Memerdekakan Emas Dari Ujung Rotan (Catatan Seorang Pendidik Muda)

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Memerdekakan Emas Dari Ujung Rotan (Catatan Seorang Pendidik Muda)

17 August 2017

Atas dasar inilah guru sebagai bagian dari sistem pendidikan tidak terisolasi dari suatu lingkungan tertutup tetapi berhubungan dengan lingkungan terbuka (Foto: Dok. Pribadi) 
Kemerdekaan merupakan kesimpulan dari perjuangan dengan mengorbankan darah dan air mata. 17 agustus 1945 adalah bukti bahwa bangsa indonesia mampu melepas diri dari penjajahan kolonialisme dan memproklamirkan perjuangannya lewat pekikkan proklamasi.

Hari hari akhir ini kita dihadapkan dengan berbagai problema bangsa yang secara terus menerus menggerogoti keberagaman, kemajemukan dll. sehingga menjadi reflektif secara kolektif anak bangsa benarkah kita sudah merdeka yang ke 72 tahun? Ya merdeka dari penjajahan kolonialisme tapi kita dihadapkan dengan penjajahan gaya baru yaitu penjajahan sesama yang diakibatkan dari saling berbedanya domain presepsi menafsirkan sesuatu dan berakibat kegaduhan bangsa. 

Menelisik hal ini bagi saya ada beberapa indikator yang kemudian membutuhkan kesadaran kolektif dalam membenahi. salah satu yang cukup urgen adalah pembenahan Sumber daya Manusia generasi bangsa. Teringat pesan Anies Baswedan " yang mewarisi suatu bangsa adalah kualitas sumber daya manusianya" dan profesi yang berperan penting dalam menata serta menumbuhkembangkan kualitas sumber daya manusia generasi bangsa adalah seorang guru.

Guru adalah tenaga kependidikan yang memenuhi persyaratan tertentu untuk berpartisipasi dalam penyelengaraan pendidikan hal ini teruang dalam UU sisdiknas pasal 1 ayat 6. Atas dasar inilah guru sebagai bagian dari sistem pendidikan tidak terisolasi dari suatu lingkungan tertutup tetapi berhubungan dengan lingkungan terbuka. 

Dalam reflektif saya pribadi setidaknya sebelum menemukan rumusan yang tepat dalam memformulasikan kualitas Sumber daya manusia ada 3 pertanyaan yang menjadi rujukan dan alasan mendasar. Tiga pertanyaan reflektif itu adalah; 

Mengapa manusia harus dididik? Mengapa manusia dapat dididik? Dan mengapa harus ada sistem dari pendidikan itu? Manusia dalam konteks pertanyaan reflektif saya diatas adalah anak didik. Prinsip yang menjadi tujuan penyelenggara pendidikan dapat kita temukan dalam UU sisdiknas pasal 4 ayat 1 berbunyi "Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan dengan mnjujung tinggi HAM, keagamaan, kultur dan kemajemukan bangsa”.

Lalu apa hubungan dengan manusia (siswa) harus dididik? Bagi saya adalah karena potensi manusia (siswa) hanya mampu tumbuh normal apabila ada campuran pengaruh eksternal dalam hal ini tenaga pendidik. 

Kemudian mengapa manusia (siswa) dapat dididik? Jawabannya adalah karena manusia (siswa) memiliki potensi yg dapat tumbuh dan berkembang. hematnya adalah apabila potensi itu mati dan atau statis maka ia tdk mampu dididik. 

Dan untuk pertanyaan terakhir mengapa ada sistem pendidikan? Maka jawabannya adalah: untuk menumbuh kembangkan potensi hnya mampu dilakukan oleh orang yang kapabel dan kredibel yang memiliki kompetensi keahlian di bidang pendidikan yaitu guru itu sendiri. 

Ketiga pertanyaan refleksi ini menurut saya akan bisa mampu menjawab prinsip penyelengara pendidikan di atas dalam artian menumbuh,mengembangkan generasi akan datang agar nilai nilai dan harapan prinsip penyelengara pendidikan dalam UU sisdiknas itu terwujud. Dari jawaban jawaban pertanyaan rekletif diatas secara otomatis akan memnculkan pertanyaan baru yaitu bagaimana caranya? Peran seorang guru dituntut untuk selalu berinovatif dalam menerapkan proses pembelajaran agar pembelajaran di kelas tidak terkesan membosankan tetapi tetap melandasi pada empat kompetensi yang dimiliknya yaitu pedagogik, profesional, sosia, dan kepribadian. 

Dalam penerapan sistem pendidikan yang menyenangkan mengharuskan seorang guru untuk tidak menerapakan kekerasan. Saya bersepakat tentang sistem pendidikan menjauhkan kekerasan dalam pendidikan tetapi harus ada batasan kekerasan yang seperti apa, karena penerapan sistem pendidikan seperti ini dipaksa untyk diberlakukan secara umum tanpa mempertimbangkan kultur. 

Menjadi bukan rahasia umum bahwa kultur indonesia bagian timur penerapan sistem pendidikan diujung rotan ada emas sudah menjadi kebiasaan dengan alasan rasionalnya adalah di ujung rotan ada emas memiliki hasil yang manjur. Benarkah diujung rotan ada emas? sebuah pertanyaan dilematis untuk menemukan jawaban bagi seorang guru muda seperti saya. 

Di satu sisi ketika rotan tidak menjadi andalan maka guru akan dihadapkan dengan situasi mental anak didik yang sudah terlanjur dibiasakan dengan rotan sebagai batasan kenakalannya. Dan disisi lain apakah kebiasaan di ujung rotan ada emas harus terus diwarisi menjadi budaya dan apakah kita tidak bisa menghilangkan tradisi ini? 

Sebagai seorang pendidik muda saya berkeyakinan ada beberapa poin penting yang menjadi bahan pertimbangan untuk menghilangkan rotan mempertahankan emasnya. 

1. Perlu kesadaran bersama dalam mengkampanyekan pentingnya pendidikan dikeluarga sehingga pendidikan dikeluarga tidak membentuk mental kekerasan terhadap anak dari hal hal yang sederhana. Misalnya ketika melakukan perintah terhadap anak tidak perlu bersuara keras dan mengandalkan obyek lain seperti rotan untuk menyadarkan dan menggerakan hati anak untuk melakukan sesuatu karena hal ini akan berdampak pada psikologi kebiasaan anak dan akan terus terbawa sampai ke pendidikan lingkungan sekolah. 

2. Perlu ada kebijakan ke sekolah untuk tidak semua guru mengandalkan rotan sebagai media menyadarkan anak karena hal ini secara berlahan akan membentuk kesadaran dan kebiasaan anak bahwa tidak semua harus mengandalkan rotan serta secara berlahan secara kuantitas kebiasaan guru seperti ini akan bertambah terus setiap tahunnya,  misalnya untuk tahun ini ada 2 guru yang tidak mengandalkan rotan sebagai media penyadaran anak maka di tahun berikutnya akan ada 4 guru yang sama dan secara berlahan budaya diujung rotan akan memudar dan menyisahkan emasnya. 

Semua cita cita dan tujuan mulia tentu saja tidak segampang membalikan telapak tangan tetapi membutuhkan perjuangan dan kesadaran bersama. Kalau di tahun 2017 kita merayakan kemerdekaan yang ke 72 tahun maka di 2045 kita akan merayakan kemerdekaan yang ke 100 tahun. Angka 100 identik dengan emas dan menjadi harapan di 2045 emas tidak lagi hanyalah simbolisasi angka tetapi terwujud lewat generasi emasnya. Selamat hari kemerdekaan yang ke 72 tahun untuk bangsaku. Bagimu negeri jiwa raga kami. Merdeka!!!!!!!!

Oleh: Rus Lepe