Surat Kecil Untuk Kak Tsamara Amany
Cari Berita

Surat Kecil Untuk Kak Tsamara Amany

28 July 2017

Derai lembut rambutmu yang menjuntai hingga dada membuat kakak tampak sangat mempesona. Benar-benar tipe menantu idaman ibu (Foto: Istimewa)

Kak Tsamara, awalnya saya bingung harus memulai dari mana menulis surat kecil tak bermakna ini. Berat bagi saya untuk sedikit saja menggoreskan pena untuk sekedar berbagi rasa soal sepak terjang kakak di panggung politik nasional yang semakin hari semakin tidak karuan ini. 

Jikalau berkenan, ijinkan saya sejenak mengagumi rupa kakak yang menggoda itu. Bukan soal nafsu, tetapi sorot mata bercahaya, bibir merah ranum yang bersanding dengan kulit putih bersih tanpa cacat dan derai lembut rambutmu yang menjuntai hingga dada membuat kakak tampak sangat mempesona. Benar-benar tipe menantu idaman ibu.

Hahaha, penyakit seperti itu yang sebenarnya membuat saya agak canggung menuliskan ini untuk kakak. Saya tidak tahu dan tidak akan pernah mencari tahu siapa saja gerangan yang dengan berani mengungkapkan kekagumannya atas rupa kakak yang anggun itu. Semoga saja, saya orang yang pertama ya kak.

Kak Tsamara, alasan saya menuliskan ini bukan hanya karena saya kagum dengan cara kalian melihat dunia dengan cara yang berbeda. Tetapi juga hendak menyampaikan bahwa ada kah era reformasi sudah mulai menunjukkan titik terang hendak berlalu? 

Ditengah membanjirnya hingar bingar globalisasi yang semakin tak terbendung, dimana anak-anak muda kita yang masih seumuran kakak bersikap acuh dan apatis terhadap kondisi negara kita sekarang ini kakak dan kawan-kawan berani melawan arus. Membenci politik tetapi menyukainya. Muak dengan kaum tua, tetapi duduk bersama mereka mencari solusi.

Apakah ini yang namanya restorasi? Saya juga kurang paham. 
Sekali waktu ketika tengah duduk di emperan toko, sambil sesekali mencicipi es teh tawar yang dipesan dari warung kopi langganan, seorang anak perempuan yang berbaju dekil ngerumpi bersama kawannya dengan tampang yang sama. 

Sambil berbisik-bisik mereka membicarakan pertunangan Raisa dan Kisah Chelsea Islan bersama Bastian Steel. Raut wajah mereka begitu sumringah membicarakan nama-nama itu. Sesuatu terjadi, tepat di dekat mereka beberapa orang bapak yang katanya galau selepas kepergian Julia Perez menyebut sebuah nama yang sangat asing di telinga saya, Tsamara Amany.  

Rasa penasaran pun mengganggu, dengan santai sambil bersandar saya berbisik kepada google, "Ok Google Samara" yang muncul kemudian malah aktor lawas Anjasmara. Saya hanya menggeleng kepala mempersalahkan bapak-bapak itu, "tidak wajar laki-laki kok dibilang cantik dan cerdas!!".

Seiring waktu berjalan, satu per satu informasi tentang kakak itu memenuhi otak saya. Sempat juga terbawa sampai ke kamar mandi. Diam-diam chanel-chanel Youtube tentang kakak saya koleksi hingga pada catatan pribadi saya. 

Sebelum saya lupa, nama saya Andreas. Nama yang sangat mengganggu telinga, jangan tanya tampang saya seperti apa kak, itu bahaya. Anggap saja saya seorang pengagum rahasia seperti lirik lagu Sheila On Seven yang datang dari negeri entah berantah. 

Saya suka cara kakak berbicara mematahkan argumen lawan, tetapi saya tidak suka kalau kakak tersenyum. Bukannya sombong, cara kakak meyakinkan orang dengan sebuah senyuman yang tulus itu justeru membuat saya kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kekaguman saya terhadap seorang Tsamara Amany.

Satu hal yang pasti kak, ini sebenarnya yang lebih penting. Sebagai manusia yang dengan kodratnya terlahir dengan label double minority yaitu seorang perempuan yang masih muda, langkah kakak memilih politik sebagai jalan hidup adalah sebuah keputusan yang sangat berani. Aura Kartini muda ternyata bukan hanya retorika belaka, ayu tapi tangguh, lembut tetapi pejuang sungguh.

Salam kak, meski sebenarnya saya pengagum Julie Estele, tetapi tak apalah jika kakak mau juga saya kagumi biarkan saya mengagumi kakak juga. (Andreas Pengki)