Menembus Batas Cakrawala
Cari Berita

Menembus Batas Cakrawala

27 August 2017

Seluruh surat yang telah engkau sampaikan menorehkan Cinta sejati dariku. Selamat tinggal. Percayalah bahwa aku, akan, selalu menjadi kekasihmu, selamanya. Karena aku tahu cintamu dan cinta kita menembus batas cakrawala.(Foto: Istimewa)

Genderang riuh bertabu, membangunkan ayam-ayam yang sudah nyenyak tertidur di batangan pohon kopi belakang rumah. Kesibukkan jelas terasa seiring dengan sayup-sayup suara dari ruang tamu sebuah rumah cukup megah di pinggiran kota. Orang-orang tua berpeci duduk bersilah melingkari tiang utama. Ibu-ibu sibuk mengunyah pinang sambil sesekali meludahi air merah serupa darah dalam kaleng bekas dihadapan mereka.
Tiba-tiba seorang lelaki muda muncul dari balik pintu depan sambil berteriak, “Mereka sudah datang, anak wina datang dengan rombongan yang tidak terlalu banyak!” setelahnya ia hilang ditelan gelap malam.
Sontak seisi rumah kembali riuh, genderang bertabu semakin besar menyambut mereka yang disebut anak wina datang ke tempat tersebut.
 ========================================================================
Livia seorang mahasiswa kedokteran di sebuah kampus ternama di Surabaya. Ia sangat cerdas dan dengan dukungan orang tua yang cukup mapan, sangat mudah bagi Livia untuk masuk perguruan tinggi tersebut tanpa terkendala sedikit pun. Sebagai seorang anak tunggal, Livia sangat dekat dan patuh kepada kedua orang tuanya yang juga seorang pejabat penting di daerah asalnya.
Jauh dari orang tua, lantas tidak membuat Livia dapat bebas dari berbagai tekanan dan kukungan mereka. Kesibukan Livia selalu dipantau setiap saat. Ia benar-benar merasa seperti sosok Siti Nurbaya di jaman modern sekarang ini.
Namun, semuanya berubah ketika ia mengenal Roni. Seorang lelaki muda yang bekerja sebagai kuli angkut di sebuah toko bangunan dekat kampus Livia. Sosok Roni memang sangat misterius, setelah bekerja ia seperti menghilang tak tahu arah.
Suatu hari Livia bersama teman-temannya melakukan bakti sosial di sebuah daerah pinggiran Kota Surabaya. Tempat pembuangan akhir sampah masyarakat sebelum diolah menjadi pupuk kompos yang akan didistribusikan kembali kepada petani. Disana, Livia kaget karena bertemu seorang yang tidak asing baginya tengah mengajar beberapa anak kurang mampu sambil tertawa ria.
Teman-teman Livia merasa heran dan kaget, Livia yang pemalu tiba-tiba keras kepala dan enggan beranjak dari tempat itu. Sambil memegang telepon pintarnya ia merekam sosok itu beberapa kali. Ia masih tidak percaya bahwa orang yang dilihatnya adalah Roni, seorang kuli angkut di sebuah toko dekat kampusnya.
Dalam perjalanan pulang Livia tidak menggubris teman-temanya yang sedari tadi menggoda. Ia sibuk memperhatikan gambar di hpnya sambil mencocokkannya dengan ingatan soal wajah Roni yang sering dilihatnya. Mereka memang tidak selalu akrab, tetapi keseringan mereka bertemulah yang membuat dia merasa bahwa mereka sangat dekat.
Meski kerap bertemu, Roni tampak enggan bertatap dengan Livia. Bagi Roni, Livia adalah sosok yang sangat dihormati karena posisi ayahnya di daerah asal mereka. Ia juga merasa malu kalau-kalau Livia tahu bahwa ada orang dari daerahnya menjadi seorang kuli di kota besar ini. Roni berusaha tidak memperlaukan Livia dihadapan teman-teman kuliahnya jika mereka tahu bahwa mereka berasal dari daerah yang sama.
Livia tidak pernah berpikir demikian. Baginya siapa saja yang hendak menjadi temannya adalah sebuah kebanggaan. Ia selalu merasa kesepian dengan segala rutinitasnya yang hanya berkisar soal dunia kuliah dan tekanan-tekanan dari orang tuanya.
Rasa penasaran pun menyelimuti Livia. Diam-diam ia menambahkan satu jadwal lagi selain rutinitasnya selama ini, mencari tahu soal Roni.
=========================================================================
Di dalam kamar, seorang gadis duduk sambil tersenyum menanggapi setiap candaan penata riasnya. Ia menatap cermin di depannya dengan sangat serius, sambil membiarkan kepalanya disemati bali-belo. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
“Maafkan ibu nak. Ibu tidak bisa meyakinkan ayahmu soal pilihan ini” ucap wanita itu lirih sambil memeluk gadis itu.
“Tetapi kenapa bu. Selama ini Livia sudah menuruti kemauan ayah sama ibu. Maka biarkan Livia sekarang menentukan pilihan Livia sendiri soal masa depan Livia”
“Dengar nak, ibu mengerti dengan perasaanmu. Tetapi, ayahmu keras kepala. Dia tidak ingin engkau dengan lelaki diluar itu. Untuk terakhir kalinya patuhi keputusan ayahmu ya nak”
“Tapi bu...”
Wanita itu keluar dan bergabung dengan keluarga yang lain. Negosiasi sekitaran kesepakatan pernikahan pun berlangsung cukup lama. Anak wina yang datang pun tidak sedikit yang mengelus dada sambil menahan air mata. Lelaki yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan bersarung sonke itu pun menundukkan kepala. Tidak ada kata sepakat antara kedua keluarga soal itu.
Dari jauh, terdengar sebuah teriakkan: “Anak wina datang! Anak wina datang!”
Semua kaget, kecuali si empunya rumah yang kemudian berdiri sambil bercakar pinggang di depan pintu menanti kedatangan anak wina yang dimaksud.
 ========================================================================
Setelah cukup lama mencari tahu soal Roni yang sesungguhnya. Sesuatu bergejolak dalam dada Livia. Setiap kali bertemu Roni, ia mulai melempar senyum dan sesekali menyapanya dengan tulus. Roni yang awalnya canggung pun luluh. Kini ia harus bersaksi jujur di depan seorang gadis terpelajar bermata indah yang selalu membawanya sarapan setiap pagi.
“Saya sebenarnya malu dekat dengan enu. Selain karena enu itu baik, semua orang tahu bahwa untuk sekedar berteman dengan enu pun harus berkaca terlebih dahulu”
“Hmm, sudahlah jangan terlalu diambil pusing. Lagian status sebuah keluarga itu tidak akan berpengaruh untuk masa depan kan? Oh iya, kalau boleh tahu kamu itu siapa sih sebenarnya?” Tanya Livia pura-pura.
“Hahaha, bagaimana ya. Saya harus jawab jujur atau bagaimana ini?”
“Sebaiknya jujur. Masa kamu mau mengecewakan saya yang satu daerah denganmu” jawab Livia berharap.
“Saya hanya seorang mahasiswa di kampus kecil disini. Karena orang tua saya tidak mampu makanya saya berusaha untuk kuliah sambil kerja”

“Terus, kegiatan yang di TPA itu apaan?” Livia keceplosan.

“Hahaha, kok tahu? Kalau itu, itu hanya kegiatan sampingan. Sebuah pendampingan yang saya dan beberapa teman plopori untuk membantu anak-anak kurang mampu supaya bisa merasakan nuansa pendidikan formal seperti yang lain. Ini baru tiga tahun, tetapi berkat kerja keras kami semua dan menyisihkan uang saku dari hasil kerja saya ini ada beberapa anak yang kami biayai dan akan lulus SMA tahun ini” Jelas Roni malu-malu, sambil menunduk.
Livia pun kasmaran. Gejolak dalam dadanya semakin menjadi-jadi. Ia semakin mengagumi sosok lelaki didepannya sungguh. Ia larut dalam kepolosan dan tatapan Roni yang tersenyum sambil melirik Livia dengan penuh makna. Ya, mungkin ia jatuh cinta untuk pertama kalinya.
 ========================================================================
Suasana hening seketika. Keluarga anak wina yang sedari tadi duduk pun marah besar karena telah dipermalukan didepan banyak orang. Sumpah serapah memenuhi rumah tersebut seiring dengan ucapan sang tuan rumah.
“Anakku satu-satunya harus mendapat suami yang sepadan dengan keluarga kami. Ia itu seorang dokter dan minimal suaminya harus dokter juga. Maka dari itu, saya minta maaf bahwasannya anak wina yang datang pertama tidak memenuhi persyaratan itu”.
Bukan hanya mereka yang menangis, setiap keluarga yang datang pun demikian. Dada mereka sesak dan diam-diam mengutuk perilaku tidak manusiawi itu. Livia tidak ketinggalan, ia tiba-tiba roboh seketika. Ia sangat terpukul dengan ulah ayahnya. Apa lagi ketika melihat betapa kecewanya Roni pada saat itu.
Acara pun dilanjutkan. Anak wina yang kedua pun duduk bersila memenuhi ruang tamu. Sajian pun diturunkan. Sementara Roni dan keluarganya pulang dengan tangan hampa. Dibawah cakrawala bersama bintang-bintang disaksikan bulan, angin membawa suara bisikkan memanggilnya kembali. Ia tidak kuat untuk berdiri dan jatuh terduduk, kakaknya tertua datang menghampiri dan menghiburnya.
Ketika mereka melanjutkan perjalanan, mereka dikagetkan dengan suara tangisan yang semakin besar. Roni ingin kembali, tetapi keluarganya mengancam dia. Bagi mereka apa pun yang terjadi setelah kejadian memilukan malam itu akan menjadi sesuatu yang takkan terlupakan dalam sejarah hidup mereka.
Dari kejauhan tampak sebuah nyala obor mendekat. Dia berlari seperti mengejar dan memanggil nama Roni untuk kembali. Mereka tersentak mendengar kabar bahwa Livia si mempelai perempuan meninggal di kamarnya sebelum upacara pertunangan dengan lelaki pilihan ayahnya dimulai. Ia meninggalkan surat untuk Roni kekasihnya:

Cinta ini, yang selama kujaga dan kudekap hanya untukmu terus bersemi… Setiap kali aku menatap wajahmu, Hanya satu… Satu hal kesungguhan dan keyakinan yang ingin aku lakukan, yaitu menikahimu dan tumbuh bersamamu. Percakapan kita terakhir kali Membuatku ingin bertemu dan meneduhkanmu lagi dalam dekapanku. 

Seandainya saja… Suatu saat nanti ketika kita menikah dan sebaris janji telah terujar, aku sungguh percaya bahwa hal itu akan menjadi keajaiban dalam hidupku karena aku dapat hidup bersamamu dan mencintaimu selamanya. Aku menyimpan hati ini yang setulusnya telah kutitipkan padamu. Tiada seorang pun yang lebih mampu untuk menjagaku, menawan jiwaku dan menemaniku tanpa syarat. 

Aku mengatakan semua ini dengan sungguh-sungguh. Apakah kamu bersedia menolongku untuk menjawab semua ini. Seluruh surat yang telah engkau sampaikan menorehkan Cinta sejati dariku. Selamat tinggal. Percayalah bahwa aku, akan, selalu menjadi kekasihmu, selamanya. Karena aku tahu cintamu dan cinta kita menembus batas cakrawala.

 Oleh: Ecclesia Christi

*Enu: Panggilan untuk saudari perempuan orang Manggarai, Flores
*Anak Wina: Sebutan untuk keluarga mempelai laki-laki dalam sebuah hubungan keluarga. Lawan dari "anak wina" adalah "anak rona"