Jiran, yang Kukisahkan dari Sebuah Perjalanan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Jiran, yang Kukisahkan dari Sebuah Perjalanan

29 August 2017

Secara kebetulan atau entah berdasarkan kesengajaan saya harus berada dalam barisan yang sama menempati tempat duduk dalam bis bersama 'jiran' yang kusebut begitu saja namanya (Foto: Dokumen Pribadi)
Langkah itu masih mengayun, pilu itu masih menetes. Di atas ujung rambut yang memerah kekuningan terselip kaca mata hitam merapikan sebagian helai yang terurai. Menenteng ransel dipunggung, tangan kanan menggengam ujung tangkai travel bag atau koper sebutan yang lazim digunakan kaumku. Ia mulai melangkah ke pintu keluar dan menuruni anak tangga lambung kapal motor umsini.

Ia rela berdesak desakan diantara penumpang pengguna jasa transportasi laut, dan berhadapan dengan portir yang berjalan berlawanan arah.

Sesekali mulutnya mengeluarkan kata kata kekecewaan dengan logat khas melayu.

"Gimana ya, kok ndak bisa menahan diri untuk berbaris".

Kaca mata hitam di atas kepalanya tetap masih aman pada posisinya, sehingga ia menjadi perhatian mereka yang berjubel di dermaga yang menawarkan jasa angkutan darat.

"Nona mau kemana?"

"Nona bajawa kah?"

"Nona ende kah?" Itulah tawaran yang berulang ulang keluar dari mulut para pengendara jasa angkutan.

Dengan ekspresi menggeleng ia membalas tawaran mereka dengan berkata "ndak, aku mau ke Mbay'.

Ahhh ...rupanya kami satu jurusan angkutan celetukku dalam hati.
Benar  dugaanku yang akhirnya kenyataan bahwa kami harus dalam satu angkutan antar kota dalam provinsi yang sama menuju Flores tengah bagian utara.

Secara kebetulan atau entah berdasarkan kesengajaan saya harus berada dalam barisan yang sama menempati tempat duduk dalam bis bersama 'jiran' yang kusebut begitu saja namanya karena tak berani ku tanyakan namanya karena jiran masih dalam situasi emosional yang belum stabil akibat berdesakan di pintu keluar kapal.

setelah menempati tempat duduknya pun masih berceletuk "mendingan hidup di luar negeri, daripada dalam negeri kesadaran untuk antri saja sulit" kali ini kata kata yang jiran keluarkan menggunakan logat asli bahasa ibu mungkin dikarenakan emosional yang belum stabi sehingga logat melayunya mengalami amnesia ringan dadakan.

Dengan pelan dan sopan saya mulai ikut nimbrung ke pembicaraannya, "benar kakak keamanan dan kenyamanan penumpang sepertinya di abaikan." jiran pun membalas "iya ade, seharusnya kita belajar dari negeri tetangga, sayapun mulai menyambung pembicaraan basa basi " kaka naik kapal dimana?

saya naik dari pelabuhan kijang, setelah nyebrang dari malaysia minggu lalu.

Dalam hati saya berkata pantasan ia logat melayu.

Jiran bercerita panjang lebar sepanjang perjalan, mulai dari penyiksaan tenaga kerja, sampai tidak bertanggung jawabnya perusahan jasa tenaga kerja yang hanya menarik keuntungan dari TKI tanpa memeperhatikan mereka. dan juga jiran mengeluhkan tentang kehadiran negara yang mengabaikan mereka sebagai pahlawan devisa.  mendengar keluhan keluhan jiran Saya  teringat kata kata pedis Bung Adian Napitupulu ketika masih bergerak di parlemen jalanan terhadap Ramadhan Pohan politisi senayan ketika rehat dalam sebuah pembahasan RUU ketenagakerjaan. ia berkata begini terhadap Ramadan Pohan

"Vantovel kilatmu adalah sumbangan jelata, rajutan safari, dan susunan kancing mahalmu adalah sumbangan keringat TKI yang disiksa. Dimana suaramu ketika mereka disetrika? Dimana suaramu ketika mereka diancam hukuman mati?"
Tidak heran jika jiran mengeluhkan itu.

Sambil ku putar otak, kembali mengingat kata kata pedis bung Adian Napitupulu tiba-tiba suara itu membangunkanku.

"Ade No kaka duluan"

Ohh rupanya Jiran sudah sampai tempat tujuannya, dan disambut keluarganya yang berjubel di pinggir aspal.

Sambil menjawab pamitan Jiran saya pun teringat rupanya saya tidak tahu persis nama aslinya karena tidak ada perkenalan antara kami sebelumnya..

Ahhh ya sudalah ku sebut saja namanya "Jiran" gadis eks dari negeri jiran.

Angkutan kota dalam provinsi itu masih melaju kencang. Sesekali pengguna jasa angkutan berteriak histeris bukan kerna om sopir yang ugal-ugalan tetapi memang kondisi infrastruktur jalan raya yang sudah tak layak lagi.

Kali ini om Simon salah satu penumpang berceletuk "ahh mereka yang terhormat apabila lewat sini tidur kah, sampai tidak merasakan kalau areal jalan ini rusak parah".

Sayapun nimbrung lagi ke pembicaraan om Simon.

"Om mungkin karna mobil yang ditumpangi para yang terhormat, itu harganya mahal, dilengkapi full AC, audio, spon tempat duduk yang empuk, sok dan ver kendaraan yang bagus sehingga mudah untuk tertidur  dan susah untuk membangunkannya".

Om simon pun menyambar pembicaraan saya

"Mereka kita pilih bukan untuk tidur anak"

Saya kembali memancing argumen om Simon "oh iya om tapi tidurkan bagian dari sisi manusiawi yang butuh istirahat".

Om simon menaikan volume suaranya "ahhh anak, spon mahal, ac ,audio atau apa pun tetek bengek yang mereka nikmati itu sumbangan dari kita jual babi, kambing, dll."

Sambil tertawa kami dikejutkan dengan sebuah bunyi yang mirip bom dengan daya ledak rendah.

Ahhhh, ban pecah celetuk om sopir

"Ayo kita cari bengkel tambal ban "

Sambil menunggu sang dokter spesialis penambal ban membereskan dan menyelesaikan pekerjaan saya dan om Simon menikmati kenikmatan yang mengalir dari tiap tarikan yang kami nama kan "sang surya 12" .

Dari arah berlawanan terlihat mobil bermerk Pajero, berplat merah dengan nomor seri muda melaju kencang dengan  kaca pintu tertutup rapi, hanya terlihat samar bayangan motif warna safari mahal dari balik kaca.

Dengan ekspresi menggeleng saya tersenyum membaca tulisan sang penambal yang di cetak di baliho mini ukuran 2 x 1 meter di depan bengkel tambal bannya.

Bengkel rakyat "SENANG LAJU TERUS, SUSAH SINGGAH".

Oleh: Rus Lepe