Cherry Blossom Part 1

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Cherry Blossom Part 1

10 August 2017

BAB 1: DHIRGA 

“Hanya satu orang di antara sekian banyak orang Indonesia. Hidup di kota Jakarta yang super duper sibuk, tanpa memiliki kesibukan yang seakan mencekik lehermu.” Ujar seorang wanita berambut panjang dengan warna cokelat gelap dan highlight merah. Kacamata bulat bergagang emas yang bertengger manis di hidungnya segera dilepaskannya demi bisa memperlihatkan raut wajah kesalnya terhadap lelaki di hadapannya ini.

“Bilang aja kalau lo iri, San. Orang kayak Dhirga ini emang cuma satu per satu juta orang di dunia. Nggak terikat jam kerja yang gila-gilaan. Tinggal hang out, hunting, terus jeprat-jepret sana-sini. Eh, tau-tau duit udah ngalir di rekeningnya. Udah gitu jumlahnya berlipat-lipat dari punya gue lagi.” Kini giliran lelaki berambut cepak dengan wajah oriental khas China-Indonesia. Matanya yang emang sudah sipit dari lahir semakin tidak kelihatan ketika dia mulai menyipitkan matanya ke arahku. Aku hanya menanggapi gerutuan penuh iri dari sahabat-sahabatku dengan senyuman singkat. Wajahku sama sekali tidak ku alihkan dari kamera kesayanganku. Yang sudah menemani susah senangnya hidupku selama merintis karir sebagai fotografer.

“Lo sendiri juga iri, kan Yo? Nggak usah berbelit-belit buat ngelak. Keliatan banget dari kalimat lo tadi, nada bicara lo juga. Kalau lo juga iri sama sahabat kita yang satu ini.” Balas sahabatku yang bernama Sandy tadi. Sementara Leo, sahabat laki-lakiku hanya mampu tersenyum masam.

“Udahlah, stop sirik-sirikan kayak gini. Heran deh gue, dari jaman ingusan sampe wangi gini kalian masih aja sirik sama gue. Tiap orang kan udah punya garis hidupnya sendiri-sendiri termasuk rejeki.” Mungkin udah 100 kali aku menceramahi mereka berdua tentang pentingnya bersyukur. 

Maklumlah, mereka berdua kan pegawai kantoran yang kebetulan kerja di Perusahaan besar. Jadi pasti sibuk banget. Si Sandy ini pinter banget IT makanya dia kerja di Zeze Factory. Itu nama perusahaan game terbesar di Korea yang buka kantor di Indonesia.Seleksi masuknya itu ketat dan sulit banget. Makanya, waktu kita dikasih tahu tentang berhasilnya dia masuk salah satu Big Factory di Korea Selatan itu, kita langsung ngerayain dengan ambil cuti 3 hari buat liburan di Singapura.

 Walaupun akibatnya kita jadi harus mundurin waktu pulkam jadi tahun depan. Hehehe.. Sementara si Leo, dia kerja di perusahaan Majalah skala Internasional yang buka cabang di Indonesia yaitu Nylon. Dan menjabat sebagai Wakil Direktur. Dia rada kasihan sih, soalnya Direkturnya itu cuma pegang namadoang. Maklumlah, beliaunya kebetulan anak yang punya perusahaan jadi masih harus di ajari.

“Lo nggak tau sih rasanya kalo kerjaan lo jadi bertambah 3 kali lipat akibat kedatangan anak CEO yang songong tapi nggak punya skillsama sekali. Gue harus ngerjain bagian gue, bagian dia, ditambah ngajarin dia supaya bisa jadi direktur yang bener. Lo bayangin aja, dia itu baru aja semester 4, broo!!! Sedih banget kan jadi gue?” omel Leo.

“Udah bagus lo semua dapet kerjaan bagus di Jakarta. Liat tuh temen-temen kita? Banyak banget kan yang sampai sekarang masih aja nganggur?Mending juga kita, lulus langsung dapet kerjaan. Makanya, dewasa dikit, kek…” balasku akhirnya. Tiba-tiba, sahabat tengilku yang bernama Leo merubah ekspresinya yang awalnya masam menjadi tersenyum. Menyebalkannya, itu adalah senyum yang kukenal paling berbahaya sejagat.

“Iya sih, Ga. Tapi lama-lama rontok deh badan gue kalo kerjanya full time mulu.Zeze tuh emang jago bikin karyawannya terpaksa jomblo abadi akibat harus macarin komputer di kantor. Pokoknya ini gara-gara perusahaan sebelah tuh kurang ajar banget nyuri ide kami.. Kampretttt….. Belum lagi bos gue yang ngeselin banget, omaigat! Kalo bukan karna tampangnya yang sebelas-dua belas samaNicholas Saputra udah cabut gue dari situ. Lo tahu nggak sih…” belum sempet Sandy menyelesaikan curahan hatinya, Leo sudah memotongnya dengan kalimat keramat yang lagi kuhindari hari ini.

“Dewasa sih oke. Buat gue deal aja. Tapi kalau soal traktiran di hari ulang tahun itu tetap kewajiban lho, bro. Traktiran pas ulang tahun itu harga mati.” Ujarnya penuh kepuasan. Sedetik kemudian, wajah Sandy yang frustasi langsung berubah menjadi berseri-seri. Sekarang aku mulai mengutuk kenapa tanggal ulang tahunku harus 27 Juli. 

Seingatku, aku harus menunggu beberapa hari lagi menuju tanggal 6 Agustus agar honorku cair. Double shit! Mana mereka kalo minta traktiran nggak kira-kira lagi. Terakhir, waktu foto-fotoku berhasil masuk pameran salah satu fotografer tersohor diLos Angeles, mereka langsung minta ditraktir makan di hotel bintang lima. Udah gitu makannya rakus banget lagi. Bisa bangkrut aku. Tapi, masa iya aku ngaku kalau lagi bokek? Entar mereka balik menghinaku dan bilang fotoku nggak laku lagi.

“Woyy, kenapa malah diem sih,Ga? Wah, jangan bilang elo lagi bokek deh??? Foto lo udah nggak laku? Tenang, masih bisa kerja di tempat gue kok. Urusan masuknya sih gampang, serahin ke gue aja.” Ucap Leo. Dia ini cenayang ya? Mengherankan sekali ketika dia tahu fakta yang sebenernya. Mungkin juga ini akibat selalu bersama dari kecil. Aku dan Leo ini memang sudah bersahabat dari kecil karena kebetulan kami tetanggaan. Sampai akhirnya kami pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Korea Selatan dan sama-sama dapat beasiswa. 

Berbeda dengan Leo, Sandy bersahabat dengan kami sewaktu kami kuliah di Korea. Kami bersahabat sambil kuliah disana. Sewaktu lulus, kami memutuskan untuk bekerja di Indonesia saja. Alasannya sih simple, kangen. Hahaha… Emang sih, tinggal di Korea itu asyik banget. Tapi yang namanya tanah air, tetep lebih oke dari negara mana pun. Oh ya, Sandy itu sebenarnya mantan Leo, dan mereka masih saling suka sama sekarang. 

Hanya saja mereka memutuskan untuk bersahabat saja karena masih mengejar karir. Waktu itu aku sempat khawatir keadaan akan berubah canggung. Tapi ternyata tidak. Justru anehnya mereka tetap berhubungan baik layaknya nggak pernah pacaran. Aku selalu tanya apa rahasianya. Siapa tahu bisa kuterapkan pada mantan-mantanku.
“Bukan gitu, Yo. Gue bentar lagi ada janji samaseseorang nih. Keburu telat kalo masih nraktir elo-elo semua.” Jawabku beralibi. Sandy yang mendengarnya langsung memonyongkan bibirnya tanda tak setuju sementara Leo menatapku penuh selidik.

“Wah, lo beneran ada affair sama model Indonesia yang namanya Cantika itu ya?” tebak Leo. Wah, parah sekali dia. Nggak ada habis-habisnya mencurigai aku pacaran dengan Cantika. Salah satu model pemenang Putri Indonesia 2017 yang bekerja sama denganku dalam pemotretannya. Padahal kan kita hanya berteman biasa. Memang harus kuakui, Cantika itu agak centil dan suka mencari perhatian denganku. Maklumlah, aku kan ganteng dan populer. 

Eitss, bukannya narsis tingkat dewa. Tapi memang kenyataannya begitu. Kebetulan aku ini cukup tenar di Korea –sewaktu masih kuliah- sebagai fotografer muda paling berbakat yang masuk majalah MOST dan sempat jadi headline di Indonesia. Alhasil aku jadi bahan pembicaraan di negara asalku, dan sempat minta dikontrak banyak agensi namun aku menolak dengan alasan sejujurnya, kalau aku lebih suka menjadi freelancer. 

Baru-baru ini aku mendapati kalau aku mempunyai nama fanbase yaitu Dhirgaddict. Lucu sekali, bukan? Aku bukannya menikmati ketenaranku ini lantas berubah menjadi selebriti. Aku cinta sekali kok dengan profesiku ini. Justru ketenaranku ini secara nggak langsung sangat menguntungkanku. Aku jadi mendapatkan banyak tawaran kerja samadengan beberapa majalah dan artis. Tapi mimpiku sampai saat ini masih satu, dapat menggelar pameran sendiri. Kalian tahu arti mimpi, kan? Artinya belum tercapai. Makanya sampai sekarang aku masih berusaha dan menabung. Supaya mimpiku itu dapat terwujud.

“Dhirga ditanya malah ngelamun. Gue curiga kalau gossip itu emang fakta.” Komentar Sandy tiba-tiba membuyarkan lamunanku tentang cita-citaku. Wah, aku harus segera membungkam mulut-mulut penggosip ini.

“Gue nggak ada affair sama dia, kok. Dia aja yang kecentilan sama gue. Lagian, selera gue tuh cewek berinner beauty yang free spirit kayak gue. Dia nggak termasuk tipe gue. Oke, time’s up. Gue cabut dulu.” Jawabku lalu meringkas barangku.

“Oh, jangan-jangan lo masih nyimpen perasaan sama Alexa. Temen SMA kita dulu?” tanya Leo. Aku terdiam dan menatapnya sebentar lalu tersenyum kemudian.

“Lo tahu sendiri lah…”

“Lo masih kontakan sama dia?”

“Lewat email sih, tapi jarang. Lo tahu sendiri kan dia sibuk banget ngejar mimpinya jadi designer.” Jawabku sambil berdiri dan memakai ranselku.

“Udah ya, gue cabut dulu. Jangan ribut lo berdua. Kalau balikan sih gue ikutan seneng.” Ucapku dengan senyum menggoda lalu segera berlalu dari satu. Meninggalkan Leo dan Sandy yang sibuk mengumpat. Samar-samar aku mendengar teriakan Leo,

“Kalo lo carinya yang kayak gitu bisa-bisa nggak bakalan nikah, bro!”
                                                                       ****
Penulis bernama lengkap Bernadetha Putrinda ini merupakan mahasiswa S1 Teknik Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur. Kecintaannya terhadap dunia jurnalistik membuatnya menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya sastra seperti: Cerpen, Puisi dan Cerita bersambung seperti "Cherry Blossom" ini.  Untuk dapat mengenal dia lebih dekat dapat menghubungi facebook: Bernadetha Putrinda atau kunjungi blog pribadinya: alexamoustory.wordpress.com