Festival Musik dan Orang Muda yang Bercinta
Cari Berita

Festival Musik dan Orang Muda yang Bercinta

3 June 2017


Komunitas Emanuel dalam pergelaran Festival Musik bertajuk Nightfever: Youth Music Festival, Sabtu (03/6)
“Apa itu cinta?”
“Cinta itu gatal di hati yang sulit di garuk” demikian kata para Frater yang sedang belajar filsafat di Seminari. Semantara itu bagi orang muda zaman sekarang jawabannya pasti berbeda, “Cinta itu kata sifat dihari biasa dan kata kerja dimalam minggu”.

Demikian gurauan Romo Dion dalam renungannya pada acara yang bertajuk, Nightfever: Youth Music Festival yang dilaksanakan oleh komunitas Emanuel, UKM Kerohanian dan UKM Kesenian Universitas Widya Mandala Surabaya, Sabtu (03/06).

Festival musik yang bertemakan, “Only Love Can Save” itu dihadiri oleh orang-orang muda berstatus mahasiswa. Mereka hadir memenuhi ruang auditorium lantai IV Kampus Widya Mandala Dinoyo. Meski bertepatan dengan malam minggu, wajah mereka tetap sumringah sambil sesekali mengambil gambar berlatar poster kegiatan beserta balon-balon merah putih.

Selain untuk memperkenalkan Komunitas Emanuel, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempertemukan orang-orang muda lintas kampus dan gereja di Kota Surabaya. Menurut Niko, salah satu panitia kegiatan, festival musik ini diadakan untuk orang-orang muda dan dimentori oleh-oleh orang tua masing-masing.

“Momen seperti ini, kami manfaatkan untuk mempertemukan orang muda terutama mahasiswa katolik yang diharapkan bisa mempererat hubungan dengan berbagai kegiatan positif. Kami sebagai orang tua pun mendukung mereka sepenuhnya dengan mendampingi mereka hingga acara ini bisa berjalan” jelas Niko.

Festival ini juga menampilkan sosok Rendy, seorang mahasiswa Fakultas Psikologi UKWMS yang terlahir dengan keterbatasan fisik. Suaranya yang merdu berpaduan dengan vocal group peserta festival tampak begitu sempurna menggugah hati bersamaan dengan kisah hidupnya yang tersaji dalam momen kesaksian atas kasih Tuhan selama hidupnya.

“Saya terlahir sebagai orang yang spesial dalam keluarga saya. Terlahir dengan kondisi seperti ini menyempurnakan status saya sebagai anak tunggal dalam keluarga. Kasih sayang orang tua saya membuat saya terlena dan cenderung mengabaikan kewajiban saya kepada Tuhan. Namun, pada suatu saat Tuhan menyadarkan saya dengan sesuatu yang sangat membuat saya terpukul” ucap Rendy sambil melontarkan beberapa guyonan untuk mencairkan suasana ruangan.

“Selama beberapa bulan mama jatuh sakit dan harus menghadap Tuhan yang ternyata memiliki cinta lebih besar kepadanya.  Saya menjadi begitu kehilangan semangat hidup. Sebagai manusia normal, kehilangan sosok ibu dalam masa pertumbuhan membuat saya tak berdaya. Tetapi, dalam sebuah kesempatan saya memahami pesan yang disampaikan Tuhan melalui apa yang saya alami. Sejak saat itu saya sudah tidak lagi mengabaikan sedikit pun waktu untuk berdoa. Saya percaya Tuhan memiliki cinta yang besar kepada kita anak-anaknya” lanjut mahasiswa semester VI itu.

Musik dinilai menjadi pilihan yang tepat untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat. Memahami hakikat cinta melalui musik dan teatrikal sederhana yang sarat peringatan akan gejala dan realitas sosial orang muda zaman sekarang tersaji begitu sempurna seiring dengan penjelasan Romo Dion dalam renungan di penghujung acara.

“Cinta yang sesungguhnya itu tidak mengharapkan imbalan. Aku mencintai kamu tidak mewajibkan kamu untuk mencintai aku. Jelas bahwa Paus Fransiskus menekankan akan pentingnya cinta akan segala persoalan yang dihadapi manusia. Bagaimana pun cinta bukan hanya tentang rasa dan perasaan tetapi bagaimana cinta itu bisa dikonkretkan untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama baik dalam relasi maupun dalam hubungan kelurga” jelas Romo Dion.

Orang muda selalu menjadi perhatian besar bagi setiap orang, demikian pula yang dilakukan oleh Komunitas Emanuel dalam pergelaran festival musik ini. Seperti kitab suci menulis, “Tiada cinta yang lebih besar selain cinta seorang sahabat yang merelakan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.

So, don’t only fall in love but try to stay in love


Oleh : Andi Andur