperti tak mengenal kasih.

Lidahku kaku teriak merdeka!
Merdeka dari penindasan!
Merdeka dari kecemasan dan ketakutan yang tajam menusuk perasaan.

Ibu pertiwi.
Oh Ibu pertiwi, tahukah engkau?
Lihatkah engkau terhadap aku?
Aku rindu pelukan hangat cintamu menghampiri, hingga aku takluk dan betah mengalir bersama dalam nadi NKRI.

Berulang kali, dan terus berkali kali.
Aku dibiarkan mencekam dalam dengki.
Hingga aku tersungkur lunglai.
Terbengkalai mati dengan keji.

Lantas, aku bisa apa?
Papua bisa apa?

Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kami nantikan sepanjang abad.
Tapi tak kunjung mendekat.
Terasa perih, terasa pedih.
Papua selalu jadi anak tiri.

Dalam kebingungan aku bertanya, kapan mutiara di timur itu merekah?
Tersenyum lebar sumringah dan bernafas lega, hormat merah putih berdiri tegak dengan gagah.

Wahai rakyat Indonesia.
Dengar, dengarlah aku yang semakin lemah.
Perlakukan aku selayaknya satu darah.

Dimana lagi aku berpijak?
Di tanah airku sendiri aku diperbudak.

Oh Tuhan, Sang Khalik Maha pengasih dan penyayang.
Apakah mereka lebih berkuasa daripada Engkau?
Apakah mereka berhak berkehendak daripada kehendak-Mu?
Tragedi Paniai, Taman Gizi, Deiyai hingga Timika berlunta lunta, nyawa melayang sia-sia.
Alam kami dikeruk tanpa cinta.
Bocah-bocah dinista dengan hina.

Papua bisa apa?
Dalam doa, hatiku menangis.
Sakit serasa teriris.
Keadilan yang kucari semakin mengikis.
Jauh, jauh dan semakin menjauh dari humanis.

Lantas pula, aku bisa apa?
Papua bisa apa?

Oleh: Teodorikus Hanpalam