Agama Di Mata Maria Magdalena Pariyem
Cari Berita

Agama Di Mata Maria Magdalena Pariyem

15 August 2017

Nafsu, emosi, dan sentimen pribadi menjadi halal bila atas nama Tuhan. Peperangan adalah buahnya, buahnya adalah peperangan. Orang-orang bertengkar, cakar-cakaran. Cakar-cakaran orang bertengkar. Untuk sesuatu yang tak senonoh, orang menyabung nyawa (Foto: Dok. Pribadi)
Tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya untuk memahami sebuah kehidupan masyarakat melalui karya sastra jauh lebih memberi kedalaman daripada setumpuk kepustakaan ilmiah dengan segala konsep dan bahasa yang amat ruwet dan kaku. Hal ini dapat dibuktikan dengan karya sastra milik Linus Suryadi AG dalam novelnya berjudul, “Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa” yang diterbikan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2014).

Banyak persoalan dan kebiasaan masyarakat Jawa dalam novel ini. Tetapi, kelugasan bahasa dan gaya bahasanya yang santai membuat Linus melalui sosok Maria Magdalena Pariyem seorang gadis lugu dari Wonosari Gunung Kidul, Jawa Tengah membuat orang-orang luar Jawa bisa dengan mudah memahami pesan dan makna setiap pengakuan seorang Pariyem.

Berbicara sebagai babu, Pariyem sangat polos menceritakan pandangannya tentang banyak hal. Akan tetapi, pada saat ini saya hanya akan membahas soal bagaimana tanggapan seorang Pariyem soal agama yang belakangan ini menjadi momok besar di negara kita tercinta ini. Dengan kepolosannya Pariyem yang dibesarkan di keluarga petani miskin bekas pemain ketoprak yang sempat di tahan pada peristiwa G30S PKI, ia mampu menyadarkan kita soal apa itu agama yang sesungguhnya.

Tanpa sedikit pun merasakan pendidikan formal, Pariyem mengungkapkan pemahamannya soal agama tanpa ragu. Meski sering terlibat dalam kehidupan seks bebas yang sebenarnya tabu dan dilarang agama, Pariyem mangaku ia menikmati kehidupannya yang demikian. Karena ia parcaya hanya Gusti Allah yang berhak menimbang dosa-dosa yang dilakukannya.

Agama bagi gadis lugu yang dibesarkan dalam agama katolik sejawen ini adalah sesuatu hal yang tidak bisa dimasuki orang lain selain si empunya kepercayaan dan Tuhan—nya. 

Bagi saya pengakuan Pariyem cukup untuk membuktikan bahwa karya sastra mampu berbicara banyak hal tentang gejala sosial, tentang kehidupan kultur dan manusia yang diwarnai oleh pola kultur itu. Bahkan banyak nuansa yang lebih dalam dapat kita tangkap, yang mungkin tidak mampu ditampilkan oleh karya-karya ilmiah atau hasil-hasil penelitian ilmiah yang excellence sekalipun. Seperti pandangan Maria Magdalena Pariyem soal agama berikut ini:

Rembulan kayak tampah di Timur. Baru muncul dari balik gerumbul. Membagikan sinarnya pada daun-daun yang tengadah ke langit kelabu. Dan bayang-bayang gelap muncul saya saksikan di atas kolam.

“Dan agama, apakah agama?”

Pertanyaan itu bergaung dalam sanubari saya. Suka menggelitik dan merongrong jiwa pula. Bikin kusut pikiran, kemelut perasaan, sembab mata dan boyak telinga bila dialamatkan ke dalam. Tetapi, bila dialamatkan dari luar: orang bertentangan tak ada habisnya. Atas nama Tuhan lewat agama, apa pun bisa berbuah neraka. Agama dan Tuhan menjadi sandaran buat kasak-kusuk dan pokrol bambu.

Nafsu, emosi, dan sentimen pribadi menjadi halal bila atas nama Tuhan. Peperangan adalah buahnya, buahnya adalah peperangan. Orang-orang bertengkar, cakar-cakaran. Cakar-cakaran orang bertengkar. Untuk sesuatu yang tak senonoh, orang menyabung nyawa.

Dimanakah iman, manakah wewaler Tuhan bila nyawa tak punya lagi tempat aman? Bagaikan kawanan anjing ganas berebut tulang-belulang tanpa isi. Tulang-belulang diperebutkan dan luka kandhung orang kranjang.

“Lah di sorga, Gusti Allah tak bertanya: Agamamu apa di dunia?” tetapi Ia bertanya: ‘di dunia kamu berbuat apa?’. Waduh, kayak saya pernah dolan dan menjenguk sorga saja.

Jadi, apakah agama itu dogma hidup yang menjadi belenggu jiwa manusia? Ibarat lintah di paha perempuan yang menyedot cairan darah abang. Benalu di pohon-pohon mempelam yang menghisap sari-sari makanan. Cacing-cacing pita di tenggorokan kita, yang menyadap pati-pati kehidupan.

Jadi, apakah agama itu candu hidup yang bikin jerangkong semua orang? Ibarat daun kembang kecubung, sekali hisap bikin kepayang. Kepulan-kepulan asap ganja yang bikin kita ketagihan. Gulungan rokok kretek bikin kerasan kita kenikmatan. Tetapi di sorga, Gusti Allah tak bertanya: ‘apa agamamu di dunia?’ tetapi ia bertanya ‘kamu berbuat apa di dunia?’.

Dalam kalang-kabut perasaan, dalam kemelut-butu pikiran, dan dalam haru-biru diri yang hilang saya terdampar di dalam kekosongan dan hidup kembali pada penyerahan. Bukankah agama, begitu kata orang tua kita yang arif dan bijaksana, adalah ibarat pakaian?

Bila seorang wanita telanjang, dia butuh jarit, kebaya, dan kembem—itu pakaian pembungkus badan. Bila seorang pria telanjang dia butuh sarung, surjan, dan blankon—itu sama fingsi dan faedahnya.

Demikian pula agama: agama ageming ati. Dan tiap bangsa punya tata, punya cara yang percuma diganggu-gugat siapa pun. Dia bakal hidup dari tahun ke tahun. Tak ada perintang dan tak ada penghalang sanggup merombak dan mengacak-acakkan. Dia tumbuh bersama gerak naluri alam yang menyertai bayi yang dilahirkan.

Kebajikan tidak bisa diseragamkan kayak Hanra di Kelurahan. Pengorbanan tak bisa dibariskan kayak produksi Honda dari Jepang. Dan menyembah Tuhan tidak bisa dikomandokan. Kayak tentara maju ke medan perang. O, Allah Gusti nyuwun ngapura di pinggir sumur saya nembang: Othok owok bang belekan, ora methok dadi golekan.

“Tatkala saya haus apa kowe kasih minum?” segantang air menyegarkan jiwa musafir. “Tatkala saya lapar apa kowe kasih makan?” sesuap nasi mengenyangkan jiwa musafir. Yang lapar dan dahaga mengarungi jagat raya. Bukan dendam kesumat kita kembang-biakkan, tapi kasih sayang melambari tiap tindakan.

Siapa menanam bakal memetik, siapa membuat bakal memakai. Tapi jungkir baliknya jaman, mas ungkapan bijak itu sukar dipegang. Siapa memetik tidak menanam, siapa mamakai tidak membuat. Tapi biarkan sajalah—saya eling pesan bapak kok, paugeraining urip iku Sang Murbeng Jagad.

Biarkan saya dikata-katai murtad, biarkan saya dikata-katai kapir, biarkan saya dikata-katai malas beribadah, biarkan saja. Saya tidak apa-apa. Saya lega lila kok, Gusti Allah ora sare.

Ya, ya Pariyem saya. Maria Magdalena Pariyem lengkapnya. Iyem panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul. Saya tidak suka serba kaku-ngotot-bagaikan baja yang keras tapi getas. Saya suka serba luwes-lembut-bagaikan putri kraton Ngayogyakarta yang lembah manah dan andhap asor. Tenang, bagaikan kolam memantulkan sinar rembulan.

Oleh: Andi Andur