Inspirasi Ke-Indonesiaan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Inspirasi Ke-Indonesiaan

1 August 2017

Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu
Ad Maiorem Dei Gloriam. Sebuah pesan bijak syarat spiritualitas kerohanian dari seorang Santo kawakan Ignatius Loyola. Hanya demi Kemuliaan Allah, demikian makna dan arti dari pesan spiritual ini yang menjadi permenungan tidak hanya bagi kita umat Katolik tetapi bagi kita semua sebagai warga bangsa Indonesia.

Makna dari ungkapan diatas kelihatan sederhana namun sulit diterjemahkan dalam tindakan konkret. Bekerja dan bertindak hanya dan demi kemuliaan dan keluhuran Allah. Menjadi pelayan, hamba dan kecil bagi sesama demi Kemuliaan Allah, demikian makna sederhana dari warisan rohan Santo Ignatius Loyola.

Ketika ungkapan ini diterjemahkan dalam konteks Indonesia, maka hanya segelintir orang khususnya mereka yang bergerak di Politik Praktis untuk Indonesia-yang bagi saya mereka adalah Inspirasi ke-Indonesiaan-yang sungguh-sungguh bekerja demi Kemuliaan Allah, dalam hal ini demi Kebaikan Bersama Indonesia.

Harus kita akui sebagian besar mereka yang kita agungkan sebagai Wakil Rakyat, Kaum Intelektual dan tokoh masyarakat serta tokoh agama, bahkan ketua partai yang mantan Jendral justru bekerja bukan untuk kemuliaan Allah, melainkan demi kemuliaan nama pribadi, partai dan kelompok. Mereka lebih nyaman bergunjing ria seraya mengipaskan suasana panas daripada bekerja untuk Indonesia Damai dan Sejahterah.

Ad Maiorem Dei Gloriam. Mereka adalah:

Gus Dur: Mantan Presiden RI ke-4, demi keselamatan dan keutuhan bangsa Indonesia, Beliau rela meninggalkan istana kepresidenan, sekaligus melepaskan jabatan sebagai Presiden, meski dilengserkan secara tidak wajar oleh persengkongkolan dari sebuah permainan politik busuk. Ia menunjukan bahwa keselamatan Indonesia lebih besar dan berharga daripada kenyamanan kekuasaan, partai dan kelompok.

Romo Mangunwijaya: Sahabat Gus Dur ini adalah sosok sederhana. Seorang Imam Katolik yang mengubah perkampungan kali Code menjadi perkampungan percontohan, perkampungan kemanusiaan. Meski berhadapan dengan kekuatan penguasa dan politik tak menyurutkan langkah dan gerak kemanusiaan Romo Mangun untuk memanusiakan manusia demi Indonesia sejahterah.

Ahok: Mantan Gubernur DKI Jakarta. Demi Jakarta yang aman dan damai serta Indonesia yang sejahterah dalam payung kebhinekaan dan Pancasila, Ia rela menerima vonis hukuman dua tahun penjara. Tak ada sedikitpun dendam tersimpan dalam sukma kemanusiaannya. Kalah dalam pilkada DKI, masuk penjara pula. Namun tak melunturkan cinta dan pelayanan bagi bangsa Indonesia khususnya masyarakat DKI Jakarta. Terbukti 200 juta dari kantong pribadi disumbangkan untuk memperbaiki air mancur Monas menari agar masyarakat Jakarta dan Indonesia ikut menari dalam kesatuan dan persatuan.

Buya Safi’i: Mantan Ketua PP Muhammadiayah ini terus menyuarakan keadilan dan kebenaran meski suara keadilan dan kebenaran itu membuat Buya harus berhadapan dengan cacian, cemoohan yang datang dari pihak lawan, yang sejatinya adalah “anak-anak didik” Buya sendiri. Sendiri menghadapi gerombolan preman berjubah tak membuat Buya gentar untuk menyuarakan kedamaian demi Indonesia. Cacian dan cemoohan tak mengalahkan dan tak mampu membungkam suara ke-Indonesiaan Buya untuk berdiri tegak memperjuangkan keutuhan NKRI.

Gus Mus: Tokoh NU yang sederhana namun memancarkan aura kesejukan dan perdamaian ini selalu menyampaikan pesan-pesan perdamaian yang menyejukan namun kritikan dalam ragam puisinya yang menyayat para lawan pengacau keutuhan NKRI. Ketika Mukhtamar ke-33 berlangsung, Gus Mus mengundurkan diri menjadi Rais ‘Aam (Imam Besar) NU untuk periode 2015-2020. Gus Mus menolak dengan alasan masih ada yang lebih baik dari dirinya.

Itulah Gus Mus, Ulama yang sangat rendah hati, jangankan mendaulat dirinya menjadi imam besar umat Islam di Indonesia, menjadi Rais ‘Aam (Imam Besar) NU saja dia tolak dengan alasan bahwa dirinya belum baik dan masih ada yang lebih baik dari dirinya. Sikap Gus Mus ini menjadi kritikan dan tamparan keras bagi para politisi yang hari ini haus jabatan dan kekuasaan, yang sibuk mencari celah dan memfitnah untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan.

Quraish Shihab: Tokoh Islam yang ramah dan sederhana ini juga selalu menuai cacian dan cemoohan dari lawan-lawannya berwatak radikal karena ajaran-ajaran Beliau yang selalu menyejukan. Beliau selalu mengajarkan kemanusiaan dan kedamaian bahkan menolak untuk disapa Imam Besar, meski berdasarkan garis keturunan Beliau layak disapa sebagai Imam Besar.

Jokowi: Pak Jokowi Presiden RI sekarang adalah Presiden yang sederhana dan jauh dari praktek KKN. Kita tahu anak-anaknya berusaha sendiri tanpa mengandalkan nama besar Beliau. Bahkan Puteri Beliau pernah gagal dalam tes PN di Solo. Beliau adalah Presiden yang suka blusukan yang membuat lawan politik semakin bernafsu untuk menjatuhkan. Beliau menghadapi lawan bukan dengan demo, bukan pula dengan pertemuan sesama tokoh sakit hati tetapi cukup dengan kerja.

Keputusan dan Kebijakan Beliau seringkali memang tidak populer, tapi itulah Beliau demi Indonesia tetap dalam kesatuan dan tegaknya Beliau seringkali mengambil kebijakan yang tidak populer yang membuat para lawan politiknya termasuk Jenderal sekalipun kewalahan menghadapi Beliau.
Sapaan pedas Beliau terakhir untuk kedua jenderal yang sedang sakit hati oleh karena kebijakannya melalui Perppu Ormas dan Presidential Threshold 20 %; “Tidak ada kekuasaan yang absolut”, menjadi sebuah tamparan yang menyayat jika kedua jenderal itu sadar.

Beliau adalah Presiden yang mencatat sejarah di mana harga bensin dan bahan-bahan lainnya di Papua sama dengan harga di wilayah Jawa, yang mana selama sepuluh tahun dipimpin oleh sang Jenderal tak pernah terurus.

Ad Maiorem Dei Gloriam itulah mereka dari sekian banyak tokoh Inspirasi ke-Indonesiaan di tengah gerombolan politisi yang sedang haus jabatan, kekuasaan, sibuk memfitnah dan mengkritisi namun tertidur ketika berpikir dan bekerja untuk rakyat Indonesia.

Terimakasihku untuk kalian sang Inspirasi yang semakin meyakinkanku bahwa Indonesia tetap tegak berdiri dalam keutuhan NKRI dan tetap damai dalam payung Pancasila.

Manila: July-31-2017
Fr. Juan Tuan MSF