Agar Bung Karno Tak Berurai Air Mata di Hari Kelahirannya

Bung Karno
Bung Karno berulang kali menolak dirinya disebut sebagai pencipta Pancasila. Dengan segala keredahan hati ia mengatakan, “ Saya sekedar penggali pancasila daripada bumi tanah air Indonesia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia”. 
Demikian Bung Karno menerangkan ketika ditanyakan. Sebuah ungkapan yang tidak ambisius untuk dikenang sebagai pencetus. Namun, benarkah Indonesia kini masih seperti yang dirumuskna Bung Karno pada beberapa tahun silam? Indonesia benarkah masih seperti yang dibicarakan di dalam teks – teks tua masa itu?
Pramodia Ananta Toer pernah menerangkan bahwa orang yang tidak tahu titik asalnya atau sejarahnya, juga tidak akan tahu tempat yang akan ditujuinya. Sebuah pemaknaan besar yang mampu menggugah jiwa bangsa sepanjang zaman untuk mengerti sejarahnya sendiri sebagai pemilik bangsa dan negara, yang meski terseok–seok dalam ranah implementasinya.
Meski peluru akan menembus tubuh dalam “demokrasi kekuasaan”, katakan kalau kita tidak akan lari untuk membelenggu macam–macam kekuasaan yang mengangkan bukan untuk kepentingan jelata. Sebab, memaknai Pancasila bukan hanya merumuskan ulang “temuan kuno” itu namun juga membuka tabir sejarah serta menjadikannya sebagai inspirasi.
Ketuhanan Yang Maha Esa
            Meneropong realitas, sedikit banyak kita akan menjumpai Tuhan yang dijual demi penghisapan besar–besaran terhadap masyarakat primordial. Langgenglah ketamakan dalam panggung politik sehingga Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama dilecehkan dengan keras dalam ranah praksis kehidupan bernegara. Syukurlah jika kemudian Maha Pengasih langsung mengecam dengan keras dalam bentuk suara serta bencana pada kaum berada, hingga bumi runtuh bergemuruh menimpa tengkuk borjuis satu per satu.
            Namun, apa boleh buat jika kenyataan kadang mengeledek dengan girang. Riang gembira menyatakan sikap bahwa dunia tetaplah dunia bukan surga, terlepas dari campur tangan Tuhan. Maka, apakah masih pantas jika ranah keimanan meleburkan dirinya di dalam panggung Negara? Ketuhanan Yang Maha Esa dalam setiap geraknya di tanah air telah dilacurkan oleh kepentingan – kepentingan gologan tertentu.
            Syaiful Arif di dalam buku Falsafah Kebudayaan Pancasila pernah mendaraskan satu hal yang penting untuk menjadi refleksi rasional disamping mengkonsumsi kenikmatan, bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa sesungguhnya adalah Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Sebab, pada hakikatnya budaya adalah manusia dan manusia adalah budaya. Oleh karena itu, budaya yang penting untuk kita wariskan adalah budaya yang selalu dalam proses pemanusiaan manusia. Atau dalam rumusan kalimat filosofis dari Rm. Mangun Wijaya :
“ Pemujaan Kepada Tuhan yang Maha Besar diungkapkan melalui pengangkatan manusia hina ke dalam taraf kehidupan yang lebih manusiawi yang layak, sebagaimana yang dirancang Tuhan pada awal penciptaan, tetapi dirusak oleh kelahiran hukum rimba buatan manusia.”
            Tetapi yang disaksikan selalu berbeda dengan apa yang menjadi harapan bangsa Indonesia dengan Pacasilanya. Demokrasi yang tamak selalu melahirkan pemeras–pemeras baru. "Kita, generasi baru, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kita akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh sebagai koruptor-koruptor tua. Kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia". Demikian Gie bernarasi di dalam tulisannya.
Mereka sekiranya sudah melumpuri Ketuhanan Yang Maha Esa dengan mengabdikan hidup untuk menindas. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa mesti di dasarkan pada pandangan–pandagan yang rasional dan empiris. Sehingga “ Jadilah ini itu dalam sabda yang difirmankan-Nya” mesti kita pertimbangkan secara komprehensif. Jika tidak, masyarakat Indonesia yang masih sangat kental sekali dengan logika mistik  itu akan mudah sekali diombang–ambingkan oleh kepentingan–kepentingan politik. Kita memang sudah bebas dalam penidasan fisik namun kungkungan iman membabi buta masih membelenggu kita hingga lumpuhlah pandangan–pandangan kristis untuk memunculkan revolusi.
Adalah sebuah pandagan yang salah jika kekritisan terhadap agama kerap dipandang oleh publik sebagai pembangkang atau tak bertuhan, melainkan mereka menyadari bahwa agama yang bersistem tak lain fungsinya juga membelenggu. Publik adalah kekuatan namun sejarah menunjukan publik yang terdoktrin akan mudah untuk dilemahkan!.
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
            Di dalam bangsa Indonesia, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab merupakan impian tanpa implementasi. Yang menyedihkan adalah yang mengotori itu adalah pemegang kekuasaan. Sebenarnya Indonesia merupakan Negara hukum, tetapi penerapannya merupakan Negara kekuasaan. Publik sudah semestinya segera bertindak dengan keras, menagih hak yang seharusnya diterima, sebagai pemegang kedaulatan. Emerson Yuntho dalam opini Kunjungan Kerja DPR, Kompas Jumat (27/5/16), menyampaikan Badan Pemeriksa Keuangan pada awal Mei 2016 melansir temuan adanya potensi kerugian negara sebesar Rp 945 miliar dalam kunjungan kerja perorangan yang dilakukan anggota DPR selama 2015. Mengenaskan!
            Hanya gerakan mahasiwa yang mampu meruntuhan itu. Namun, penguasa sangat cerdik bermain–main dengan sistem. Mahasiswa adalah generasi yang dilumpuhkan oleh penguasa sebab sepak terjangnya yang tidak henti–hentinya menjatuhkan tokoh–tokoh tua yang mengacau. Paling tidak pendidikan tidak boleh memisahkan diri dari masalah sosial. Namun kedudukan dan otoritas sistem justru semakin membelenggu secara struktur dan kultur.
            Kekacauan dalam bernegara dan pendidikan membawa pendidikan dalam masyarakat Indonesia tentang siapa yang mendidik dan yang akan dididik. Pemangku jabatan yang sebenarnya adalah anutan pada kenyataannya mesti dididik lagi, dan kaum terpelajar yang sedang dididik mestikah ditugaskan untuk mendidik pemerintah? Setidaknya tidak melacurkan gerakan dan tugasnya untuk meruntuhkan kekuasaan yang keberpihakannya tidak terhadap kaum tertindas!
           Fungsi dari pendidikan tidak lain untuk mewariskan budaya yang memang bermanfaat untuk pemanusiaan manusia. Tidak jarang juga kita selalu menemukan budaya yang justru lebih banyak ‘mencekik’ leher masyarakat sendiri. Budaya seperti itu sudah mesti kita tanggalkan. Sejarah berisi budaya, jika budaya itu melumuri laju pencerahan peradaban masyarakat sudah seharusnya kita lepaskan dari keikatan diri, biarlah kisah ini dicatat dan waktu akan mengenang sebagai sebuah kesadaran tertinggi. Kita sudah seharusnya mewariskan budaya yang membangun bangsa. Dan pendidikan adalah senjata utama yang mempelopori itu.
Ironisnya, keadaan pendidikan di tanah air tidak hanya sekedar menunjukan ketimpangannya yang amat mengenaskan, melainkan juga menunjukan penghisapan dan ketamakan yang kerjanya meludah lembar – lembar buku pelajaran. Apa yang terjadi jika pendidikan juga merupakan juga hasil produk politik? Maka, mencerdaskan anak bangsa hanyalah impian menuduri bulan di atas kasur tua. Sia–sia, lenyap tak menjejak! Habis tak berbekas!
Keadaan semakin memburuk, politisi semakin dikutuk. Bangsa ini ramai membenci politik. Dengan semangatnya mencaci, memaki, lalu berdoa tanpa berbuat. Apa jadinya, jika politik adalah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Legislatif. Sebab, kelenturan dan kelincahan dalam menipu mesti dimiliki politisi dalam berpolitik.
Persatuan Indonesia
            Seperti apakah gambaran Persatuan Indonesia di dalam negara yang syarat akan konflik kepentingan, agama, golongan, serta ras? Seperti apakah? Kasus serupa kekerasan terhadap aktivis masih terjadi di tanah air. Negara ini sudah terlalu lancang menunjukan kesemronoan mereka dalam upaya mereka mengeakan hukum. Polisi yang dididik untuk menjadi besi. Harus ditindak serius oleh publik.
Pasal 28 I ayat (1) berbunyi : Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Kasus seperti tindakan represif terhadapa para aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Ende pada Senin, 9 Mei 2016 apakah itu tidak cukup untuk membuktkan bahwa itu adalah penindasan terhadap HAM dan pemerkosaan terhadap UUD 1945?
Hal serupa juga terjadi pada aktivis mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung yang menggelar demonstrasi menuntut bupati Sikka menyediakan dokter ahli kandungan di Rumah Sakit Daerah setempat yang kini tidak ada. Peristiwa ini cukup membuktikan bahwa reformasi hanya sekedar pencatutan nama!.
Betapa menyedihkan, jika penegak hukum belum cukup mengerti bahwa mereka dalam beberapa usahanya dengan tindakan represif seperti di atas tidak lain hanya bisa menghancurkan bangsa. Seperti itulah jadinya kalau aparat dijadikan sebagai peluru politik yang tidak didasarkan untuk kepentingan masyarakat.
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Persatuan Indonesia hanya akan dapat tercipta jika Indonesia dalam setiap usanya menentukan suatu kebijakan tidak di dasarkan pada kepentingan–kepentingan politik. Dan semua itu hanya dapat diwujudkan kalau – kalau kita semua memaknai Pancasila benar–benar sebagai “demokrasi permusyawaratan”.
Hal serupa terjadi pada pemahaman Soekarno dan Soeharto. Soekarno sendiri bahkan memahami musyawarah dalam konteks Demokrasi Terpimpin, dimana musyawarah itu dipimpin oleh tetua agung yang tak lain adalah dirinya sendiri. Jadi, demokrasi menurut Pancasila ala Soekarno bukan demokrasi permusyawaratan melainkan Demokrasi Terpimpin yang menyimpang dari prinsip kedaulatan rakyat.
            Hal serupa terjadi pada Soeharto yang mendefenisikan demokrasi Pancasila dalam tiga kekuatan besar negara: Soeharto, ABRI, Golkar. Di dalam tiga komando kekuatan tunggal ini, musyawarah tidak benar terjadi karena parlemen hanya menjadi stempel keputusan presiden. Dengan demikian, demokrasi Pancasila ala Soeharto pun tidak merujuk pada demokrasi permusyawaratan. Ia lebih merujuk pada monolitisasi tafsir Pancasila ala negara yang bertentangan dengan prinsip demokrasi, dan oleh karenanya bertentangan dengan Pancasila itu sendiri.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
            Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia untuk mencapai bentuk kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab tentunya menjadi impian saja, jika empat pilar kebangsaan sebelumnya tidak dimaknai secara utuh demi terciptanya keselarasan, kedamaian, serta keadilan, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila yang dimata Roeslan Abdulgani penting untuk dipahami sebagai kesatuan bulat antara realisme dan idealisme di dalam dunia politik tanah air justru dibumihanguskan secara kasar dan beringas.
            Meskipun di dalam lima pilar Pancasila sendiri masih mendapat kritikan tajam dari beberapa pemikir tanah air mengenai susunannya sebagai suatu dasar yang sistematis, serta kesatuannya yang ‘logis filosofis’. Tindakan kita mesti diarahkan pada kebenaran dan kehakikian mengenai guna dan manfaat bagi keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia kedepannya.
            Mari, sebagai bangsa Indonesia, kita renungkan Pancasila secara total. Menjadikan Pancasila sebagai alat ukur terhadap persoalan–persoalan yang terjadi hari ini di Indonesia. Apakah Pancasila telah menjadi inspirasi dari lahirnya kebijakan–kebijakan yang dibuat oleh negara? Sebaliknya sebagai warga negara, apakah kita sudah secara untuh mengamalkan Pancasila?
Di hari lahirnya Bung Karno ini, 6 Juni menjadi momentum refleksi bagi seluruh bangsa tentang sejauh mana Pancasila menjadi pedoman bagi hidup kita. Agar, Bung Karno tak berurai air mata menyaksikan Pancasila dipolitisasi setiap saat, di hari kelahirannya.
Salam!
Oleh : Efraim Reda

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Agar Bung Karno Tak Berurai Air Mata di Hari Kelahirannya
Agar Bung Karno Tak Berurai Air Mata di Hari Kelahirannya
https://2.bp.blogspot.com/-a11Ft9i-bnU/WTaAbIfo7aI/AAAAAAAAAck/PgpkD7g2SCMORSWvriRFB2Taoi2u8oiegCLcB/s320/Bung-Karno.-640x450.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-a11Ft9i-bnU/WTaAbIfo7aI/AAAAAAAAAck/PgpkD7g2SCMORSWvriRFB2Taoi2u8oiegCLcB/s72-c/Bung-Karno.-640x450.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/06/agar-bung-karno-tak-berurai-air-mata-di.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/06/agar-bung-karno-tak-berurai-air-mata-di.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy