Apakah Tuhan Akan Kembali Menggugat?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Apakah Tuhan Akan Kembali Menggugat?

9 June 2017

Sultan Sihombing
Tahun bergulir menjadi  tahun selanjutnya dan selalu memiliki perkembangan serta kemundurannya sendiri. Dimulai dari awal gereja-gereja divusialisasikan dan diperkenalkan melalui persekutuan doa. Persekutuan doa yang kemudian bermetamorfosis menjadi persekutuan doa yang dilembagakan di Gereja dan di gedung-gedung bertembok.

Perkembangan gereja yang sangat cepat  menunjukkan pengaruh positif terkait jumlah jemaat gereja. Mulai dari gereja mula-mula hingga saat ini terlihat jelas perbedaan kuantitas jemaat gereja. Yang diawali dari 12 Murid Yesus menjadi beberapa puluh orang hingga menjadi ribuan orang. Ribuan orang menjadi jutaan orang. Begitu seterusnya, sehingga kemudian melahirkan berbagai sekte gereja dan golongan-golongan dalam gereja.

Dimulai dari pemisahan gereja sebagai bentuk revolusi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther dalam pemberontakan terhadap kekuasaan absolutisme gereja. Martin Luther (lahir di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 10 November 1483–meninggal di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 18 Februari 1546 pada umur 62 tahun) adalah seorang pastur Jerman dan ahli teologi Kristen dan pendiri Gereja Lutheran, gereja Protestan, pecahan dari Katolik Roma.

Hingga kini semakin banyak lagi perpecahan-perpecahan dan golongan-golongan gereja terbaru. Seperti reformasi gereja yang menjadi cikal bakal calvinisme yang dipelopori oleh Yohannes calvin. Yohanes Calvin (bahasa Inggris: John Calvin; bahasa Perancis: Jean Calvin, nama lahir: Jehan Cauvin (Jean Chauvin); lahir di Noyon, Picardie, Kerajaan Perancis, 10 Juli 1509 – meninggal di Jenewa, Swiss, 27 Mei 1564 pada umur 54 tahun) adalah teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme (Kalvinisme).

Beberapa tokoh pencetus aliran kekristenan dan gerejawi menjadi titik balik perkembangan aliran gereja yang semakin cepat dan pesat.  Kecepatan perkembangan kekristenan dan gereja ternyata tidak menjawab kualitas kekristenan. Semakin besar populasi Kristen dan gereja  malah menunjukkan  degradasi kualitas. Sehingga kekristenan dan gereja sedang mencapai titik nadir, bahkan bisa menjadi sepi peminat.

Pemikiran-pemikiran kritis dan falsafah kekristenan dan gereja sudah tidak lagi dijadikan refleksi berpikir dan berbuat oleh jemaat jemaat gereja. Nilai-nilai falsafah kekristenan sudah semakin membeku dan mengalami stagnasi. Sasaran dan  tujuan dari kekristenan yang adalah sebagai pedoman hidup yang benar dan diteruskan oleh gereja sebagai lembaga yang menjadi fasilitatornya dalam menuntun domba-domba tersesat menjadi domba-domba revolusioner sudah tidak menjawab tantangan zaman.

Salah satu permasalahan yang tampak kepermukaan tentang kekristenan dan gereja adalah kemapanan gereja. Kemewahan fasilitas gereja yang menjadikan  jemaat tidak mau keluar dari zona nyamannya, menjadikan jemaat sebagai  domba kandang. Beberapa Gereja di Surabaya sudah mengikuti modernitas dan kemapanan. Kemapanan kuantitas dan bukan kemapanan kualitas gereja.

Fasilitas mewah dan serba mencukupi membuat jemaat tidak mau melihat kebawah dan fasilitas  memanjakan jemaat yang menciptakan Kristen Kristen yang terbelenggu dalam nyamannya tembok gereja. Kepekaan sosial yang semakin terkungkung rapat dalam kursi kursi dan mimbar gereja. Pesta-pesta gereja yang dilakukan untuk pemasukan gereja dan peningkatan ekonomi Gereja.

Pada zaman ini, kekristenan dan gereja berada mulai lupa dengan jati dirinya yaitu menjadi garam dan terang dunia (bukan menjadi garam dan terang bagi orang Kristen saja). Kekristenan dengan konsep kasih hanya diterapkan dalam lingkungan gereja. Tembok tembok gereja yang semakin besar, tinggi dan megah  yang semakin menunjukkan pemisahan gereja dari kelompok menengah kebawah. 

Yesus dalam ajarannya mengajarkan konsep rendah hati, dan kasih, akan tetapi nilai-nilai kekristenan saat ini tidak menunjukkan kualitas tersebut. Gereja sibuk berbenah diri sehingga melupakan lingkungan sosial dan masyarakat yang termarjinalkan di luar keKristenan. 

Yesus sendiri mengajarkan kesederhanaan dalam bertindak dan berbuat. (Markus 6:7-12 berkata Ia memanggil kedua belas murid  itu dan mengutus mereka berdua-dua.  Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat  dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan  boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.  

Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.  Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu  sebagai peringatan bagi mereka."  Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat.

Permasalahan kedua yang cukup pelik adalah bagaimana gereja menjadi lahan bisnis bagi  pendeta, majelis, dan pengurus gereja. Saat ini gereja-gereja  di Surabaya banyak melupakan masyarakat kurang mampu di Surabaya. Namun sibuk dengan tour-tour kejuaraan gereja, yang hanya berdampak pada perekonomian gereja dan prestasi gereja saja. 

Konsep antikemapanan Yesus sudah tidak menjadi panutan lagi bagi kehidupan Kristen di zaman modern saat ini. Kemapanan di Gereja terjadi akibat terjadinya kapitalisasi gereja dan jemaat dan mengatakan bahwa Tuhan Yesus lebih mementingkan rohani dari pada duniawi. Namun yang terlupakan adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia di dunia bukan di surga. 

Kekristenan yang sudah tidak sekritis pada awalnya dalam nilai nilai filosofis dan Lembaga Gereja yang sudah dijadikan lahan bisnis menjadi tidak terlihat karena logika jemaat sudah dikalahkan dengan superioritas spiritual. Gereja dan Jemaat lupa bahwa yesus pernah menggugat masyarakat karena menjadikan Gereja sebagai tempat berbisnis/ berdagang (Yohannes 2 : 13-16). Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam bait suci di dapati-Nya pedagang pedagang Lembu, kambing domba dan merpati dan penukar penukar uang duduk disitu. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari bait suci dengan semua kambing dombadan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke Tanah dan meja meja mereka dibalikkanNya. Kepada pedagang pedagan merpati Dia berkata : “ambil semua ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”.

Kemunduran kekristenan dan gereja saat ini mengingatkan kembali feodalisme yang dilakukan oleh Gereja. Tuhan sudah pernah menggugat manusia. Apakah Dia akan menggugat manusia untuk kedua kalinya karena bermain-main dengan aliran dan jalan hidup yang diajarkan-Nya?.

Tinggilah Iman kita
Tinggilah Ilmu kita
Tinggilah Pengabdian kita

Ut Omnes Unum Sint..

Oleh : Sultan Sihombing