Cerry Blossom Part 2
Cari Berita

Cerry Blossom Part 2

15 August 2017

Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan komentar mereka dan berjalan memasuki ruangan, tentunya setelah berkas-berkas yang mau kuberikan sudah siap
                                                                          BAB 2
                                                                         SANDY

“Come on, Sandy! You have 5 minutes left!” suara bariton khas bos-bos diktator menggema di seluruh ruang kantor utama Zeze Factory. Siapa lagi kalau bukan KW 1 nya Nicholas Saputra, Bos Ricko Adiwira terhormat –begitulah warga sekantor menyebutnya- yang sedang berkacak pinggang di depan ruangannya. Aku hanya bisa berdiri takut-takut sambil memasang tampang ramah yang kuyakini sangat kentara maksanya. Sementara, bosku ini memandangku dengan tampang membunuhnya lalu masuk kembali ke ruangannya.

“Lo beruntung banget, San. Bisa dapet posisi karyawan paling dipercaya.” Itu Dian, teman senasib sepenanggunganku selama bekerja di kantor ini.

“Beruntung apanya, buntung iye. Liat dia tiap hari harus lembur.” Celetuk Haris. Aku harus traktir dia karena paling pengertian diantara semuanya. Iya sih, diantara semuanya emang dia yang paling bijaksana dan dewasa. Maklum, paling tua cyinnn…

“Tapi bonusnya, brooo…. Pasti berlipat-lipat.” Itu pasti suara cempreng Gilang yang hobi gosip.

“Kayaknya bos naksir elo deh.” Busettt….. sapa lagi itu yang komentar kayak gitu? Secepat kilat aku menoleh ke arah suara dan mendapati Junet–karyawan paling eksentrik dengan gaya fashion Elvisnya- nyengir kuda sambil mengacungkan dua jarinya. Aku menatapnya sengit seakan bilang berani-bilang-lagi-lo-mati-di-tangan-gue, begitulah kira-kira.

“Artinya elo dapet Jackpot, San. Wah selamat yaa… Mungkin dalam waktu 1 bulan selain naik jabatan lo juga dilamar sama Pak Ricko.” Itu pasti si geblek Meme deh yang komentar.

“Me, mending lo tutup mulut innocent lo itu sebelum singa mengamuk karena betinanya nggak kasih jatah.” Brengsekk…. Gue tau pasti itu mulut Heru yang bicara. Jangan tertipu dengan nama Heru yang alim karena sebenarnya nama panggilannya itu punya kepanjanganan, yaitu Herusak. Begitulah teman-teman kantorku menyebutnya, akibat ulahnya yang selalu bikin sebal orang sekantor. Dan tentunya, setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung arti yang merusak.

Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan komentar mereka dan berjalan memasuki ruangan, tentunya setelah berkas-berkas yang mau kuberikan sudah siap. Sesampainya di depan ruangan aku memutuskan untuk pemanasan dulu sebelum mendapatkan semprotan maksimalnya yang membahana. Aku menghembuskan napas berkali-kali, berusaha merilekskan pikiran dan otot. Lagian, siapa bilang jadi karyawan terpercaya itu enak? Pulang belakangan, udah gitu barengan sama dia lagi. 

Jatah diomelin lebih berlipat-lipat, dan kerjaan selalu senantiasa menemani hari-harimu dimana pun kamu berada. Yang aku herankan, kenapa aku yang dia pilih? Diantara semua senior terbaik disekitarku ini. Aku penasaran dengan apa lebihnya aku dibandingkan mereka? Aku jadi curiga jangan-jangan nilai tesku adalah yang terbaik selama ini. Bisa saja sih… Mengingat aku emang pinter banget IT.

 Bukannya sombong, tapi waktu kuliah dulu, aku bahkan sudah direkrut UI untuk membuatkan server baru. Tentunya aku menyambut baik proyek itu. Selanjutnya, honorku yang segunung itu harus kurelakan setengahnya atas nama persahabatanku dengan Dhirga dan Leo. Untuk apa lagi kalau bukan traktiran berujung krisis ekonomi yang selalu diterapkan dari masa ke masa. Nggak heran kalau pas lagi ultah aja kita pada ngumpet, bukannya berharap mereka datang kasih kejutan. Persahabatan aneh, tapi disitu sih seninya.

“SANDY HIRANATA MOHON SECEPATNYA MASUK, JANGAN HANYA DIDEPAN PINTU RUANGAN SAYA!” Omaigat, aku jadi nggak sadar kalau sedari tadi hanya mejeng di depan pintu ruangannya ini. Samar-samar kudengar cekikikan di belakang. Sabar, pintu menuju kesuksesan itu emang berat, San. Lo nggak boleh nyerah gitu aja. Apalagi sama bos galak diktator satu ini. Pikirkan saja wajahnya yang seganteng Nicholas Saputra. Iya, pikirkan itu aja. Sekarang Cuma itu motivasi lo buat bertahan di divisi ini.

Ceklek… suara pintu yang terbuka menyambutku masuk ke dalam ruangan paling elite di kantor ini. Bau pengharum ruangan khas apel disertai suhu AC yang lebih dingin menyambut perasaan tegangku. Dengan takut-takut aku duduk di kursi depan singgahsananya. Aku tidak berani menatapnya, tapi dari insting yang kupunya sepertinya dia sedang memperhatikanku.

“Mana berkasnya?” tanyanya super dingin.

“Ini, Pak. Sudah saya revisi dan terjemahkan. Saya jamin kali ini tidak ada yang salah.” Aku meletakkan map dengan penuh kehati-hatian di mejanya. Takut lecet sedikit saja, aku pasti akan lembur lagi hari ini. Pak Ricko menatap map di depannya dengan pandangan yang meremehkan. Awas aja kalo bener, lo harus traktir gue, Pak! Eh nggak jadi ding. Memangnya aku berani bilang begitu padanya?

“Kamu yakin? Bagaimana kalau salah lagi? Saya akan potong gaji kamu! Ingat ya, saya paling tidak suka pekerjaan yang lelet. Kamu sebenarnya kerjanya cepat, tetapi selalu tidak teliti. Itu yang membuat pekerjaanmu sangat lelet. Kamu saya terima disini karena hasil tesmu yang berbeda dan menarik dibandingkan yang lain. 

Sayangnya, dalam praktek yang sesungguhnya kamu sangat lemah. Tidak kompetitif, mudah menyerah, suka menggerutu. Ingat, untuk mencapai ke posisi yang kamu inginkan itu tidak mudah. Walaupun kamu sudah sangat mumpuni secara skill, tapi tidak dengan sikapmu. Jadi saya terpaksa harus push kamu lebih agar kepribadianmu lebih mumpuni untuk kesitu. 

Ingat, kamu ini orang yang saya percaya dapat mengambil posisi itu dari adik saya, Diran. Kamu tahu, kan? Diran itu sama pintarnya dengan kamu. Tapi dia sangat disiplin dan kompetitif. Sangat susah mengalahkannya. Jadi kamu harus belajar lebih darinya. Kamu mengerti?” ceramah panjang-lebarnya kudengarkan dengan seksama.

“Baik, Pak. Ada lagi yang dibutuhkan?” tanyaku sopan.

“Tidak. Kamu bisa keluar sekarang.” Ucapnya. Aku segera membungkuk sopan lalu berjalan keluar dari ruangannya. Sampai di mejaku, aku masih memikirkan semua ucapannya tadi.

Baru kali ini aku mendengarnya curcol seperti ini. Kalau begini aku jadi tahu apa alasan dia memilihku. Pertama, dia harus mengalahkan adiknya yang jenius itu. Diran memang terkenal banget sih disini. Dari tukang gossip paling terpercaya keakuratannya, Gilang Pradana, aku mendapatkan info kalau ternyata Diran itu punya IQ lebih tinggi dari Pak Ricko.

Kabarnya dia yang harusnya menempati posisi Pak Ricko, tapi dia tidak mau. Katanya dia lebih suka jadi pembuat game daripada bos yang masih harus ngurusin tetek bengek perusahaan. Jadi sampai sekarang. Diran itu semacam ancaman sekaligus hinaan halus bagi Pak Ricko. Alasan kedua seperti dugaanku, hasil tesku yang terbaik selama ini. Oh bukan sebesar itu sih, maksudnya hasil tesku terbaik sejauh ini. Syukurlah, kalau dengar alasannya aku jadi lebih respect padanya.

Aku memutuskan untuk kembali berkutat pada pekerjaanku. Sampai akhirnya Gilang memepetkan kursinya ke arahku dan bertanya, “Tadi Pak Ricko bilang apa, San? Dia nembak elo ye??” Dengan segera aku memukul dahinya menggunakan bolpoin yang ada di mejaku. Habis, sembarangan banget sih kalau tanya.

“Sembarangan lo! Emangnya sejak kapan gue ada affair sama Beliau?” jawabku jutek. Tiba-tiba, dengan gaya menjijikan dia mencolek daguku. Aku segera menjauhkan tangan hinanya itu sebelum aku tertular sifatnya yang kepoan banget dan suka ikut campur urusan orang.

“Cieee…. Siapa yang tiba-tiba manggil Beliau??? Kemarin-kemarin bukannya cuma manggil Okir??” Rasanya aku ingin menjejalkan lombok ke mulut embernya ini. Lihat sekarang, gara-gara suara cemprengnya yang membahana semua pandangan terarah padaku. Tuhan tolong! Jangan sampai muncul skandal antara aku dengan Pak Ricko. Bisa gawat aku kena omel lagi.

“Tolong ya, Pak Gilang Pradana. Saya masih sibuk untuk meladeni Anda. Jadi silahkan menjauh dan berhentilah berkata yang tidak-tidak.”

“Wah kalau reaksi lo gini sih, gue makin yakin. Kalau elo memang ada affair sama Pak Ricko.” Kalimat terakhir itu membuat kesabaranku habis. Aku hendak marah-marah sampai kudengar suara dari ruangan pengeras suara divisi kami.

“GILANG PRADANA DIMINTA UNTUK MENEMUI PAK RICKO ADIWIRA.”
“Mampus lo, Lang!” celetuk Heru. Aku hanya bisa mendengus kesal. Alamat bakalan panjang nih urusannya.
****
BACA JUGA: Cerry Blossom Part 1
Penulis bernama lengkap Bernadetha Putrinda ini merupakan mahasiswa S1 Teknik Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur. Kecintaannya terhadap dunia jurnalistik membuatnya menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya sastra seperti: Cerpen, Puisi dan Cerita bersambung seperti "Cherry Blossom" ini.  Untuk dapat mengenal dia lebih dekat dapat menghubungi facebook: Bernadetha Putrinda atau kunjungi blog pribadinya: alexamoustory.wordpress.com