Menelisik Keterlibatan Perempuan Dalam Dunia Pers Nasional

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Menelisik Keterlibatan Perempuan Dalam Dunia Pers Nasional

27 July 2017

Setidaknya dengan pengetahuan yang didapat dari mengelola koran, membaca, maupun menulis di surat kabar khusus perempuan, dapat membangkitkan kesadaran tentang arti pengetahuan dan kemajuan perempuan (Foto: Rheiska Matong)
Dalam sekian banyak buku sejarah yang beredar di sekolah-sekolah kita, tidak banyak yang menceritakan soal bagaimana keterlibatan perempuan dalam dunia pers nasional kita. Hal ini kemudian membuat pikiran kita sangat meruang soal perjuangan emansipasi di Indonesia. Raden Ajeng Kartini ternyata hanya salah satu dari sekian banyak pejuang perempuan Indonesia yang tercatat sejarah. 

Jangankan soal keterlibatan perempuan dalam dunia pers, para pejuang revolusi hingga para founding fathers pun terkadang dilupakan sebagai insan pers yang memiliki kontribusi besar dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan, membangun sebuah negara hingga mempertahankan negara itu sendiri dari bangsa penjajah.

Sepak terjang tokoh kunci pergerakan nasional dalam dunia pers yang pada umumnya adalah pemimpin redaksi (hoofderedakteur) hingga yang paling rendah redaktur acap kali terlepas dari catatan ilmu pengetahuan umum atau pelajaran sejarah kita.

Sebut saja HOS Tjokroaminoto, seorang yang kita kenal sebagai “soko guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. Tiga serangkai Douwes Dekker, KH Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express. Semaoen, di usia 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewirjo yang dikenal sebagai proklamator Darul Islam awalnya menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia bersama H. Agoes Salim dan Abdul Muis.

K. H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiya, menjadi pemimpin redaksi pertama Soeara Muhammadijah yang sampai kini masih eksis. Dr. Soetomo, pendiri Boedi Oetomo turut memimpin jalannya Soeloeh Indonesia yang merupakan organ Indonesische Studieclub Sorabaia. Adapun Soekarno menjadi penghela dua koran, yaitu Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Moh. Hatta dibantu Sjahrir menahkodai Daulat Ra’jat. Amir Sjarifuddin pun dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng.

Terlepas dari rentetan kisah dan sepak terjang dari beberapa tokoh tersebut diatas, pada waktu yang sama tokoh-tokoh perempuan tidak mau ketinggalan. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya koran Poetri Hindia untuk pertama kalinya pada 1 Juli 1908. Koran ini merupakan buah tangan Raden Mas Tirto Adi Surjo dan R.T.A Tirtikoesoemo.

Menurut Pram seperti yang tertulis dalam buku Sang Pemula terbitan Lentera Dipantara (2003), nama Tirtokoesoemo, bupati Karanganyar diterakan sebagai pimpinan Poetri Hindia lantaran ia seorang presiden Boedi Oetomo setelah 1909. Selain itu, Tirto bermaksud agar istri sang bupati sudi menulis bahkan terlibat dalam berkala yang terbit dua kali dalam sebulan itu.

Kondisi sosial pada waktu itu dimaksudkan agar setidaknya dengan pengetahuan yang didapat dari mengelola koran, membaca, maupun menulis di surat kabar khusus perempuan, dapat membangkitkan kesadaran tentang arti pengetahuan dan kemajuan perempuan, serta berimbas pada kaum perempuan di wilayahnya masing-masing. Hal ini terbukti ampuh, pada terbitan 13 April 1910, nama R.A.S. Tirtokoesoemo tertulis dalam deretan nama Hoofderedactries.

Jauh sebelum munculnya koran Poetri Hindia yang bertuliskan “SOERAT KABAR DAN ADVERTENTIE BOEAT POETRI HINDIA” tersebut, Tirto Adhi sudah membuka ruang seluas-luasnya bagi wanita pribumi pada surat kabar berbahasa Melayu Soenda Berita yang terbit pertama pada Februari 1903. Hal ini dibuktikan dengan munculnya rubrik-rubrik seputar dunia rumah tangga pada lembaran wanita tersebut. Tirto menuliskan pemikirannya yang diberi judul “Pengajaran Buat Perempuan Bumiputera”, Soenda Berita, Th. II No. 20, 1904 (Hajar Nur Setyowati, BASIS Edisi Januari-Februari 2009 Hal. 19).

Dalam deretan struktur redaktris Poetri Hindia tersebut memang tercantum kali pertama adalah nama Mevrow (Nyonya) J. Binkhorst-Martel yang adalah bukan seorang perempuan pribumi tulen. Tetapi, pada deretan nama selanjutnya muncul nama-nama perempuan pribumi seperti: R. A. Hendraningrat, istri Hendraningrat yang adalah Asisten Wedana Teluknaga, Tengerang; R. A. S. Tirtokoesoema, istri bupati Karanganyar; R. A. Soetanandika, Ciamis; R. A. Fatimah, Mr. Cornelis; R. A. Tirto Adhi Soerjo; S. N. N Salim, Fort De Kock; R. A. Mangkoedimedjo, Yogyakarta; dan R. A. Gandaatmadja, Bandung.

Pada tahun terbitan keempat (1911) posisi redaktris kepala hanya oleh satu orang, seorang perempuan pribumi, R. A. Hendraningrat. Malang tak dapat dihindarkan, koran perempuan ini harus tertahan akibat sikap kritis Tirto yang berujung susutnya iklan dan disusul pembuangannya ke Telukbetung dan Ambon.

Meski demikian, kehadiran koran Poetri Hindia memiliki arti yang sangat dalam. Pertama, ketimbang ruang wanita pada surat kabar umum, Poetri Hindia jauh lebih leluasa menyoal perempuan dengan kuantitas halaman lebih banyak. Kedua, Poetri Hindia adalah wadah jurnalis perempuan menempa diri. Ketiga, kehadiran koran perempuan setidaknya membuka wawasan perempuan soal posisinya sebagai subjek perubahan.

Dalam bukunya berjudul Sarinah, Soekarno secara lugas menekankan bahwa perempuan adalah pelaku pembentuk peradaban dunia dimulai sejak jaman berburu dan meramu, bercocok tanam hingga kemudian hidup menetap di suatu tempat. Posisi perempuan memegang peran yang sangat penting dalam setiap elemen kehidupan masyarakat. Dengan kehadiran banyak media sekarang ini seharusnya menjadi ruang dan wadah bagi para perempuan kita untuk mengeksplorasikan diri dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

Perempuan sudah saatnya berunjuk gigi untuk meretas persaingan global untuk mendapat posisi yang sama dengan laki-laki. Kita juga harus sadar bahwa upaya pembelaan terhadap kaum perempuan, merupakan salah satu penyebab enggannya perempuan dalam memperjuangkan nasibnya sendiri. Gulingnya rezim Orde Baru dibawah kekuasaan diktator Soeharto harus kita catat sebagai hasil dari perjuangan kaum perempuan.

Pada waktu itu, awal pergolakan demonstrasi mahasiswa di seluruh tanah air berawal dari demonstrasi beberapa aktivis perempuan yang memprotes kenaikan harga susu. Kemasan yang sangat memukau membuat kepentingan politik dibalik aksi tersebut berhasil melecut mahasiswa untuk kemudian harus turun ke jalan memperjuangkan sebuah era baru, era reformasi.

Meski cerita-cerita itu kemudian hanya menjadi angin lalu, tetapi sejarah pernah mencatat bahwa perempuan lah aktor dibalik setiap peradaban manusia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sampai kapan kita semua, perempuan-perempuan di seluruh tanah air tenggelam dalam euforia cerita masa lalu yang berakibat pada meruangnya pikiran itu? Harus kah pemikiran kita soal perempuan hanya berkisar soal kasur, sumur dan dapur?

Mari bersama-sama kita menjawab persoalan ini dengan memperbanyak literasi kita, merebut dan serobot masuk dalam peluang-peluang yang terbuka lebar di era globalisasi ini. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?. (Andi Andur)