Membangun Kesadaran Berbangsa

             
Yoseph S. A. Jemparut
                                           
 
Kejadian yang menimpa Negara Indonesia akhir-akhir ini memang sangat memprihatinkan. Berbagai isu perpecahan dan perang saudara diprediksi akan melanda bangsa Indonesia seiring dengan munculnya berbagai macam pemberitaan dari berbagai media sosial. Entah itu berita sungguhan atau hanya prediksi dangkal (hoax) untuk menebarkan ketakutan dan ketidakpercayaan pada kekuatan pemerintah.

Mata dunia internasioanal tertuju ke Indonesia, semuanya menahan napas menantikan  kejadian yang menggegerkan seantero Dunia ini. Ruang –ruang diskusi penuh dengan para aktivis yang prihatin dengan situasi terkini bangsanya, asap rokok mengepul tiada henti mewarnai diskusi –diskusi kaum nasioanalis dan agamais baik yang moderat, maupun yang tidak jelas alur dan kibaltnya. Semuanya punya pertanyaan yang sama, “bagaimana nasib bangsa kita esok?”.

Elemen-elemen masyarakat mulai saling beradu. Aksi saling tuding tidak terhindarkan. Wacana gerakan bawah tanah kelompok garis keras yang akan mengubah konstitusi tak terhindarkan, jika tidak ada yang berhati dingin,  sudah bisa pasti bangsa kita akan terjebak perang saudara. Patut kita syukuri bahwa bangsa ini masih waras untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Ketulusan nurani untuk jujur mengatakan cinta pada kesatuan terbukti  ketika akhir dari semua ini adalah ucapan syukur yang dikumandangkan dari balik tembok-tembok Gereja, Masjid, Pura, Klenteng dan wihara. Semua orang bersyukur bahwa Sang Empunya Kehidupan Tuhan Yang Maha Esa masih memberi  terang kebijaksanaan dalam pikiran dan hati seluruh bangsa ini.

BELAJAR DARI SEJARAH
Devide et Impera adalah politik VOC untuk memecah belah kekuatan lawan. Politik seperti ini bertujuan untuk mengubah fokus lawan dalam menghadapi musuh bersama yang jumlahnya jauh lebih kecil. Dalam hal ini VOC menyadari secara quantitas tidak mungkin untuk menaklukan wilayah seluas nusantara, menerapkan hukum dan aturan sesuai yang diinginakan.

Maka yang dilakukan adalah mengadu domba para pemimpin politik, adat, maupun agama, untuk saling menyerang satu dengan yang lain. Hasilnya jelas, kerajaan besar seperti Mataram Islam terpecah menjadi tiga, perang saudara antara kerajaan Goa dan Tallo, Pecahnya Perang Padri di Sumatra barat , antara tokoh adat dan tokoh agama, dan banyak perang saudara lainnya yang semuanya itu hampir disebabkan oleh politik adu domba Belanda.

Ada dua hal yang menyebabkan strategi  VOC  ini menjadi senjata  ampuh. Pertama, tingkat pemehaman yang rendah dari masyarakat akan pentingnya persatuan. Kesadaran berbangsa masih ditutupi oleh semangat perlawanan lokal. Persatuan muncul karena adanya kesamaan suku, agama, dan ras. Perlu diingat, kekuatan agama  khususnya agama Islam waktu itu sebenarnya sudah membangun  persatuan diantara umat.

Hal ini dapat kita lihat dari pemeberontakan yang dilatarbelakangi dan dimotori oleh semangat keagamaan seperti perang Diponegoro di Jawa dan Perang di Aceh yang sempat membuat Belanda kewalahan. Disinilah Islam menjadi promotor awal dari pencarian identitas atau jati diri suatu bangsa yang kelak akan terbentuk. Ketika latar belakang adat istiadat, dan suku mengalami keterbatasan untuk membenarkan semangat solidaritas, maka agama yang melampaui keduanya menjadi solusi untuk membangun persatuan.

Peranan Ulama Islam dalam menentang kekuasaan Belanda sangat besar, sekalipun Kerajaan Aceh sudah ditaklukan namun perlawanan kaum ulama terus berkobar dan sulit untuk ditumpas. Penelitian Christiaan Snouck Hurgronje berhasil memaparkan fakta serupa  bahwa kekuatan perlawanan Islam tidak bisa dipadamkan dengan senjata, melainkan dengan sikap kompromi terhadap kebebasan untuk mengekspresikan keyainannya , termasuk dengan menerapkan hukum Islam di Aceh. Dengan demikian perjuangan melalui perang senjata para ulama perlahan mulai bisa diredam.

Kedua, memanfaatkan nafsu berkuasa para petinggi keraton dan pengusa lokal. Raja atau Sultan adalah penguasa sah yang diakui eksistensinya oleh masyarakat maupun oleh para ulama. Konflik kepentingan antara pangeran, maupun putra mahkota dengan rajanya sangat kental mewarnai kehidupan penguasa waktu itu, Belanda mulai ikut campur dengan  berpihak pada beberapa petinggi yang mereka anggap bisa berkompromi dengan kekuasaannya, lalu menjadikan musuh bersama setiap orang yang berani menentang kekuasaan itu. Inilah yang menjadi latar belakang Perang Diponegoro, maupun perang antara Goa dan Tallo.

REFLEKSI KECIL
Belajar dari sejarah, kita perlu mengakui bahwa persatuan Indonesia yang kita nikamti hari ini adalah hasil dari peroses dialektika sejarah yang penjang dan berdarah-darah. Tidak cukup hanya menaburkan bunga di pusara para pahlawan sebagai wujud hormat, dan tidak pernah cukup sebuah argument yang mengatakan “ kita harus menghargai jasa para pahlawan kita dengan mempertahankan bangsa ini”. Mereka yang sudah berkalang tanah tidak akan bangkit untuk membela kita atau melawan kita, terlepas dari kita mau atau tidak berkubang si sekitar nostalgia dangkal perjuangan masa lalu yang jarang ditemukan relevansinya dengan realitas kekinian.

Kehadiran politik sebagai wajah kekuasaan meski diwaspadai. Kedekatan antara agama dan politik kekuasaan yang terlalu berlebihan dalam sejarah selalu menunjukan wajah Allah yang menakutkan. Mulai dari perang dan pembunuhan merebut tanah terjanji Israel, peristiwa matinya Allah, pembakaran orang Kristen di kota Roma, pembantaian yang dilakukan dewan inkusisi di Eropa.

Perang panjang antara Katolik dan Protestan, Peristiwa Perang Salib, penaklukan wilayah jajahan demi penyebaran injil, sampai pembantaian yang mengerikan dan belum berhenti sampai saat ini di Timur Tengah, adalah akibat  orientasi berlebihan Agama pada kekuasaan.

Negara harus purna dan total dalam mendahulukan kepentingan umum. Meskipun hal ini cukup problematis. Apakah kepentingan umum adalah kehendak mayoritas yang obyektivitasnya dipertanyakan, atau tetap teguh berpegang pada kekuatan Undang-Undang Dasar sebagai sumber hukum yang berpihak pada kebenaran ideologis bangsa. Dalam kondisi ini idealnya negara berpegang teguh pada undang-undang, bukan pada hysteria masa. Jika negara mengambil ketegasan yang konstitusional maka negera perlu legitimasi kekuasaan baik yang kostitusional maupun legitimasi dari rakyat yang juga konstitusional cara pandangnya.

Peristiwa akhir-akhir ini menunjukan kepada bangsa ini, bahwa peranan ulama bagi persatuan bangsa Indonesia masih sangat besar. Kesadaran berbangsa dan bernegara masih sebagian besar ditopang oleh semangat keagamaan. Agama bagi bangsa Indonesia bukan lagi sebuah ranah privat yang hanya mengurus hubungan personal dengan Yang Transenden, melainkan juga sebuah perekat solidaritas dalam kehidupan sosial masyarakat yang berbangsa dan bernegara.

Perang yang digerakan para ulama ketika melawan Belanda adalah bentuk ketidakpercayaan ulama 
kepada penguasa yang dinilai tidak tegas dalam menegakan keadilan dan hukum menghadapi para penjajah. Tentunya kita berharap bahwa keadilan dan kebenaran yang dimaksut harus melihat konteks peradabannya dan tidak menerjemahakan kebenaran yang sifatnya sangat subyektif di tengah bangsa yang plural.

Solidaritas kebangsaan Indonesia yang pancasilais adalah solidaritas yang sifatnya dialektis relistik. Artinya kesadaran untuk membangun kebersamaan sebagai suatu bangsa harus didasarkan pada penalaran realitas saat ini. Peroses dialogis dalam peradaban saat ini  diperlukan.Pancasila sebagai ideologi  bukan berarti meniadakan paham agamais yang puritanis dan hanya mengakui yang moderat dan nasionalis. Ideologi diterjemahkan kembali pada bentuk asalnya sebagai sebuah jati diri bangsa bukan hanya sebagai sebuah simbol dan sumber hukum yang sifatnya mengikat dan kaku.

Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria

Oleh: Yoseph Stenly Agung Jemparut
Koordinator Wilayah III PMKRI
Editor: Andi Andur 

*Catatan : Sudah Dimuat di Majalah Jubileum Keuskupan Surabaya dengan beberapa perubahan

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Membangun Kesadaran Berbangsa
Membangun Kesadaran Berbangsa
https://4.bp.blogspot.com/-m9kKHEDp2q8/WTxXlK10CtI/AAAAAAAAAg8/l9RLAiDay0ED0wpsCgGFc22eQjqm1N5KgCLcB/s320/IMG_3205%2B%25282%2529.JPG
https://4.bp.blogspot.com/-m9kKHEDp2q8/WTxXlK10CtI/AAAAAAAAAg8/l9RLAiDay0ED0wpsCgGFc22eQjqm1N5KgCLcB/s72-c/IMG_3205%2B%25282%2529.JPG
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/06/membangun-kesadaran-berbangsa.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/06/membangun-kesadaran-berbangsa.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy