Elisabeth, Gadis Manis Dari Kampung Rahong

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Elisabeth, Gadis Manis Dari Kampung Rahong

22 July 2017


Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Tetapi, lebih menyakitkan mencintai seseorang dan kita tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta kepadanya (Foto: Elvy Tanggal)
Menceritakan sebuah pertemuan tanpa sedikit pun membicarakan sebuah perpisahan akan selalu menarik dan sangat mempesona. Sebuah awal yang sangat bagus untuk merangkai sebuah cerita kehilangan akan sesuatu yang sangat perlu untuk direnungkan.

Ya, semula berawal dari pertemuan tak terduga dengan seorang yang entah dari mana datangnya. Mungkin aku terlalu polos untuk menjadi seorang lelaki yang sebenarnya tidak perlu bertingkah demikian. Tetapi, aku selalu memiliki senjata ampuh untuk bisa kapan saja dijadikan tameng pembelaan tentang apa yang telah aku lakukan. Aku hanya mencoba untuk jujur tentang apa dan mengapa aku berbicara demikian.

Hahaha… ini tampak seperti sedang berfilsafat saja.

Jadi, ini hanya sebuah kisah pertemuan dengan seorang gadis manis dari Kampung Cumbi yang kebetulan dipoles aura perkotaan. Namanya Elisabeth, berkulit putih dan memiliki sorot mata indah. Jika anda bertemu dengannya, anda akan melihat bagaimana seisi jagat ada di matanya. Pesona Desa Pandasari hanya setitik kecil dimatanya. Ia tampak seperti pucuk daun teh siap panen dan cukup nikmat jika diseduh dikala pagi.

Aku bukan orang yang romantis, aku hanya mencoba menggambarkannya sedemikian rupa melalui tinta pena yang mungkin tidak terlalu bermakna ketimbang foto-foto di akun Instagram anda. Ya, kira-kira demikian gambarang awal seorang Elisabeth, sesosok misterius yang tiba-tiba menjadi pencerah diantara kepenatan pikiran dalam hampa ruang benak ini.

Dulu sewaktu masih di asrama yang penuh dengan cerita asmara, ada sebuah kutipan puisi yang tanpa pengarang yang mempengaruhi cara pandang saya terhadap bagaimana menyikapi gejolak hati dan kemauan untuk selalu dicintai sebagai sifat dasar manusia yang egois itu:

“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Tetapi, lebih menyakitkan mencintai seseorang dan kita tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta kepadanya”.

Hal ini memang cukup masuk akal, tetapi susah juga kalau diterima begitu saja. Ada banyak orang berpikiran bahwa hal ini terlalu ekstrim untuk dilakukan. Kesan pertama yang muncul adalah kita akan dianggap menjadi pecinta palsu yang mempermainkan cinta hanya karena tipuan mata. Dampak pandangan ini adalah dimana kita menjadi terkesan menjaga image di depan dia yang sebenarnya berlawanan dengan kata hati kita.

Dalam film 5 CM seorang tokoh utama pernah mengatakan begini, “Susah ya jadi cewek. Nggak bisa menjadi yang pertama untuk mengungkapkan sebuah perasaan”.

Memang benar dan saya secara pribadi memberi angka serratus untuk pernyataan tersebut. Selain karena ia berkata jujur, ia juga menjelaskan bahwa laki-laki seharusnya peka terhadap perasaan perempuan. Kita harus keluar dari zona nyaman, berani menjadi yang pertama, menjadi penakluk yang tangguh dan bertanggung jawab tentunya.

Elisabeth, ia seperti setitik noda di jubah putih seorang pastor. Kecil tapi sangat mengganggu. Senyumannya sedikit tetapi mampu membuat orang betah dan enggan berlalu.

Mungkin itu sebuah settingan? Ah, memangnya politik di Indonesia? Hehehe…

Sebagai wanita normal, ternyata dia juga tidak pandai bersembunyi. Memang bukan permainan petak umpet tetapi begitulah wanita. Bagaimana pun bagi mereka masa pendekatan adalah momen terindah ketimbang masa pacaran.

Pertimbangan untuk sedikit berjual mahal atau sekedar menguji seberapa jauh keinginan laki-laki menginginkannya, mungkin sebuah kehendak terselubung yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Sekali lagi aku mau menegaskan, aku hanya mencoba untuk berkata jujur. Mengangumi apa yang pantas untuk dikagumi sangatlah perlu dilakukan. Memuji apa yang pantas dipuji adalah sebuah keharusan.

Untukmu Elisabeth, tetaplah tersenyum. Aku akan tetap terus mengagumimu. Bukan karena engkau cantikmu bukan karena engkau baik apalagi karena engkau tampak seperti pucuk harum daun teh siap seduh itu. Tetapi, sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang anak manusia dan sebagai laki-laki normal mengagumimu sebagai makhluk cipataan Tuhan yang tercipta begitu anggun di mata ku.

Ah Elisabeth…mungkin kata-kata berikut benar adanya, namun aku tidak tidak tahu.

“Kehilangan merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan apalagi yang dimaksud adalah orang yang kita kagumi. Tetapi dengan kehilangan, kita akan semakin menyadari bahwa milik kitalah orang tersebut.”
Oleh: Ecclesia Christi