Landu Tepong, Sebuah Cerpen
Cari Berita

Landu Tepong, Sebuah Cerpen

5 August 2017

Janganlah ada rasa benci dan permusuhan diantara kamu, hiduplah damai sebagai saudara satu sama lain, hanya dengan itu, duniamu akan menjadi layak dihuni (Foto: Hiro Edison)

Rumah di samping tempat aku tinggal tampak sepi. Katanya, rumah itu merupakan bekas peninggalan seorang tentara kolonial Belanda. Dari dulu hingga sekarang, tak ada satu pun keluarga yang bertahan hingga jangka waktu dua bulan untuk mendiami rumah itu.

Dari semua yang pernah mendiaminya, cerita tentangnya hampir selalu sama. “Hampir tiap malam aku selalu mendengar suara aneh dari ruang tamunya”, tutur si Lala yang kebetulan pernah menginap di sana saat pamannya Lanur tinggal di rumah itu. Tidak jauh berbeda dengan cerita sang Ponakan, Paman Lanur pun bercerita, “Tiap malam, menjelang jam 10.00 malam, dari kamar dekat ruang tamu, aku selalu mendengarkan suara orang yang sedang mendendangkan landu tepong (kidung)”.

Berdasarkan kesaksian mereka yang pernah tinggal di sana, aku menjadi semakin penasaran untuk mencari tahu misteri itu. Hampir tiap malam aku mencoba untuk mengarahkan kupingku ke arah rumah itu. Sesekali aku berharap untuk bisa mendengarkan nyanyian landu tepong yang diceritakan itu. Semakin berharap suara itu semakin jauh dari gendang telingaku. Yang kudapatkan hanyalah hembusan angin malam yang menusuk masuk ke dalam pori-pori. Dinginnya bahkan menyentuh tulang-tulang rawanku.

Rasa ingin tahu akan fenomena yang cukup misterius itu memenuhi seluruh diriku.  Aku seakan dihantui olehnya sehingga tubuhku kadang bergemetaran dan aliran darah pada pembuluh darah berlari kencang.

Suatu hari, aku mencoba untuk mengunjungi rumah itu. Pastinya bukan malam hari. Sebab aku masih takut. Bahkan ketika aku memasukinya pada siang hari, bulu kudukku berdiri tajam. Langkahku pun bergemetaran. Sesekali saya menoleh ke kiri dan ke kanan sembari melihat dinding dan lorong-lorong rumah itu. “Menyeramkan”, gumamku.

Pada dinding-dindingnya aku melihat sarang laba-laba yang hampir pasti tidak pernah dibersihkan sebelumnya. Dari dinding-dinding kamar aku mendengarkan suara cicak yang berkejar-kejaran. Di dalam ruang tamu, foto sang kolonel yang berukuran raksasa menghiasi seluruh dinding ruang tamu. Wajah khas Belanda, dengan kumis tebal, serta senyum yang sedikit sinis menjadi pemandangan yang cukup meankutkan. 

Setelah melihat bagian dalam rumah itu, aku pun kembali. Rasa takut terus menggerogoti diriku. Taka ada pilihan lain bagiku. Kakiku seakan tak mampu bergerak untuk meneliti seluruh ruangan tersebut. Dapur yang terletak tidak jauh dari ruangan tamu tidak sempat kujelajahi oleh karena gelapnya ruangan dan koridor yang menghubungkannya.

Malam harinya, ketika aku duduk menyendiri menikmati semiliran angin malam, sesekali aku memandang kawanan kelelawar yang hilir mudik melintasi rumah di samping tempat aku tinggal.

“Untunglah, sinar rembulan malam sangat cerah sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas” celotehku dalam kesendirian. Sesekali tanganku mengambil kretek dari meja di sampingku. Aku menyalakannya dan dengan irama yang sama aku mengisap dan menghembuskan asapnya.

“Tak apalah, jika ini hanya menjadi senjata untuk mengusir dinginnya angin malam”, gumamku sambil melepaskan asap yang sedikit aku tahan dikerongkonganku. Tak lama setelah itu, aku mendengarkan suara orang yang sedang bernyanyi. Kedua kuping telingaku secara spontan bergerak mencari asal dan sumber suara itu.

Sejenak aku berhenti merokok dan dengan sigap mematikan apinya. Tanpa analisis lagi, aku langsung mengarahkan seluruh pandangan dan pendengaran kepada rumah yang telah aku masuki tadi. Suara itu makin lama makin keras. Makin suara itu mengeras, kedengarannya makin merdu. Aku pun makin tergoda untuk mendengar nyanyian malam itu dari awal hingga akhir.

Aku merasa beruntung karena baru kali ini kerinduan, penasaran dan pencarianku terpenuhi. Alunan nyanyian sang pelantun landu tepong itu terdengar sangat jelas. Anehnya, lirik landu tepong yang dikidungkan selalu sama. Landu tepong yang berlirik satu bait itu selalu dibawakannya secara berulang-ulang. “Janganlah ada rasa benci dan permusuhan diantara kamu.....hiduplah damai sebagai saudara satu sama lain.....hanya dengan itu, duniamu akan menjadi layak dihuni”. Itulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh sang pelantun.

Sejenak aku merenung dan berpikri tentangnya. Namun beratnya kelopak mata untuk bertahan melihat sinar rembulan memaksaku untuk bergegas menuju kamar tidurku. Kebetulan, sang pelantun itu berhenti bernyanyi dan berdendang. Tidak tanggung-tangung, aku langsung menarik selimutku menutupi seluruh tubuhku dan memejamkan mata. Aku pun tertidur lelap sepanjang malam tanpa ada mimpi yang terpatri dalam benakku.

Dari luar kamarku, aku mendengar suara si merah jantan yang dengan setia membangunkan warga sekitar tiap harinya. Tak ingin terganggu oleh suaranya, aku langsung bergegas dari tempat tidurku. Persis ketika aku keluar dari kamarku, aku mendengar suara alat berat sekelas eksavator yang sangat bising.Saking penasarannya,aku langsung bergegas ke teras depan untuk mencarinya.

Betapa terkejutnya aku, ketika aku melihat sepasang alat berat membumiratakan rumah di samping tempat tinggalku. Di depan rumah pun mobil-mobil pick up berlalu lalang mengangkut tumpukan material rumah peninggalan itu. Cerita dan rasa ingintan ku tentang rumah itu menjadi sirna bersamaan dengan tumpukan-tumpukan itu. Semuanya ditelan oleh angin dan juga oleh mereka yang memerintah untuk membongkarnya.

Tidak lagi ada kenangan atau cerita apapun di atas bekas bangunan itu. Semuanya telah sirna dan yang ada hanyalah secuil kenangan dari cerita mereka yang pernah tinggal di sana. “Untunglah, aku pernah memasuki rumah itu dan mendengar apa yang menjadi rahasia rumah itu”, celotehku dalam hati.

Rumah peninggalan yang telah dibongkar itu membawa serta semua cerita yang ada padanya. Semuanya menjadi hilang bersamaan reruntuhan yang dibuang oleh mereka yang merobohkannya.

Akan tetapi, pada hari ini kisah dan gema kidung darinya tidak hilang ditelan bumi. Pesannya menjadi aktual bagi perdamaian semua orang saat ini. Kidung perdamaian yang dinyanyikan oleh sosok tanpa badan dari rumah sang kolonis itu kini semakin bergema dengan lantangnya.

Alih-alih ia hendak bernyanyi bagi mereka yang sedang tidur pada malam hari tetapi gema suaranya kini menyentuh gendang telinga semua orang yang tengah sibuk di siang bolong. Aku juga tak pernah tahu, mengapa sang pelantun itu menyanyikan kidung itu tanpa henti ketika semua orang tertidur?

Oleh: Hiro Edison