Orang Tua dan Pesan Igor Saykoji dalam Lagu "Embong Weong" Erphin Dion
Cari Berita

Orang Tua dan Pesan Igor Saykoji dalam Lagu "Embong Weong" Erphin Dion

6 August 2017

Kita tidak pernah sedikit pun meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menyapa mereka dalam doa dikala pagi, mensyukuri setiap senyuman mereka sebelum tidur
Seorang penyanyi hip-hop terkenal Indonesia, Igor Saykoji dalam lagunya berjudul, “tetap hip-hop” berpesan demikian: Kunci sukses itu ada tiga, ingat keluarga, ingat Tuhan, dan ingat dari mana kita berasal. Hal ini menurut saya masih berkaitan dengan cerita suksesnya seorang Igor di dunia musik nasional yang sarat akan persaingan. Terutama dengan lahirnya bintang-bintang baru dari dalam maupun luar negeri. 

Igor sadar betul bahwa ia tidak akan mampu berdiri hingga sekarang tanpa prinsip dan pegangan yang kuat. Ketiga hal tersebut diataslah yang menguatkannya untuk tetap konsisten dan bertahan hingga namanya bertabur bintang, terutama dalam sejarah perkembangan hip-hop tanah air.

Igor hanya salah satu dari sekian banyak musisi yang menginspirasi banyak orang lewat musik. Masih banyak musisi hebat Indonesia lainnya yang telah menyumbangkan karya-karya terbaiknya dalam menginspirasi semangat orang muda dalam berkarya. 

Daerah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur pun juga demikian. Dari dulu sampai sekarang banyak menghasilkan musisi-musisi berbakat dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah Erphin Dion. Penyanyi senior asal Manggarai Timur ini, sudah sejak lama menjadi idola banyak orang terutama melalui lagu-lagunya yang sarat makna dan pesan moral bagi para penikmatnya.

Tanpa mengabaikan musisi lain yang berdedikasi tinggi di daerah Manggarai atau NTT pada umumnya, penulis lebih fokus membahas soal pesan tersirat dari lagu berjudul, “Embong Weong” milik Erphin Dion. Alasannya sangat sederhana yaitu semakin banyak anak-anak muda kita cenderung lupa akan perjuangan orang tua mereka dalam mendidik dan membesarkan mereka, termasuk penulis sendiri.

Kita seperti menjadikan orang tua hanya sebagai “dapur yang terlupakan”. Perjuangan tanpa kenal lelah mereka hanya kita anggap sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab mereka yang sudah berani melahirkan kita ke dunia. Sungguh sebuah ironi yang sangat menyedihkan. 

Kita tidak pernah sedikit pun meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menyapa mereka dalam doa dikala pagi, mensyukuri setiap senyuman mereka sebelum tidur dan memimpikan kebanggaan mereka akan masa depan yang cerah melalui sesuatu yang tengah kita tempuh sekarang ini.

Erphin Dion dengan kemampuannya yang luar biasa, mampu menghayati lagu ciptaannya dengan sangat baik membuat penulis merasa terenyuh dan tanpa sadar menitikkan air mata. Pengalaman sebagai seorang anak petani tulen, dengan segala kekurangan tetapi memaksakan diri menyekolahkan anak mereka hingga ke perguruan tinggi, orang tua dalam lagu tersebut diceritakan sabar dan telaten membesarkan anak-anak mereka.

Ada sebuah penyesalan yang hendak ditunjukan Erphin Dion dalam setiap lirik lagunya. Sikap anak seorang petani dari kampung yang acuh terhadap perjuangan orang tua selama menempuh pendidikan di tanah yang jauh hanya meninggalkan guratan kecil tak bermakna saat dia merenungi segala yang didapatnya ketika menjadi seorang sukses.

Jika kita hubungkan dengan pesan Igor Saykoji diawal tulisan ini, menjadi sangat penting untuk kita membahasnya satu per satu. Kunci sukses pertama dengan tidak melupakan keluarga adalah inti dari pesan Erphin Dion dalam lagu “Embong Weong”-nya. Keluarga, terutama kedua orang tua mendapat posisi pertama bagi setiap orang-orang sukses ketika dia mensyukuri apa yang didapatnya. Kedua orang tua menjadi prioritas utama seorang anak dalam membaktikan segala perjuangannya dalam hidup ini. Bagaimana pun orang tua adalah wakil Allah di dunia.

Kunci sukses yang kedua dengan selalu mengingat Tuhan adalah sebuah kewajiban tanpa terkecuali. Setiap kegagalan dan keberhasilan hanya akan bernilai konstruktif ketika kita sadar dan paham bahwa tanpa campur tangan-Nya, kita hanyalah setitik debu tak bermakna. Maka, syukurilah setiap anugerah Tuhan dalam setiap kesempatan setiap hari, karena Tuhan tidak pernah mengecewakan anak-anaknya selama kita percaya.

Kunci sukses yang ketiga dengan tidak melupakan asal muasal kita merupakan sesuatu yang tidak boleh terlewatkan oleh setiap orang dengan takar kesuksesannya masing-masing. Jangan pernah sekali pun ragu menunjukkan siapa kita sebenarnya. Jika petani adalah sesuatu yang tabu untuk kita akui maka secara tidak langsung mengkhianati kunci kesuksesan yang pertama dan kedua. Karena dengan kita sadar akan siapa dan dari mana kita berasal, disitulah kita paham bahwa hidup itu indah dan tidak ada alasan untuk kita tidak mensyukurinya.

Pesan Igor Saykoji dalam lagu “Embong Weong” karya Erphin Dion setidaknya menjadi sesuatu yang menyadarkan kita untuk selalu menghargai kedua orang tua kita yang dengan kesabaran, ketekunan, dan doanya, kita bisa menikmati segala kenikmatan yang tanpa kita sadari sering kita lupakan. Salam..

Kolep leso mane tana, dere embong weong 
(Ketika matahari mulai terbenam, lagu kenangan dilantunkan) 

Landu landing tenang duhu mose’d ende ema ge..
(sebuah tembang kenangan akan ayah dan ibu ketika masih hidup)

Latung tunu wuat ngo dua’d, landing mese’n momang de ema ge...
(yang hanya mengawali hari dengan jagung bakar karena cintanya kepdaku)

Latang’t aku duhu sekolah tana tadang
 (untuk aku yang menempuh pendidikan di tanah yang jauh)

Toe kin sepo dari leso, nggarak nomber darah
(tidak peduli terik matahari membakar tubuh penuh peluh)

Soho tenang anak momang, tunggeng aku sekolah tanah tadang 
(hanya untuk aku yang tersayang, berharap penuh dengan menimba ilmu di tanah yang jauh)

Ema dami ata petani, landing mesen bengkes de ema ge...
(ayah kami petani, tetapi besar harapannya kepadaku)

Latang’t aku, kudut nganceng ka’eng gerak 
(untuk aku yang dalam benaknya mampu menjadi orang yang baik di masa depan)

Ho’o tamat jadi sarjana, hitu momang de ende ema ge..
(Kini aku sudah menyelesaikan sarjana, itu karena kasih orang tuaku)

Ho’o haeng jadi pegawai, lime lima de ende ema ge...
(kini aku menjadi pegawai, karena usaha keras orang tuaku)

Ho’o anak’m jadi ata pangkat, katid manga ranga’d ema ge
(kini aku menjadi orang berpangkat, berkata jasa ayahku)

Ho’o mut nai jadi tuang guru, lime lima de ende ema ge...
(kini aku sudah merasakan nikmatnya menjadi guru, berkat perjuangan tanpa pamrih orang tuaku)

Toe kong wali’n laku gauk’s, tatap ali tana poli tadu ali watu 
(tidak bisa aku membalas kebaikan mereka, mereka telah tertidur lelap tertutup tanah)

Benta le dewa’s ende ema ge..
(Sang kuasa telah memanggil mereka)

Co’o kong cimpa’n laku ata di’an, kudut sabi’n bate kawe ge..
(Bagaimana aku memberikan mereka yang terbaik, walau sedikit saja aku berbagi untuk mereka)

Ladi lanar’s lu’u mata’g ema ge..
(Kini aku hanya berlinang ari mata mengingat mereka)

Oleh: Andi Andur