Cinta: Antara Aku, Kau dan Juga Mereka
Cari Berita

Cinta: Antara Aku, Kau dan Juga Mereka

30 July 2017



Terbuai dalam mimpi akan suatu negeri yang makmur, negeri yang berhiaskan bunga-bunga mekar dan wangi yang semerbak, negeri yang masih terdengar suara binatang bernyanyi dan menari kesana kemari mensyukuri alam pemberian sang Bapa (Foto: Dok. Pribadi)

Senja kini akan berlalu, sang surya mengambil posisi paling barat dengan perlahan mulai meredup, sinar panasnya kini mulai berkurang, tanda akan kembalinya dia di pangkuan pemilik alam semesta.

Aku berhenti sejenak untuk melepas lelah di sebuah bale-bale reot dibalik tembok sebuah pabrik semen sambil bersandar di tembok pabrik itu. dengan hanya ditemani sebatang rokok beserta asap mengepul yang keluar dari cerobong asap pabrik itu.

Alunan seram mesin pabrik masih terdengar menggema, memecahkan keheningan, menenggelamkan suara burung yang terperangkap di dalam sangkar besi yang mungkin satu atau dua hari lagi akan mati.

Asap kendaraan yang keluar dari knalpot  berkeliaran di mana-mana, asapnya yang hitam pekat sisa-sisa pembakaran kendaraan yang lalu lalang di jalanan  mengepul di awan yang kian hari kian menghitam.

Tubuhku yang Kumal, diterpa angin hangat sore itu, membuat kulitku masih mengeluarkan keringat yang membasahi baju kaos oblong hitam yang aku pakai.

Aku tak sadar akan keringat yang membasahi bajuku, aku masih terbuai dalam dunia imajinasiku. Terbuai dalam mimpi akan suatu negeri yang makmur, negeri yang berhiaskan bunga-bunga mekar dan wangi yang semerbak, negeri yang masih terdengar suara binatang bernyanyi dan menari kesana kemari mensyukuri alam pemberian sang Bapa, negeri tempat pohon-pohoh tumbuh subur dari daunnya menghembuskan udara sejuk dan dari tanahnya mengalir air yang jernih melepas dahaga.

Hayalku semakin tinggi dan  sial! Aku kembali sadar dari hayalku. Aku menyadari kenyataan pahit di negeri tempat aku berpijak saat ini kering, panas dan menyeramkan. Rasanya aku ingin tetap pada hayalku itu.

Perlahan aku bangkit dari dudukku, merelakan hayalanku itu lenyap dan melangkahkan kakiku pada bumiku yang semakin hari semakin gersang, melewati lorong jalan yang berhiaskan sampah plastik yang berserakan.

Di sebelah barat jalan dekat gundukan sampah, seorang wanita tua dengan wajahnya yang mulai keriput dan mengenakan jilbab biru muda dengan raut wajahnya yang lesu menggambarkan betapa hatinya bersedih seperti sedang mengeluh "betapa kerasnya hidup di kota ini", sesekali mengais gundukan sampah itu berharap akan menemukan kaleng bekas minuman yang tertimbun di gundukan sampah yang tampaknya akan mengeluarkan bau yang menyengat hidung.

Dalam pikiranku berkecamuk pertanyaan "sebegini kejamnyakah kota ini? Ibu tua yang semestinya beristirahat di rumah masih saja sedang mencari rejeki dari tempat yang tak diperhatikan orang-orang​".

Ah, Dasar kota!,

Aku jadi ingat nenek saya dikampung, wajahnya yang sudah tua, terpancar senyuman ketika mengunyah daun sirih sambil menceritakan masa lalu desaku. Bercerita tentang alam desaku penuh akan kegembiraan dengan situasi alam yang masih indah dan hijau.  Namun kini dia sudah kembali kepada sang Bapa. Kembali ke pemiliknya.

Serasa Tugasnya untuk menjaga alam ini sudah selesai, dia sudah kembali ke ketenangan yang abadi. Masih teringat pesannya yang selalu dia utarakan ketika kami menanam jagung di kebun, ”nak alam ini adalah titipan bagi anak-cucumu, Jangan kau hancurkan alam ini hanya karena keserakahanmu semata”.

Pesan singkat nan bermakna ini seolah-olah menampar wajahku dan menyadarkan aku bahwa ini sesungguhnya adalah tanggung jawab  yang besar kepadaku untuk menjaga alam ini. Aku jadi tidak yakin apakah aku sanggup melaksanakannya. Ah, ini terlalu sulit bagiku. Tapi tanggung jawab haruslah dipertanggungjawabkan, kiranya ini adalah salah satu tujuan aku dilahirkan di dunia ini.

Langkah kakiku pun terasa sangat berat. Sudah sangat jauh aku berjalan. Tiba-tiba hp ku berbunyi, lagu “Bangun pemuda pemudi” mendering dari smartphoneku aku sengaja menyetel lagu ciptaan Alfred Simanjuntak  ini menjadi ringtone di smartphoneku, lagu kebangsaan penuh makna tersebut agar aku selalu ingat bahwa aku ini adalah seorang pemuda yang punya tanggung jawab sekaligus hutangku terhadap negara tercinta ini. 

Rupanya ada seseorang sedang menelponku.

Perlahan aku mengeluarkannya dan terdengar suara temanku yang memberitahuku bahwa sebentar malam akan diadakan diskusi untuk membahas mengenai isu akan dibangunnya tambang  di suatu daerah di sekitaran Malang. “Oke, oke, aku akan datang” aku menyanggupi undangan itu seraya menutup telepon darinya.

Langkahku pun aku percepat, dari kejauhan, tampak sekumpulan anak muda dengan gitar dan gendang yang dijinjing kemana-mana berlabuh ditempat keramaian dengan lantunan suara emasnya menghibur orang orang yang sedang senyum-senyum sendiri  seketika menatap layar gadget miliknya dan berharap kasih sayang dari mereka untuk menyumbangkan  uang receh sisa pembelian hari ini.

Aku terus berjalan dengan berkecamuk pikiran akan isu pembangunan Tambang tersebut.

Inilah keserakahan dari penguasa tanah ini. Mereka tidak mempedulikan dampak akan kerusakan alam jika mereka ngotot untuk membangun tambang untuk menguras isi bumi. Rasanya pemerintah hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi sehingga memberikan ijin untuk hal itu.

Tidak boleh! Ini tidak boleh dibiarkan. Pemerintah jancok itu sepertinya tidak lagi memperhatikan alam sekitar. Mereka hanya memikirkan keuntungan dari tambang itu. Alasan pertumbuhan ekonomi terus keluar dari jumpa pers yang hanya bualan tersebut. Isi hati mereka hanya dipenuhi oleh uang. Sudah bisa diprediksi jalan pikiran mereka, bahwa uang tersebut sebagai besarnya akan masuk ke rekening pribadi mereka untuk kembali menyogok rakyat di pemilu berikutnya.

Malam itu, seperti yang direncanakan, aku dan kawanan organisasiku membahas tentang isu pembangunan tambang tersebut. Argumen yang keluar dari mulut kami terasa seperti mempercepat laju waktu. Tak terasa pagipun menjelang. Ampas kopi dan puntung rokok berkeliaran disekitaran meja diskusi.

Keputusan akhirnya bahwa kami sepakat akan melakukan aksi unjuk rasa untuk menolak tambang itu. Semingguan penuh kami menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan aksi itu. Mulai dari undangan dan berbagai hal teknis lainnya. Singkat cerita kami pun selesai menyiapkan segala hal mengenai hari itu sudah semingguan penuh kami bekerja.

Dan tibalah di hari yang direncanakan. Sungguh suatu kekecewaan muncul, masa yang datang pada waktu itu tidak sesuai dengan harapan. Undangan kepada mahasiswa yang lainnya seperti sia-sia belaka. Mereka seperti menganggap itu bukanlah suatu hal penting dan buang-buang waktu dan tenaga belaka. Tapi itu bukanlah suatu tantangan bagi kami untuk tetap melakukan aksi tersebut walaupun hanya tersisa puluhan orang saja.

Dibawah terik matahari dan berteman debu asap kendaraan. Beberapa orang Mahasiswa yang sedang duduk di taman tidak jauh dari tempat aksi tempat melirik sinis kearah kami seperti sedang mengira bahwa sekumpulan orang gila sedang berteriak di jalanan hanya untuk suatu pencitraan.  Pemandangan Itu menjadi suatu hal yang biasa bagi kami, persetan dengan mereka.

Dengan semangat yang menggebu-gebu dan mendengarkan orasi-orasi yang sangat energik dari korlap kami, sesekali lantunan lagu “darah juang” terdengar riuh di tengah bunyi kendaraan bermotor yang sedang berlalu-lalang.

Sepanjang jalan kota itu menjadi saksi bahwa beberapa mahasiswa masih peduli. Setelah selesai berorasi dijalanan, selanjutnya adalah menuju kantor pemerintahan untuk audiensi langsung dengan pemerintah dan alhasil semuanya berjalan lancar. Aspirasi kami didengar dan pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana pembangunan Tambang tersebut. Akhirnya usaha kami tidak sia-sia.

Senyuman Manis tampak dari wajah kami semua menggambarkan perasaan bangga yang sangat luar biasa. Bangga bukan karena muncul di beberapa media pemberitaan di media sosial, tapi bangga lantaran label Mahasiswa yang melekat di dalam diri akhirnya tidak sia-sia, langkah pulang teras ringan dengan wajah berbinar-binar.

Malam pun berlalu, sebelum tidur saya tidak lupa merenungkan bahwa kejadian seharian tadi, hanyalah permulaan. Akan ada lagi rencana busuk dari mereka untuk menghancurkan alam ini. Menjadi tugas berat bagiku untuk terus mengawasi dan mengawal untuk mengantisipasi hal itu terjadi. Malam terus berlalu, rasa ngantukku telah menggoda mataku untuk untuk tidur dan aku terbuai dalam tidurku melepaskan kepenatan hari tadi.


Oleh: Beni Pankri
Mahasiswa S1 Teknik Sipil Univ. Dr. Soetomo, Surabaya
Kader PMKRI Cab. Surabaya