Aku adalah Engkau yang Aku Ketahui
Cari Berita

Aku adalah Engkau yang Aku Ketahui

10 August 2017


Dinding-dinding yang setia mengenali diriku dan sesekali membatasi tangisanku agar tak sampai pada telinga-telinga bermegah yang kadang tak peka pada batasan kata yang terucap yang mengiris hati secara perlahan (Foto: Dok. Pribadi)


Karena seutuhnya tentangmu bukan temanmu yang memahaminya, atau pula orang yang baru mengenalmu sebentar atau mereka yang sering memanggil nama kecilmu tanpa memaknai betapa pentingnya kata yang kau eja sebagai nama itu. 

Jangan pula menuntut kepada Tuhan terlalu sering, kamu bukan anak kecil yang merengek untuk banyak hal saat disakiti oleh beberapa orang dan mengaduh pada ayahmu mencari pembelaan. Kau telah cukup dewasa untuk hal sekecil itu. Yang perlu kau lakukan adalah menjadi dirimu sendiri. Bukankah dalam kitabNya Tuhan berkata ”Kau Berarti BagiKu”.

Kubiarkan malam mengganggu lelapku. Sengaja kubiarkan mata dan juga pikiranku tak menyatu untuk kuizinkan tubuhku beristirahat. Entahlah darimana akan ku narasikan pada Tuhan yang ku tahu lebih mengenalku dibandingkan siapapun yang terdekat. 

Aku membiarkan mataku memandang dinding putih yang membatasi ruang keramaian dengan segi empat sunyi yang menjadi sahabat diamku saat perbincanganku bersama Tuhan. Dinding-dinding yang setia mengenali diriku dan sesekali membatasi tangisanku agar tak sampai pada telinga-telinga bermegah yang kadang tak peka pada batasan kata yang terucap yang mengiris hati secara perlahan.

Aku ingin sekali mengajak ayahku berada disana malam itu, dan menuntut ibuku agar datang. Aku akan bertanya, dimana kesalahan yang bisa kupertanggungjawabkan pada hidupku agar kuat menjalani yang tidak bisa kuatasi. Kesalahan ibuku yang mengizinkanku bermain diluar batasku sebagai seorang anak dengan kodratnya, yang harus menerima segala ketidakberdayaanku menjadi kekuatanku.

Beberapa mata mungkin memandangmu, namun tidak semua mata mengerti arti dari setiap tatapan penderitaanmu. Karena yang perlu kau lakukan, hanya mengerti bahwa tatapan Tuhan menjangkau segalanya.

Malam memutuskan untuk menemani lelapku dengan segala ceritanya. Dan kubiarkan Tuhan berbicara dalam bahasa yang kupahami yang datang dari hatiku. Jika Tuhan kembali menarik mundur waktu, maka yang kau lakukan adalah menarik kembali sikap kekanakanmu dengan senyum kepahitan sebagai tamengnya. Namun, kau tetap seorang yang lemah untuk urusan kata. Karena sikap lebih mudah diterima dibandingankan umbaran kata sepenggal yang maknanya menyiksa hati. Tetapi tetap saja, bukankah kau telah melewati banyak hal untuk itu? Bagaimana bisa kau membiarkan matamu dimandikan oleh air kesakitan?

Dan hatiku seolah menang karena menguasai emosiku. Ia benar. Yang kulakukan adalah tetap menerima diriku apa adanya dan menampilkan yang terbaik yang setara dengan kemampuanku. Karena Tuhan lebih memahamiku di banding siapapun yang menghiburku sebagai teman atau apapun.

Beberapa dari mereka memintamu untuk mengubah dirimu, menjadi seperti yang mereka inginkan. Namun menjaga kesejukkan mata mereka tentangmu bukan dengan mengubah pandanganmu tentang dirimu sendiri. Tetap saja kau akan kalah saat mengubah dirimu menjadi seperti yang mereka inginkan. Mereka mengenal namamu tetapi mereka tak mengenal dirimu. Bagaimana mungkin kau menangisi dirimu sendiri?

Beberapa bibir akan menemukan kebahagiaan saat kata-katanya terlihat memenjarakan kehidupan oranglain. Benar bahwa kau harus bersosial, namun bukan dengan mengumbar keinginan terhadap orang lain dengan tuntutannya agar apa yang kau inginkan ia ikuti. 

Tidak juga dengan mencari segala kekurangannya lalu membuat naskah cerita bak kau adalah sutradara yang mengatur skenario hidupnya. Lalu siapa kau? Kau adalah sederajat dengannya kan, sebagai ciptaan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bagaimana bisa kau menuntut lebih dari yang Tuhan batasi tentangnya...... begitu hatiku menjelaskan padaku. Malam yang panjang dan kubiarkan ia terus menggaung.

Lalu bagaimana denganmu? Kau adalah dirimu, bagaimana kau mengubahnya menjadi oranglain? Dirimu bukan musuh bagi hidupmu. kau hanya perlu menerimanya apa adanya, dengan segala yang tidak bisa kau catat sebagai kelebihan dan yang tidak bisa kau data sebagai kekurangannya. 

Begitulah demikian, kau tak perlu meminta ayahmu untuk menjawab tanyamu atau menuntut ibumu menjawab tuntutanmu mengapa kau berbeda, yang perlu kau lakukan hanya meihat dirimu bearti di mata Tuhan. Tugasmu memenuhi kebutuhanmu dengan kenyamanan yang kau rasakakan, bukan dengan memenuhi keinginan orang lain dengan ketidakberdayaan yang kau paksakan. Be yourself!!!!

Begitu aku dan hatiku berbicara, malamku pun berahkir dengan senyum kemenangan. Aku tidak kekanakan, tidak juga terlalu dewasa. Hanya sedang menyelamatkan wajah dan harga diriku yang menerima segala yang Tuhan berikan dengan cara yang terbaik yang nyaman bagiku dan tidak merugikan mata mereka.

Oleh: Yohana Bombol
Kontributor marjinnews.com wilayah Malang