Generasi Milenial Di Kancah Politik Nasional
Cari Berita

Generasi Milenial Di Kancah Politik Nasional

30 August 2017

Terminologi generasi yang saat ini banyak diperdebatkan di berbagai kalangan mengenai generasi milenial yang saat ini berkembang bersamaan dengan lajunya kemajuan sosial media apa lagi dibidang politik (Foto: Andi Andur/marjinnews)
Polemik politik semakin ramai diperdebatkan di sosial media, suasana politik yang melahirkan pandangan positif dan negatif untuk kalangan milenial yang sesungguhnya berada pada zamannya sosial media yang berkembang dan maju begitu pesat.

Namun sebelum melangkah lebih jauh marilah kita memahami dahulu arti dari kata milenial. Terminologi generasi yang saat ini banyak diperdebatkan di berbagai kalangan mengenai generasi milenial yang saat ini berkembang bersamaan dengan lajunya kemajuan sosial media apa lagi dibidang politik.

Generasi milenial ialah kelompok generasi yang lahir diantara tahun 1980-an sampai 2000-an yang saat ini berusia dikisaran 15–35 tahun. Di Indonesia studi dan kajian tentang generasi milenial belum banyak dilakukan, padahal secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15–35 tahun saat ini sangat besar yaitu 34,45%.

Tahun–tahun sebelumnya memang ada sebuah majalah bisnis yang tajuk utamanya generasi milenial tapi sayang coverage liputannya masih batas hubungannya  generasi milenial yang hanya sebatas dunia pemasaran, belum masuk secara subtansi ruang lingkup kehidupan generasi milenial secara umum apalagi di dunia perpolitikan.

Jika dilihat berdasarkan realitas maka, generasi milenial pada umumnya lebih mengutamakan kehidupan mereka secara pribadi dari pada berurusan dengan kepentingan umum, kehidupan yang didalamnya difasilitasi dengan teknologi modern.

Zamannya tv sudah berwarna, menggunakan remote, handphone dengan teknologi yang begitu canggih. Menurut pandangan generasi yang lahir sebelum generasi milenial mereka berpendapat bahwa, generasi milenial ialah generasi yang sering eksis narsis di sosial media dengan kehidupan kesehariannya.

Lebih suka memposting kehidupannya sampai pada privasi mereka sendiri, ada pun peralihan budaya, adat istiadat dan perilaku mereka yang mengikuti kehidupan asing sehingga pudarnya budaya dan adat istiadat serta pola kehidupan yang mengalami keterpurukan, mungkin inilah pendapat dari generasi yang lahir sebelun generasi milenial.

Namun dibalik itu semua fakta juga memberikan pandangan yang cukup besar bahwa tidak semua generasi milenial itu berkarakter yang sama, yaitu yang disebut sebagai generasi narsis dan eksis. Peran generasi milenial juga begitu penting dalam maraknya suasana politik yang semakin memanas, baik secara individu atau kelompok ada yang menyukai dan ada juga yang tidak. Mungkin sebagian dari pandangan milenial bahwa politik itu merusak budaya, pola pikir, dan kehidupannya.

Jika kita mendalami pengertian politik dari bahasa Yunani ialah politikos yang artinya dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Penjelasan yang lebih mudah ialah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain untuk mewujudkan proses pembuatan keputusan, berkaitan dengan hal ini maka ada pepatah yang mengatakan bahwa, jika bukan kita siapa lagi?

Untuk saat ini peran generasi milenial di kancah politik dapat dibuktikan secara faktual dengan berita yang menjadi trending topic yaitu peran seorang pumudi Indonesia, seorang mahasiswi universitas paramadina. Namanya tidak asing lagi untuk didengar “Tsamara Amany”. Ia adalah seorang mahasiswi Universitas Paramadina kelahiran 24 Juni 1996. Keinginan, kecerdasan dan kepeduliannya pada dunia politik inilah yang kemudian memikau ketua DPP partai PSI yang langsung melakukan pedekatan dan memintanya bergabung bersama PARPOL PSI.

Peran dan keterlibatannya di dunia politik yang begitu baik, maka ia secara langsung diangkat oleh ketua PARPOL PSI sebagai DPP dalam partainya. Salah satu peran si cantik ini yang mengundang perhatian publik ketika ia diundang turut hadir dalam acara ILC yang mempertemukannya dengan politisi senior sekaligus wakil ketua DPR RI, Fahri Hamzah untuk memperdebatkan masalah kasus E-KTP sekaligus tangapan si cantik mengenai argumen dari Fahri Hamzah yang sebelumnya sempat ramai di Twiter.

Sosok si cantik ini yang  membuktikan bahwa pentingnya peran generasi milenial di kancah politik, ia pernah mengatakan bahwasannya seseorang sering dan ingin untuk merubah sistem namun dirinya harus masuk kedalam sistem tersebut barulah ia dapat merubah semua itu. Sosok orang ini yang manjadi sebuah inspirasi kehidupan teruma peran generasi milenial dalam mengatasi sekaligis berperan langsung dalam dinamika politik Indonesia. 

Oleh: Fransiskus Tawurutubun