Mengeja Rindu, Menepis Keluh
Cari Berita

Mengeja Rindu, Menepis Keluh

31 July 2017

Foto: Olind Djia
Tetesan gerimis yang merinai, dikelamnya langit senja.
Kulinangkan rindu diujung mata, menari indah dipelupuk angan.
Raut bayanganmu nan manja, menerpa menerjang tembok sepi.
Kulirihkan namamu dalam kenang suaraku penuh harap.

Dari balik awan cobalah engkau lihat, lengkungan tujuh warna-warni.
Menghiasi langit seusai hujan, membentang bagai selendang mayang.
Bertuliskan makna aksara rinduku, ya rindu untukmu.

Aku berbisik kepada angin, yang merdu menyulut kesejukan.
Tentang rindu beradu sepanjang waktu yang kian berlalu.
Tergagap aku menjawab ketika ia bertanya,
"Rindumu untuk siapa?"
Aku hanya rindu, itu saja.


Surabaya, 28 Juli 2017



Meski hanya sejenak bertemu, aku bahagia pernah melihatmu

Di batas-batas kerinduan, tak terasa air mata pun jatuh di pelupuk waktu
Hati yang kupikir mati, ternyata masih menyimpan rasa

Rasa memang baik disimpan hati,
Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku sudah tidak punya hasrat untuk bertemu
Kukira aku takkan lagi melihatmu seindah dulu
Hingga kemudian aku tahu, semunya belum berubah

Pikiran ku sajalah yang tidak tahu arah


Surabaya, 30 Juli 2017



Rindu adalah tali yang tak pernah putus,

Merentang di tiang hati pada langit-langit mimpi
Kadang kala disinggahi burung yang mengelakkan kabut
Pada pagi yang dingin, yang mengaburkan sinar matahari

Rindu adalah tiang yang tak pernah tumbang,
Tegak di lorong kehidupan, di sepanjang labuh usia
Disitu tergantung lampu kenangan dan ingatan
Biarpun hari semakin tua dan kelam baru bermula

Rindu adalah lorong yang tak pernah tertutup,
Dari musim ke musim ia menjadi tapakan
Pengembara mencari cintanya yang hilang,
Disitulah rumput yang telah lama bertukar warna
Bunga dan daun silih berganti segar dan kuncup

Adakah engkau paham mengapa aku menulis ini?
Bait-bait definisi usang soal rindu yang selalu merasuk?
Jangan hanya tersenyum, kemarilah dengarkan detak jantungku,
Rasakan ia bertalu mengeja namamu.


Surabaya, 30 Juli 2017

Jalan kerinduan menuju Kota Jogja


Oleh: Ecclesia Christi