Potret Pendidikan Abad 21
Cari Berita

Potret Pendidikan Abad 21

30 July 2017



cogito ergo sum (Saya berpikri maka saya ada) (Foto: Dok. Pribadi)
Dunia ilmu pengetahuan berkembang sangat pesatnya ketika manusia mulai sadar dengan kapasitas dan kesanggupan rasionya. Rasio dalam konteks ini hendak menunjuk pada kapasitas intelek manusia. Kesadaran akan kesanggupan itu lahir pada abad ke-17. Hal itu tercetus dengan konsepnya yang terkenal, "cogito ergo sum (Saya berpikir maka saya ada)”. Dari semboyan itulah, fase yang disebut modernitas lahir.

Salah satu ciri dari apa yang disebut modernitas itu ialah kemajuan. Kemajuan itu mencakup kemajuan dalam cara pandang tentang hidup dan tentang manusia. Lebih dari itu. Kemajuan yang paling nyata dari pengaruh itu mencakup bidang ilmu dan pengetahuan. Para ilmuwan seperti Galileo Galilei, Bacon, dan Descartes menjadi emblem dari kemajuan itu. Merekalah yang menjadi cikal bakal lahirnya segala macam penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Kemajuan yang dimulai dalam abad ke-17 itu terus berlangsung hingga abad ke-21 saat ini. Pertanyaan kita ialah bagaimanakah wajah pendidikan abad ke-21 saat ini sehingga sungguh-sungguh menjawab kemajuan yang telah dimulai pada abad-abad sebelumnya?

Cerminan Pendidikan Abad ke-21: Mengatasi Keterasingan Manusia

“Knowledge is Power (Pengetahuan adalah Kuasa)”. Semboyan itu lahir dari Francis Bacon (1561-1626) seorang ilmuwan abad ke-17 yang berasal dari Inggris. Yang hendak dikatakan dengan semboyan “pengetahuan adalah kuasa” bukanlah pengetahuan menjadi dasar untuk dapat menguasai segalanya.

Sebaliknya. Yang dikatakan dengan semboyan itu ialah pengetahuan itu hendaknya dilihat dalam taraf fungsionalnya saja. Artinya ialah, pengetahuan dapat dipergunakan untuk kemajuan kehidupan manusia. Dari sanalah, orang mulai belajar mengenai hukum-hukum alam bukan untuk kemajuan alam itu sendiri melainkan untuk menaklukkannya bagi manusia.

Wujud nyata dari semboyan di atas ialah dikembangkan beragam penelitian serta ditemukan beragam kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya penemuan obat-obatan untuk kesehatan manusia. Ada penemuan senjata-senjata mutakhir dan bom-bom atom untuk keamanan masyarakat manusia. Ada juga penemuan di bidang teknlogi komputer dan internet sehingga dunia terhubung satu sama lain dan berubah menjadi desa global.

Melihat perkembangan yang terjadi hingga saat ini, abad ke-21 maksudnya, kita mestinya berterimakasih kepada mereka yang mencetuskan pentingnya pengetahuan di abad ke-17. Akan tetapi, kemajuan itu menyisakan lubang yang sanga menganga. Lubang itu ialah menajdikan manusia sebagai alat dan sarana pengetahuan itu sendiri.

Artinya ialah, manusia dijadikan sebagai mesin dan robot yang bekerja secara mekanis menurut hukum-hukum ilmu pengetahuan. Manusia tidak lagi menjadi tuan dari mesin-mesin dan sistem-sistem kerja melainkan menjadi budak dari mesin-mesin dan sistem-sistem kerja pengetahuan yang diciptakannya sendiri.

Menjadikan manusia sebagai mesin dan robot pendidikan berakibat pada terasingnya manusia dari diri dan kehidupannya sendiri. Keterasingan itu sering disebut dengan alienasi. Akibatnya ialah ketika pendidikan yang menjelma dalam pengetahuan dan teknologi berkembang dengan sangat pesatnya, manusia itu sendiri malah makin tebelakang dan tidak maju. Padahal esensi pendidikan yang berorientas pada mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahtraan umum, sebagaimana yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 malah tidak tercapai.

Dari realitas yang ada sekarang ini, tugas yang dipikul dan diemban oleh dunia pendidikan di abad ke-21 ini tidaklah ringan. Beratnya tugas itu tidak terletak dalam bagaimana harus menemukan makin banyak teknologi yang mempermudahkan manusia untuk menjalankan hidupnya melainkan bagaimana manusia harus ditempatkan sebagai pusat dan sumber kemajuan itu. Dengan demikian, manusia tidak hanya menjadi instrument atau alat dan sarana di tengah kemajuan itu.

Mengatasi keterasingan atau alienasi manusia dari dirinya sendiri, dari sesama, dari alam semesta, dan bahkan dari Tuhan. Terasing dari diri sendiri oleh karena manusia bekerja menurut hukum dan semangat kerja mesin. Akibatnya ialah daya kreasi manusia dengan sendirinya mati. Ia tidak lagi mampu mengembangkan kecakapan untuk mengembangkan kreativitas yang ada pada dirinya sendiri.

Terasing dari sesama bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini sangat mudah untuk dikatakan. Contoh kecilnya ialah, orang bisa mengabaikan teman yang duduk di sampingnya hanya karena keasikan bermain facebook. Hal itu semakin kentara dengan kemajuan-kemajuan mutakhir dalam bidang teknologi informatika seperti telepon genggam contohnya. Keasikan dengan telepon genggam membuat orang sibuk dengan diri sendiri dan lupa dengan mereka yang duduk di samping dan bersamanya. Hal itu seakan mengonfirmasi semboyan,”mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.

Keterasingan dari alam semesta mewujud dalam keserakahan manusia untuk mengeksploitasi alam semesta tempat hidupnya. Eksploitasi entah untuk pertambangan minyak dan gas bumi atau yang non minyak dan gas bumi menjadi tanda bahwa alam semesta sungguh-sungguh dilihat dalam taraf fungsionalnya semata. Artinya bumi digali dan dikeruk serta diporakporandakan hanya untuk memenuhi nafsu dan kepentingan ekonomi manusia semata. Alam semesta yang tidak mampu membela dirinya dijadikan sebagai sumber pendapatan semata.

Disadari atau tidak, keterasingan yang membebani manusia di abad ke-21 ini juga mencakup keterasingan dari Allah atau Dia yang Ilahi. Allah atau Dia yang Ilahi tidak lagi menjadi dasar dan sumber segala pertimbangan moral dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini diagung-agungkan oleh manusia.

Tuhan dibuang dan bahkan dikesampingkan dari kehidupan. Tuhan bahkan “dibunuh” oleh manusia saat ini. Dibunuh dalam konteks ini tidak hendak dimengerti pembunuhan dalam konteks hidup sehari-hari. Dibunuh dalam konteks ini diartikan sebagai sebuah semangat untuk menentukan nilai baik-buruk, adil-durjana, dan benar-salah tidka berdasarkan apa yang berlaku umum melainkan berdasarkan keputusan pribadi dan individu semata.

Telah dikatakan di atas bahwa cermin pendidikan abad ke-21 saat ini ialah bagaimana caranya untuk mengatasi keterasingan yang alami manusia. Keterasingan yang dilatarbelakangi oleh semangat untuk mengembangkan kemajaun di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-17 merasuk kehidupan manusia saat ini.

Keterasingan itulah yang mengakibatkan lamban dan mandegnya perkebmbanga rasa hormat dan penghargaan terhadap manusia. Dengan mengenal keterasingan yang diderita oleh manusia abad ini maka orientasi pendidikan pun harus jelas.

Semangat pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum hendaknya meresapi secara sungguh-sungguh dunia pendidikan saat ini. Dengan demikian, keterasingan yang disebabkan oleh kemajuan-kemajuan yang telah dicapai sebelumnya sungguh-sungguh dapat diatasi dan manusia ditempatkan pada tempat yang tepat dalam kemajuan itu.
Oleh : Edit Theresa
Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univ. Sanata Dharma Jogjakarta