Kolaborasi Wali Songo dan Misionari Katolik: Meneropong Indonesia dari Desa
Cari Berita

Kolaborasi Wali Songo dan Misionari Katolik: Meneropong Indonesia dari Desa

14 August 2017

Sejenak pikiran usil diawal pagi ini: Nabi Muhammad dan Yesus Kristus tidak pernah belajar Teologi dan Filsafat baik Teologi dan Filsafat Islam maupun Teologi Katolik dan Filsafat, tapi mereka berdua merupakan teolog dan filsuf terkemuka bahkan bisa mengubah seluruh dunia tanpa harus mengubah Tradisi dan tatanan kemasyarakatan yang sudah lama berkembang di tengah masyarakat yang merupakan kearifan lokal masyarakat itu sendiri.

Bagi saya; baik Nabi Muhammad maupun Yesus menjadikan situasi masyarakat sebagai “sekolah” Teologi dan Filsafat sekaligus sebagai tempat untuk membumikan teologi dan filsafat Mereka dengan tetap merawat tradisi yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat, memelihara segenap potensi dan kekuatan peradaban yang dilestarikan melalui kebudayaan dan kesastraan.

Gerak Kemanusiaan Wali Songo dan Misionaris Katolik 

Hari ini kita semua mendengar istilah Membangun Indonesia dari Desa. Isitlah ini sebenarnya bukan istilah baru, tapi adalah warisan gerak kemanusian para Wali Songo dan juga Misionaris Katolik. Kehadiran para Wali Songo maupun Misionaris Katolik pertama-tama adalah berada dan hidup bersama masyarakat pedesaan dan pedalaman yang dalam segala situasi serba kekurangan.

Mereka mengawali karya misi mereka dengan membangun pesantren, asrama untuk memanusiakan manusia. Menjadikan manusia bermartabat. Rumah sakit dan klinikpun didirikan untuk membantu masyarakat yang hari ini diharapkan menjadi ujung tombak pembangunan manusia Indonesia yang lebih beradab.

Harus diakui bahwa peradaban bangsa dan manusia Indonesia hari ini tidak terlepas dari gerak kemanusiaan para Wali Songo dan Misionaris Katolik yang menyadari bahwa pembangunan bangsa Indonesia tidak dimulai dari pusat-pusat kota melainkan dari desa atau kampung.

Membaca kembali perjalanan Misi para Wali Songo juga para Misionaris saya kagum pada gerak perjalanan karya misi mereka entah di dalam mewartakan ajaran agama Islam maupun agama Katolik. Gerak misi para Wali Songo maupun Para Misionaris diawali  dengan usaha mengenal, memahami situasi kehidupan masyarakat, bersikap dan bertindak dalam ruang lingkup kultural maupun geografis untuk mewujudkan keselamatan dan sebagai bekal mempersiapkan hidup rohani masyarakat setempat.

Dalam kerangka mewujudkan keselamatan bagi manusia dan mempersiapkan masyarakat untuk membangun peradaban para Wali Songo dan Para Misionaris tak lupa untuk menulis dan menghasilkan karya mereka berhadapan dengan situasi yang dihadapi. Dan itu nyata bahwa karya mereka menjadi sebuah kronik kehidupan sepanjang masa. 

Kegiatan tulis menulis menjadi awal kegiatan mereka yang mana bisa kita lihat dan dinikmati hingga saat ini dengan lahirnya pesantren, seminari, asrama dan sekolah di wilayah pedesaan/pedalaman. Di samping kegiatan tulis menulis, pelestarian tradisi yang sudah berkembang dalam kehidupan masyarakat terus dipelihara dan dijaga melalui kegiatan kebudayaan dan kesastraan yang menjadi sarana komunikasi dan interaksi baik antara para Wali Songo ataupun para Misionaris dengan masyarakat yang dilayani dalam bermisi.

Yang menarik dari karya misi para Wali Songo maupun Para Misionaris dimulai dari wilayah pesisir. Kita bisa melihat kehadiran para Misionaris dan para Wali Songo di seluruh wilayah Indonesia yang semuanya berawal dari wilayah pedalaman atau pedesaan. Dalam rangka membangun peradaban; sebagaimana yang dilakukan para Wali Songo dengan membangun orientasi pertanian seperti juga yang dilakukan para Misionaris, peradaban umat manusia menjadi guyub dalam persatuan karena juga berkat dukungan peradaban agraris dalam semangat Gotong Royong.  

Dalam rangka mengkomunikasikan Iman dan ajaran agama Islam, para Wali Songo mengkomunikasikannya dengan menggunakan wayang sebagai ruang komunikasi sosial. Hal yang sama juga dilakukan oleh para Misionaris dengan memanfaatkan kearifan-kearfian lokal untuk mengkomunikasi iman dan ajaran-ajaran Katolik termasuk dalam kegiatan liturgis. Dalam rangka membangun moral dan etika masyarakat, para Wali Songo maupun para Misionaris menggunakan cerita rakyat, cerita orang-orang kecil, pepatah, pribahasa yang berbasis dalam kehidupan orang-orang desa/pedalaman sebagai “ilmu” pendidikan peradaban bagi masyarakat.

Berkaca pada gerak Misi dan pendidikan Para Wali Songo dan Para Misionaris serta dihadapkan pada gerak misi dan pendidikan sekarang ini dengan melihat kondisi bangsa saat ini, di mana peradaban, wawasan dan kesadaran kebangsaan semakin hilang dari ruang-ruang publik, maka saya dan tentunya para sahabat semuanya agak “sepakat” bahwa krisis Iman, Agama dan Pendidikan serta peradaban bangsa saat ini karena gerak misi kehilangan orientasinya untuk merawat dan melastarikan tradisi melalui ruang kebudayaan dan kultural di dalam kehidupan beriman dan beragama serta orientasi pendidikan lebih berorientasi pada nilai angka dan investasi ekonomi tanpa pernah menyentuh tradisi yang berkembang dalam masyarakat dan lebih berorientasi pada modernisasi sebagai sebuah kolonisasi baru atas peradaban masyarakat pedesaan/pedalaman.

Haruskah atas nama modernisasi, globalisasi dan politik ekonomi, kita melupakan atau bahkan menggadaikan perjuangan emas para Wali Songo dan Misionaris dalam membangun keadaban bangsa...?? Selamat merenung.

Misi adalah Merawat...Pendidikan adalah melestarikan
Ziarah renung bersama Wali Songo dan Misionaris: Senin, 14 Agustus 2017

Oleh: Fr. Juan Tuan MSF