Flores, Gereja Termarjinal
Cari Berita

Flores, Gereja Termarjinal

8 June 2017


Yoseph S. A. Jemparut
Ketika Gereja dipanggil untuk menjaga bangsa Indonesia, Gereja katolik Flores harus tertatih-tatih mengusung persatuan dalam situasi kemiskinan yang tak  terselesaikan. Situasi serba kekurangan lantas tidak menyeret Gereja menjadi radikal dan extrim untuk bertindak diluar nalar atas nama agama.

Dari sisi dogma Gereja Katolik Flores mestinya menjadi barometer toleransi, banyak wilayah lain terguncang karena isu SARA, Gereja Flores tetap eksis memilih menjadi manusia Tuhan yang waras dan tuntas bicara soal kebangsaan  namun kenyataan lain menunjukan tingginya tingkat kemiskinan menguji integritas Gereja dalam menciptakan sebuah konsep metode  teologis  yang membebaskan dan memerdekakan. Gereja mampu mempersatukan, namun Gereja perlu bekerja keras untuk menumbuhkan solidaritas antar golongan didalam Gereja sendiri.

Adanya kelas sosial didalam Gereja sudah membudaya sekalipun itu bertentangan dengan prinsip kristiani. Kondisi ketika pendapat perkapita tergolong rendah, Gereja melalui kebijakan pastoralnya, maupun dalam wewenangnya sebagai guru yang hadir dalam institusi pendidikan menjadi sangat birokratis dan beban bagi umat disisi yang lain.

Dari sisi kebijakan pastoral konsep iuran mandiri yang awalnya wujud sukarela umat sebagai bagian dari rasa solidaritas iman, sudah bergeser menjadi komoditas yang menjual belikan Rahmat Allah melalui tujuh sakramen. Gereja tidak hadir sebagai persekutuan umat yang percaya kepada Kristus melainkan persengkokolan yang bergantung pada uang.

Megahnya bangunan Gereja, dengan lahan yang luas sama sekali tidak menunjukan wajah Allah yang miskin dan menderita. Gereja belum bisa menunjukkan suka dan dukanya sebagai  yang menderita dan papa sebagaimana Kristus. 

Sementara untuk praktek-praktek monopoli melalui dominasi pasar oleh segelintir elit pedagang, human trafficiking Gereja lebih banyak memilih untuk bungkam.

Dari sisi pendidikan, tidak bisa dipungkiri peranan Gereja dalam memanusiakan manusia Flores sangat besar, sejak salib tertancap ditanah Flobamora, komitmen Gereja sebagai pendidik berhasil membentuk manusia yang sadar akan perbedaan, kritis, dialektis, manusia-manusia yang humanis, toleran, dan terbuka pada keberagaman.

Disanalah jiwa-jiwa nasonalisme, dan propancasila tuntas dan purna dari segala dikotomi, radikalisme akibat kedangkalan berpikir. Meskipun demikian terbatasnya akses ke lembaga pendidikan Gereja, lebih didorong oleh biaya pendidikan yang mahal.
Gereja sulit dari persoalan yang pragsis dan hal ini tidak bisa disalahkan kehadiran pemerintah dalam hal ini. Lalu secara konkrit menekan biaya pendidikan melalui program-program yang pro terhadap masyarakat miskin. Pihak-pihak yang terpanggil untuk peduli adalah para pengusaha katolik  atau mereka semua yang berlebihan secara ekonomi  dengan cara mengorganisir diri menyatu  menyentuh inti pokok dari kemajuan peradaban Flores  yaitu pendidikan.

Relegio Omnium Scientiarum Anima
Pro ecclesia et Patria

Oleh: Yoseph Stenly Agung Jemparut 
Kordinator Wilayah 3 PMKRI