Bahasa, Pikiran dan Realitas
Cari Berita

Bahasa, Pikiran dan Realitas

30 July 2017


Jose DC Vardial

Sejatinya, bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk melakukan interaksi secara sosial dengan manusia lainnya. Untuk itu, bahasa disini juga merupakan bagian daripada realitas itu sendiri yang dalam cakupannya pun terkandung interpretasi dari pikiran manusia itu sendiri. Pada prosesnya, bahasa akan melahirkan sebuah makna yang sebelumnya diolah oleh pikiran yang kemudian melalui makna tersebut lahir sebuah pemikiran yang bisa dijadikan sebagai acuan dasar dalam melakukan tindakan.

Sebagaimana diungkapkan oleh fisher (dalam Alex Sobur, 2006: 19), makna itu sendiri bisa dikatakan sebagai konsep yang abstrak. Semenjak Plato mengkonseptualisasikan makna manusia sebagai salinan “ultrarealitas”, para pemikir besar telah sering mempergunakan konsep itu dengan penafsiran yang sangat luas yang merentang dari Locke sampai ke respon yang dikeluarkan dari Skinner.

Pertanyaan kemudian muncul, darimana datangnya makna tersebut?. Menurut De Vito (1997: 123-124), makna lahir dari dalam diri manusia. Menurutnya, makna tidak terletak pada kata-kata (bahasa), melainkan pada manusia itu sendiri. Manusia hanya bisa menggunakan kata-kata untuk mendekati makna yang ingin dikomunikasikan. Olehnya itu, disini tentu saja dapat dilihat bahwa makna kata (bahasa) dalam pola komunikasi sosial ditentkan oleh tawar menawar yang selalu tanpa henti. Tawar menawar yang dimaksudkan disini adalah sebuah mekanisme dalam mengkomunikasikan bahasa yang lahir dari kata itu sendiri.

Semua ahli komunikasi sepakat, sebagaimana yang dikutip oleh Jalaluddin Rahmat (dalam Alex Sobur, 2006: 20) bahwa makna bahasa sangatlah subjektif. Dalam kehiduapn sehari-hari, sering ditemui kasus dimana seseorang membaca atau mendengar kata atau kalimat yang menggunakan bahasa yang tidak diketahuinya (bahasa yang bukan bahasanya). Dalam persoalan ini, kemudian secara tidak langsung jelas memrlukan interpretasi yang subjektif dari sang pembaca atau pendengar tersebut, jadi bukan hanya soal pengalihan bahasa ke dalam bahasa yang digunakannya melainkan juga interpretasi yang secara tknis menggunakan pikiran sang pendengar atau pembaca tersebut tadi.

Sehingga, bisa dikatakan bahwa bahasa dan maknanya serta pikiran itu sendiri merupakan sesuatu yang kolektif. Seandainya saya sebagai penulis misalnya membuat sebuah pernyataan yang menurut saya adalah positif, namun karena bahasa yang saya gunakan dimaknai negatif oleh orang yang mendengar atau membacanya, maka kemudian pemaknaan yang ada pun menjadi memiliki arti yang berbeda, sebab sekali lagi bahwa antara bahasa dan maknanya serta pikiran itu sendiri memiliki tugas masing-masing yang pada tingkat lanjut mempengaruhi realitas yang melingkupi ketiga elemen tadi. Disinilah mungkin kebenaran teori dari Roland Barthers yang mengatakan The author is dead. Sebagaimana dikatakan dalam bukunya The Death of Author (1977), dimana ia banyak memaparkan tentang peran pengarang, buku dan teksnya. Ia juga mengatakan penggusuran pengarang, peran sang pengarang yang makin mengecil (seperti pemain yang menghilang pada ujung panggung) (Kaelan, 2009: 202).

Dari pengantar di atas, penulis akan mencoba mengankat sebuah tema dalam tulisan ini, yang pada dasarnya berangkat dari sebuah kasus yang sering dilihat dalam kehidupan keseharian manusia sebagai makhluk sosial, yakni tentang bahasa yang digunakan oleh penguasa terhadap rakyatnya ketika mengeluarkan sebuah kebijakan. Begitupun dalam bahasa yang digunakan oleh media dalam meliput apa yang dikatakan oleh penguasa tersebut, yang sangat berpengaruh terhadap opini dan kehidupan realitas manusia itu sendiri.

Namun sebelum itu, penulis juga akan sedikit membahas makna kata, pikiran dan realitas itu sendiri yang kemudian akan dilanjutkan dengan pengkorelasian atas ketiganya. Pada akhirnya nanti, penulis akan coba memberikan sebuah analisis dari ketiga hal di atas yang saling kontiniu dan berhubungan satu sama lain dalam sebuah kasus sebagaimana telah disebutkan di atas.

Mungkin para pembaca yang budiman merasa bahwa tulisan ini sejatinnya mendekati analisis semiotika atau hermeneutika ketimbang analisis filsafat bahasa yang coba digunakan dalam tulisan ini. Namun perlu digaris bawahi, menurut penulis sendiri bahwa sejatinya kajian semiotika maupun hermeneutika adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan kajian filsafat bahasa, sebab keduanya pun lahir dari pengembangan analisis filsafat yang bercorak kebahasaan.

Keterkaitan kedua hal tersebut dengan filsafat bahasa, dapat dilihat dalam pembahasan filsafat bahasa itu sendiri. Dalam filsafat bahasa, selain membahas hakikat bahasa sebagai suatu sistem tanda, juga mengkaji tentang bagaimana hakikat bahasa sebagai suatu ungkapan kehidupan manusia (Kaelan, 2009: 160). Untuk itu menurut penulis, pembahasan dalam tulisan ini sangatlah relevan dengan kajian filsafat bahasa yang akan digunakan dalam analisis dalam tulisan ini.

Sebagai penguat argumen diatas, dapat pula dilihat dari apa yang dikatakan oleh Saussure dan Wittgenstein (dalam Kaelan, 2009: 159-160). Menurut Saussure bahwa bahasa merupakan suatu sistem tanda. Sedang menurut Wittgenstein bahwa ungkapan bahasa merupakan suatu ungkapan kehidupan. Untuk itu antara semiotika, hermeneutika dan kajian filsafat dapat dikatakan mirip tapi beda, sebab antara ketiga memiliki akar yang sama namun arahnya sedikit berbeda.

Kata, Pikiran dan Realitas
Menurut Russel (1921: 103), dalam sebuah kata adalah bukan sesuatu yang unik dan particular melainkan sebuah kumpulan kejadian. Jika kita membatasi diri untuk mengucapkan kata-kata, maka kata tersebut memiliki dua aspek, tergantung seperti apa kita memandangnya baik dari sudut pandang  si pembicara maupun dari para pendengarnya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa sejatinya sebuah pemaknaan atas sebuah kata akan mempengaruhi interpretasi dalam memahami maksud kata tersebut. Apalagi dalam kandungan kata tersebut terdapat sebuah kumpulan fakta kejadian yang tentunya sangat berpengaruh terhadap kondisi realitasnya. 

Sebagai salah satu tokoh awal dari filsafat analitik, Russell beranggapan bahwa sebuah kata adalah tidak sama sekali sesederhana aeperti yang kita pikirkan. Sebab sebuah kata terkadang memiliki kata lain yang sepadan dengannya namun maknanya terkadang sangat berbeda jika diaplikasikan dalam sebuah konteks yang sama. Olehnya itu, kata tersebut secara alami memberikan asumsi terhadap pemaknaan sebuah kata sebagai sesuatu yang memiliki arti yang berbeda dengan makna asli dari kata tersebut.

Untuk itu, perlu dilihat disini, bahwasannya setiap rangkaian kata secara otomatis akan membentuk sebuah struktur kalimat yang tentunya dari struktur kalimat tersebut melahirkan sebuah bahasa. Untuk melihat hal tersebut bisa kita lihat dalam dalam pandangan Galileo (dalam Chomsky, 2002: 45) yang sedikit memberikan pemaknaan terhadap bahasa yang digunakan oleh manusia yakni penggunaan kata-kata yang bermakna secara terbatas terhadap ekspresi sebuah susunan pikiran yang tak terbatas.

Selain itu, bahasa sendiri jika didefenisikan akan bermakna selain bermakna sebagai alat komunikasi juga dapat diartikan sebagaimana yang dikatakan Blommfield (dalam Kaelan, 2002: 7) sebagai bentuk empirik yang merupakan sarana ekspresi manusia. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem simbol yang memiliki makna, berfungsi sebagai alat komunikasi dan bentuk luapan ekspresi dari pikiran manusia dalam pencariannya tentang hakikat kebenaran, terutama dalam kehidupannya sehari-hari.

Sedikit berbeda dari pemaparan diatas, menurut Bourdieu, bahasa merupakan satu elemen intrinsik dalam perjuangan kompetitif atas pemakaian kebudayaan dan proses reproduksi budaya yang memberikan kontribusi penting pada tatanan yang ada (Richard Jenkins, 1992:243). Pandangan ini, kemungkinan besar didasari atas titik tolak pandangan Bourdieu pada hal kebudayaan.

Selain itu, juga hal ini sangat mungkin didasari kritik atas bahasa formalis dan bahasa murni dan keberatannya terhadap pemisahan yang dilakukan Saussure atas Bahasa (langue) dan tuturan (parole) dan diferensiasi antara kompetensi dan penampilan yang diungkapkan oleh Chomsky (untuk lebih lengkapnya lihat Richard Jenkins, 1992: 235-237).

Selanjutnya, pikiran yang dalam hal ini dapat dikatakan sebagai sesuatu yang berasal dari hasil proses kerja otak yang kemudian ditransfer kepada akal yang dengan sendirinya menghasilkan sesuatu yang sering disebut sebagai pikiran. Untuk itu, jika ditinjau lebih jauh mengenai pemaknaan atas pikiran ini, menurut penulis bahwa sejatinya pikiran manusia itu berasal dari kata-kata yang digunakannya dalam berbahasa. Sehingga pada level berikutnya menimbulkan sebuah pemahaman tentang sesuatu hal yang dapat di interpretasikan. Namun, sangat berbeda jika lahirnya suatu pikiran dalam kepala manusia yang tidak bermula dari penggunaan kata yang dirangkai dalam bahasa tertentu. Setidaknya akan menimbulkan makna pikiran yang kosong dan tak berguna.

Terkadang orang mengartikan antara pikiran dan berpikir dengan arti yang sama. Padahal antara keduanya memiliki perbedaa yang sangat signifikan. Berfikir merupakan sebuah proses yang dimulai dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak. Sedangkan pikiran adalah hasil dari proses berfikir itu tadi yang bermula dari sesuatu yang abstrak ke hal yang konkrit. Jadi antara keduanya jelas sangat berbeda meskipun memiliki keterkaitan yang sangat erat. Kedua hal inilah jika digabungkan dan dirunutkan satu sama lain akan menimbulkan apa yang sering disebut sebagai proses dialektika.

Lenin dalam Muhammad Baqir Ash-Shadr (1999: 123) memberikan defenisi terhadap arti dari pikiran, yakni benak manusia yang mengkonsepsikan kebenaran semata-mata sebagai gambar yang lemah dan diam tanpa gerak. Sehingga, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkannya adalah kedekatan yang tak ada habisnya dan abadi. Pandangan ini tentunya didasari atas pemahaman tentang dialektika oleh lenin sendiri, yang pada aplikasinya menggunakan penegrtian ini sebagai sebuah alat dominasi terhadap pemikiran yang dikembangkannya.

Selanjutnya, jika ditinjau libh jauh, maka akan ditemukan makna atas pikiran itu sebagai suatu hal yang menginginkan pencarian terhadap suatu kebenaran yang hakiki. Sebab pengetahuan akan kebenaran menurut para rasionalis dan realis hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pikiran. Jadi, jika mengacu pada pendapat Russell tentang pengetahuan tersusun atas kepercayaan dan cerapan indera, maka objek kebenaran akan pengetahuan hanya dapat ditangkap oleh indera dan dikelola oleh pikiran yang pada akhirnya menemukan hakikat kebenaran itu sendiri ( lebih detailnya, lihat Abbas Hamami Mintaredja, 2003: 70-71).

Pikiran disini juga, jika ditinjau dari akar kebahasaan, maka akan dijumpai pemaknaan berupa hierarki dalam bahasa dan pemikiran, yang dalam teori Russell diasumsikan sebagai teori bentuk. Sehingga, lebih lanjut dijelaskan bahwa penggunaan kata atau bahasa sangat tergantung pada kondisi pertimbangan logis dan pertimbangan psikologis (Ibid: 69) dan tentunya kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan pikiran itu sendiri.
Untuk itu dapat dikatakan bahwa pikiran itu lahir dari olah nalar yang bersifat logis melalui rangkaian kata-kata dalam bahasa yag diterimanya yang kemudian melahirkan sebuah tesis atas sebuah kebenaran. Bahkan secara bebas, realitas dapat diartikan sebagai bentuk segala kondisi yang di dalamnya terdapat objek-objek yang ada dalam dunia kehidupan, atau sering dilawankan dengan kata fiksi atau fantasi yang hanya besifat hayalan dan halusinasi.

Pemaknaan atas realitas sendiri, dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada (eksis) pada lingkungan sekitar kehidupan manusia. Pemaknaan ini memang sangatlah sederhana jika ditinjau dari aspek pendangan yang sederhana pula. Namun, setidaknya pemaknaan ini dapat mewakili arti dari realitas itu sendiri.

Realitas sendiri menurut Yasraf Amir Piliang (2010: xxix) adalah ibarat sebuah peta geografis yang dinamis, yang tampil dalam kekayaan kontur, permukaan, dataran, retakan atau keping-keping; yang unsur-unsurnya selalu berganti, berubah, berpindah, atau bertransformasi. Sehingga menurutnya lagi realitas itu selalu menampakkan wujudnya dalam cara yang berbeda. Terkadang ia hadir seperti dugaan, namun sering juga tampil dalam keadaan yang tak terduga; terkadang ia muncul seperti yang dibayangkan, namun terkadang pula muncul tidak seperti yang dibayangkan. Kadang ia tampak dalam keberaturan, tetapi sering pula tampak dalam bentuk tak beraturan. Kadang ia refleksi dari sebuah hal yang rasional, namun sering pula ia menjadi sebuah refleksi yang berasal dari hal yang irrasional.

Untuk itu, memahami sebuah realitas, memang memerlukan sebuah penalaran dan penginderaan yang sangat kompleks. Sebab jika tidak seperti itu, maka pembacaan secara utuh terhadapnya terkadang tidak tepat sasaran yang dituju dan dengan sendirinya akan menimbulkan sebuah pandnagan yang tidak realistis.

Donny Gahral Adian dalam Yasraf Amir Piliang (2010: xix) membagi dua narasi besar tentang asal usul realitas tersebut. Menurutnya, narasi yang pertama adalah narasi agama-agama monoteis. Narasi ini bercerita tentang penciptaan alam semesta oleh Tuhan dari sebuah ketiadaan. Narasi yang kedua adalah narasi kosmologi sekular. Narasi ini merupakan kobinasi filsafat dan ilmu alam yang memunculkan pelbagai macam teori-teori besar sebagai lawan tanding dari narasi agama. Namun terlepas dari perbedaanya satu sama lain, keduanya bersikukuh tentang perwujudan alam semesta sebagai awal mula sejarah manusia.

Dari penjabaran diatas, dapat dijabarkan bahwa persoalan realitas adalah sebuah persoalan klasik, utamanya dalam tataran dunia filsafat. Mulai dari era Plato sampai pada era posmodernisme yang banyak membahas tentang persoalan bahasa dan sistem tanda. Pada era-era tersebut, sering muncul pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, seperti apa itu realitas?, bagaimana wujudnya? Dan seperti apakah yang disebut real itu?.

Dalam sejarah filsafat, tercatat bahwa pandangan tentang realitas adalah sesuatu yang bersifat materi dan objektif, yang mana hanya dapat dikenali dan dipahami lewat mekanisme intuisi dan indera, yang membawa pada sebuah pandangan materialisme mengenai realitas. Namun di lain pihak, penjelajahan mengenai kemungkinan adanya realitas lain dibalik yang materil, yang mana hanya dapat ditangkap melalui kapasitas akal budi (ide, gagasan, Tuhan, esensi), membawa pada sebuah pandangan idealisme mengenai realitas (Yasraf Amir Piliang, 2010: 5).

Sehingga, dari seluruh pemaparan pada sub masalah ini, dapat dikatakan bahwa tentang makna dari kata yang merupakan rangkai penyusun dari bahasa, pikiran dan realitas memiliki keterhubungan satu sama lain, yang pada sub pembahasan berikutnya akan dijabarkan secara lebih rinci bentuk dan pola hubungan ketiganya.

Korelasi antara kata, pikiran dan realitas
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang makna dari ketiganya, dapat dilihat secara implisit bahwa sejatinya antara ketiganya memiliki keterhubungan timbal balik antara satu dengan yang lainnya. Untuk itu, dalam sub pembahasan ini, penulis akan sedikit memaparkan keterhubungan (korelasi) dari ketiganya yang berdasarkan analisis kebahasaan dan konteks ketiganya dalam kehidupan sehari-hari.

Kata, jika dipahami secara lebih luas maka akan ditemukan sebuah pemahaman yang tak bisa dilepaskan dari hal yang sering disebut dengan bahasa. Sebab bahasa (secara verbal) itu sendiri merupakan rangkaian kata-kata yang secara harfiah memiliki makna sendiri-sendiri.

Secara logis, hubungan antara kata (bahasa) dengan pikiran dan realitas dapat dilihat melalui penggunaan kata (bahasa) dalam kehidupan sehari-hari manusia. Dalam hal ini, jelas terlihat hubungan antara kata dan keduanya. Sebab melalui kata maka akan menimbulkan pantulan dari sebuah simbol bunyi yang akan dikelola oleh otak melalui pikiran dan akan kembali dipantulkan kepada keadaan realitas tersebut melalui simbol bunyi yang disebut sebagai bahasa. Penjelasan ini memang terlalu sederhana, namun hal tersebut bukanlah sebuah kendala yang teramat besar jika dibandingkan dengan sebuah penjelasan yang panjang lebar namun sangat sulit untuk dipahami.

Meskipun demikian, supaya dikatakan sebagai sesuatu yang rinci, maka perlu juga sedikit diberikan rncian hubungan timbak balik antara ketiganya dengan model penjelasan yng menggunakan model term per term.
Kata (bahasa) sebagaimana diungkapkan dalam penjelasan sedrhana diatas dengan hubungannya dengan pikiran jelasa sangat signifikan. Sebab jika ditinjau lebih dalam lagi, antara keduanya saling menunjang satu sama lian. 

Kata sebgai perangkai bahasa tak akan pernah ada jikalau manusia tidak pernah memiliki pikiran. Begitupun sebaliknya, kata pikiran sendiri tidak akan pernah lahir apabila tidak ada bahasa yng biisa mengungkapkannya. Sehingga dalam tataran teorinya, keduanya saling memberikan simbiosis mutualisme dalam melaksankan peran masing-masing. Analogi ini memang masih senagt sulit diterima jika hanya dilihat dari sisi yang berbeda dari kajian ini. Namun untuk menegaskan, perlu diperhatikan sekali lagi bahwa ketidakterlepasan antara hubungan keduanya adalah sesuatu yang sanat mutlak adanya.

Seperti yang dikatakan oleh Lyotard (2009: 56) tentang komentarnya mengenai Wittgenstein yang mengambil studi bahasa dalam keping-kepingan dan memfokuskan pehatiannya pada efek-efek mode yang berbeda dari wacana-wacana. Dia menyebutnya sebagai beragam tipe ucapan yang diidentifikasikannya dalam suatu cara yaitu permainan bahasa. Penjelasan ini jelas memberikan sebuah pandangan bahwa dalam metode ini, permainan bahasa tidak bisa dilepaskan dari pola pikir yang memainkan metode tersebut sebagai salah satu metode dlam mengidentifikasi sesuatu.

Selanjutnya, karena dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berfikir, maka dengan demikian akan ditemukan sebuah konsekwensi logis dari pandangan ini yakni manusia juga adalah mkhluk yang memiliki bahasa. Sebab manusia mengekspresikan pikirannya hanya lewat bahasa (baik verbal maupun non verbal), sebagaimana jika merujuk kepada makna dari bahasa itu sendiri sebagai bentuk pengekspresian dari hasil pikiran manusia. Sehingga, tak diragukan lagi hubungan antara keduanya sangatlah erat. Bahkan dari hal ini bisa dilihat bagaimana kondisi psikologis seseorang. Bila bahasa yang digunakan oleh ornag tersebut kacau, maka secara otomatis bahwa pikiran otang tersebut juga kacau begitupun sebaliknya (Alex Sobur, 2006: 16).

Kemudian, hubungan antara pikiran dan realitas dapat dilihat dari pendapat Russell tentang pengetahuan tersusun oleh kepercayaan dan cerapan indera. Dimana secara implisit bisa dikatakan bahwa kepercayaan itu adalah pikiran dan cerapan indera itu adalah gambaran murni dari sebuah realitas. Hal ini bisa dilihat pula pada pandangan Russell dalam Abbas Hamami Mintaredja (2003: 70) bahwa semua pengetahuan atas dasar pengalaman mengatakan kepada kita sesuatu mengenai apa yang tidak dialami, yang didasarkan pada kepercayaan yang tidak dapat dibenarkan maupun ditolak oleh pengalaman, akan tetapi setidaknya dalam penerapannya yang lebih konkret, tampak banyak fakta pengalaman berakar kuat dlam diri kita.

Bertolak dari pandangan diatas, disini snagat jelas terlihat bahwa antara pikiran yang dipantulkan dari pengalaman manusia yang berasal dari dunia realitas memiliki keterhubungan yang saling timbal balik sebab dari pantulan tersebutlah maka kemudian timbul sebuah kepercayaan atas pengalaman tersebut yang tentunya didasari atas pikiran manusia.

Mengenai korelasi antara kata (bahasa) dan realitas disini, bisa dilihat dalam kehidupan keseharian dalam kehidupan manusia. Semisal, perkataan yang diberitakan oleh sebuah radio tentang “hantu jamu gendong” akan sangat mempengaruhi opini para pendengarnya bahwa hantu jamu gendong itu ada. Tentunya berawal dari bahasa ini lah yang kemudian membentuk sebuah opini yang apda tingkat selanjutnya membentuk realitas sosial masyarakat tentang kepercayaan terhadap keberadaan hantu jamu gendong tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa bahasa mempunyai sebuah kekuatan besar yang mampu membentuk sebuah realitas baru dalam masyarakat, yang dengan sendirinya memunculkan istilah (bahasa) kosakata baru tentang sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Saking besarnya kekuatan pengaruh bahasa terhadap realitas ini dan begitupun selanjutnya realitas memunculkan kosakata bahasa yang baru, sehingga bisa menggerakkan dunia ini dengan hanya mengucapkan sebuah rangkaian bahasa melalui kata-kata tersebut. Bahkan ada yang memandang bahwa kebesaran bahasa tersebut sangat ditentukan oleh makna yang dikeluarkan bahasa tersebut. Sehingga melalui makna bahasa tersebut manusia dapat mengisi hidupnya dengan penuh  makna pula (Alex Sobur, 2006: 16).

Dalam kajian filsafat bahasa sendiri, dikatakan bahwa orang dapat mencipta dan menata realitas hanya lewat bahasa. Sebab melalui bahasa segala bentuk persoalan yang tersembunyi pun bisa muncul kepermukaan dan bisa diketahui secara umum sehingga menjadi sebuah kenyataan. Meski menurut Lorens bagus dalam Alex Sobur (2006) bahasa dapat juga menjadi boomerang bagi kehidupan manusia sebab bisa menghancurkan sebuah tatanan realitas yang sudah mapan (menjadi bahasa tiran).

Dari sub pembahasan ini, dapat dilihat betapa keterhubungan antara ketiganya yang secara timbal balik ini memiliki arti yang sangat penting dalam proses perkembangan pengetahuan ummat manusia. Sebab ketiganya dapat membentuk dan menentukan sebuah bentuk kehidupan yang ideal atau tidak. Selain itu, dapat pula dilihat disini bahwa bahasa itu sendiri memiliki beberapa fungsi pokok yang sangat menunjang apakah pikiran dan realitas bisa berjalan atau tidak. 

Diantara fungsi pokok itu adalah pertama fungsi ideasional yang dapat membentuk, mempertahankan dan memperjelas pandangan manusia, kedua fungsi interpersonal yang dapat memberikan dan menyampaikan informasi tentang apa yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia dan ketiga fungsi tekstual yang menyediakan sebuah kerangka pengorganisasian sebuah wacana yang releven terhadap perkembanagan pemikiran manusia dalam melihat realitas (untuk lebih lengkapnya, lihat Alex Sobur, 2006: 17-19).

Media sebagai pusat bahasa, pembentuk opini dan realitas
Sebelum memulai analisis ini, penulis ingin sedikit bercerita tentang dua orang tukang becak. Kedua orang ini memiliki tempat mangkal yang sama pada sebuah ruas jalan protokol di kota Surabaya. Suatu hari tersiar kabar melalui media bahwa telah terjadi sebuah perkelahian antar etnis dimana etnis yang terlibat perkelahian itu melibatkan kedua etnis kedua tukang becak ini yang masing-masing dipihak yang saling bertikai tersebut. Namun ada sesuatu yang tidak diungkapkan media secara rinci dalam pemberitaan tersebut, yakni tentang awal mula perkelahian itu yang sebenarnya hanya melibatkan dua orang saja dengan pokok permasalahan yang sangat sepele.

Pemberitaan yang dikeluarkan oleh media tersebut, dengan menggunakan banyak sekali bahasa yang metaforis sehingga mempengaruhi hubungan kedua orang ini. Apalagi pemberitaan itu semakin lama semakin dibesar-besarkan sebab kebetulan dalam waktu dekat akan terjadi terjadi pemilukada yang melibatkan pertarungan dua pasnag calon yang berasal dari kedua etnis yang bertikai tadi. Semakin lama, hubungan antara kedua tukang becak tadi semakin memburuk. 

Puncaknya adalah ketika salah satu pasangan calon yang terlibat pertikaian tersebut melintas di jalan tempat mereka mangkal tadi. Sang tukang becak yang satu (sebut saja si A) yang tidak mendukung pasangan calon yang melintas ini karena alasan berbeda etnis kebetulan membaca berita pertikaian tersebut pada salah satu koran lokal. 

Gaya bahasa yang digunakan dalam koran tersebut sangat berapi-api dan si A merasa etnisnya cenderung dipojokkan. Maka dengan serta merta si A tersebut melemparkan koran tersebut ke arah sang pasangan calon tadi disertai dengan makian yang tentunya didengar oleh si tukang becak yang satunya (sebut saja si B). Mendengar hal itu si B merasa tersinggung dan langsung menghantam si A dengan sebuah kepalan tinju. 

Sehingga kemudian terjadilah perkelahian yang sehurusnya tidak terjadi disebabkan oleh bahasa yang digunakan oleh media koran tadi yang dipahami oleh si A agak menyudutkannya apalagi terdapat anggapan yang menunjukkan bahwa media tersebut cenderung berat sebelah.

Dari pemaparan diatas, dapat dilihat secara real di masyarakat bahwa bahasa media sangat mempengaruhi opini publik yang pada gilirannya mempengaruhi tindakannya dan realitas masyarakat tersebut. Meski demikian, sejatinya dalam kasus seperti yang dipaparkan diatas, meski dilihat peran tunggal media yang melakukan tafsir tunggal terhadap bahasa yang digunakannya tanpa memperhatikan ruang publik yang menjadi sasaran penberitaannya. Maka dari itu, dalam pembahasan ini sengaja penulis mengankat tema media sebagai pusat bahasa yang sangat berpengaruh pada opini publik dan tentunya realitas itu sendiri.

Mungkin masih teringat ketika fase orde baru dahulu, bagaimana sang rezim menggunakan tafsir tunggal terhadap pancasila yang disebarkan melalui saluran media baik cetak maupun elektronik. Melalui media pula, setiap malam tanggal 30 september disiarkan film bagaimana kejadian yang sering disebut G 30S/PKI itu. Dengan menggunakan bahasa yang sangat propagandis dan dikotomis merasuki pikiran setiap anak bangsa ini, sehingga segala sesuatu pemikiran yang menyangkut pemikiran komunisme dan marxisme secara umum tidak boleh untuk disentu apalagi untuk dipelajari.

Begitupun dengan beberapa kosakata yang dahulunya mengandung makna yang sangat mengakar dalam pikiran manusia Indonesia kemudian di reduksi atau paling tidak diperhalus, semisal kata ditangkap diganti dengan diamankan, rakyat diganti dengan masyarakat, digusur diganti direlokasi, dsb. Hal ini jelas mendistorsi makna sebuah bahasa yang sudah ada yang pengaruhnya jelas berimbas pada opini publik dalam memaknai realitas.

Menurut Walter Truett Anderson dalam Yasraf Amir Piliang (2010: 69) media senantiasa mengambil bahan baku dari pengalaman dan mengemasnya dalam bentuk cerita. Ia menceritakan kembali cerita itu kepada kita dan kita pun menyebutnya sebagai realitas. Pandangan ini jelas menunjukkan bahwa sejatinya selama ini media lah yang sering membentuk apa yang sering disebut sebagai realitas tersebut, yang pada kenyataannya kita pun secara tidak sadar mengikutinya.

Melalui produksi bahasa yang dilakukan media ini, sepertinya telah terjadi apa yang disebut sebagai hegemoni oleh Gramsci. Dengan pesatnya perkembangan tekhnologi informasi saat ini, jelas hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi opini dan pandangan terhadap realitas. Apalagi jika media tersebut di dalamnya terselip sebuah kepentingan yang bukan menjadi kepentingan asli dari keberadaan media itu sendiri sebagai penyampai informasi. Hal yang menjadi penyebab utama dalam melencengnya posisi media ini, menurut Piliang (2010: 69) adalah kuatnya pengaruh kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik  dalam media tersebut, sehingga ia tidak dapat bersikap netral dan informatif dalam menyajikan beritanya.

Sepertinya, produksi bahasa yang dilakukan media ini tak lain adalah apa yang dikatakan oleh Lyotard (2009) sebagai metode permainan bahasa. Dimana melalui permainan bahasa ini muncul sebuah mode legitimasi melalui otonomi kemauan. Selain itu menurutnya juga bahwa dalam permainan bahasa ini peraturan mereka tidak membawa legitimasi sendiri oleh mereka sendiri, namun sebagai objek kontrak diantara para pemainnya; bila tidak ada peraturan maka tidak ada pula permainan; setiap ucapan harus dipikirkan sebagai sebuah langkah dalam suatu permainan (lebih lengkapnya lihat Lyotard, 2009: 54-58 dan 106-118).

Analisis diatas jelas memberikan gambaran bahwa sejatinya media, yang dalam hal ini sebagai pusat produsen bahasa dalam kehidupan manusia yang serba canggih ini, merupakan pemeran utama dalam setiap bahasa baru yang lahir dalam kehidupan manusia. Sebab tanpa seperti itu, keeksisan mereka pun sebagai seorang pemain inti akan menjadi sebuah pertanyaan besar dan juga tidak memiliki nilai tawar yang berarti dalam kehidupan manusia.

Sejalan dengan analisis sebelumnya, jika ditarik kedalam persoalan kebudayaan, yang tentunya setiap kondisi realitas didlamnya terdapat sisi budaya manusianya termasuk budaya pikirnya, akan menjadi sebuah habitus sebgaimana dikatakan oleh Bourdieu dalam Richard Jenkins (1992: 237-238) bahwa terdapat habitus linguistik yang meliputi kecenderungan budaya untuk mengatakan hal-hal tertentu, suatu kompetensi linguistik yang spesifik, dan kapasitas sosial untuk menggunakan kompetensi itu secara tepat. Selain itu, terdapat pula didalamnya pasar linguistik yang berbentuk sanksi dan sensor, dan mendefenisikan apa yang tidak boleh dikatakan dan apa yang boleh dikatakan.

Jadi, sangat jelas bahwa sebagai pusat produksi bahasa tunggal di era pesatnya perkembangan tekhnologi informasi ini, media snagatlah berpengaruh terhadap pembentukan opini dan pikiran manusia yang dengan sendirinya membentuk sebuah realitas baru yang belum pernah ada melalui penggunaan bahasanya tersebut.

Untuk itu sebagai sebuah saran (bukan solusi), mestinya dalam hal ini media mempelajari makna hakikat bahasa yang mesti dipergunakannya agar terdapat saling kesinambungan antara ketiga hal yang sangat dipengaruhinya atau paling tidak menemukan sebuah formulasi baru dalam penggunaan bahasa yang digunakannya, agar cocok dan pas serta bisa diterima dan dicerna dengan baik dan positif (atau mungkin ditiru) oleh manusia sebagai objek dari penggunaan bahasanya. Sehingga pada tataran selanjutnya, bahasa tersebut bisa menjadi sebuah habitus dalam perkembangan kehidupan dan pemikiran manusia.
 
Daftar Pustaka

Ash-Shadr, Muhammad Baqir, 1999, Falsafatuna (terjemahan), Mizan, Bandung.
Chomsky, Noam, 2002, On Nature and Language, Pdf Document.
De Vito, Joseph A, 1997, Kominikasi Antarmanusia, Professional Books, Jakarta.
Jenkins, Richard, 2010, Pierre Bourdieu (terjemahan), Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Kaelan, 2002, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta.
______,  2009, Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeneutika, Paradigma, Yogyakarta.
Lyotard, J.F., 2009, Kondisi Post-Modern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan, Selasar Publishing, Surabaya.
Mintaredja, Abbas Hamami, 2003, Teori-Teori Epistemologi Common Sense, Paradigma, Yogyakarta.
Piliang, Yasraf Amir, 2010, Post-Realitas:Realitas Kebudayaan Dalam Era Post-Metafisika, Jalasutra, Yogyakarta.
Russell, Bertrand, 1921, The Analysis of Mind, Pdf Document.
Sobur, Alex, 2006, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. 


Oleh : Jose D. C Vardial
Mahasiswa Pascasarjana UNESA