Pak Ahok, Di Pintu LP Cipinang Kuingat Pesan Imanmu
Cari Berita

Pak Ahok, Di Pintu LP Cipinang Kuingat Pesan Imanmu

10 May 2017

Pak Ahok, tak henti-hentinya aku menulis tentang dirimu, tentang semangatmu. Menuliskanmu bukan karena sesama Pengikut Kristus, tapi karena semangat dan spiritualitas imanmu menginspirasi semua kalangan agama, semua tokoh agama termasuk saya, yang untuk berbuat seperti bapak, saya dan kami belum mampu lantaran ketakutan pada kebenaran itu sendiri.

Meski kita tak pernah berdiskusi dan bertatap muka langsung, namun spirit kebenaran dan keadilan yang bapak perjuangkan bagi saya sudah cukup untuk menuliskanmu adalah salah satu jalan untuk saya berdiskusi dan berkisah bersama bapak tentang keadilan dan kebenaran yang kian jauh dari orang benar.

Pak Ahok, meski kesedihan dan bahkan tangis menyelimuti perasaan saya dan juga mereka yang mencintai perjuangan bapak, namun saya akhirnya kuat dan tegar ketika memandang senyum dan lambaian salam kedamaian (salam dua jari) di pintu masuk LP Cipinang.

Dari senyum diiringi lambaian salam kedamaian, sayapun tersenyum bangga padamu bahwa SEORANG PEMENANG SEJATI TIDAK PERNAH MENGENAL KATA KALAH DAN DENDAM. SEORANG PEMENANG SEJATI SEPERTI BAPAK ADALAH SEORANG YANG TETAP MENEBAR KEDAMAIAN DITENGAH SULUT DENDAM DAN SENTIMEN YANG TERUS MEMBARA.

Dan di pintu LP Cipinang itu, kuingat kembali pesan bapak, pesan sang Pemenang sejati kepada sang Veronica yang selalu mengusap peluh perjuangan bapak bersama “pengikut setiamu” (anak-anak) : “ JANGAN TAKUT MATI. MATI SUDAH DITENTUKAN TUHAN. KEMATIANNYA SUDAH MEMILIKI MANFAAT BUAT MASYARAKAT LUAS”. Pesan bapak tidak hanya untuk Veronica sang pengusap peluh juga tidak hanya untuk pengikut setiamu, tetapi juga untuk saya bersama mereka yang jernih hatinya untuk kedamaian, keadilan dan kebenaran.

Di Pintu LP Cipinang itu, bapak tidak hanya seorang politikus yang baik tetapi seorang pelayan tangguh dan sejati yang mengingatkan kepada saya akan pesan bapak bahwa seorang pelayan sejati adalah yang tidak pernah takut mati. Dan hari ini senyum bapak dalam lambaian salam damai, bapak menunjukan bahwa seorang pelayan keadilan dan kebenaran TIDAK PERNAH TAKUT UNTUK DIPENJARA, lantaran bapak memberikan manfaat buat masyarakat luas, tidak hanya DKI Jakarta.

Pak Ahok, aku memuji keberanian iman bapak, lantaran bapak jadikan iman sebagai penerang pelayananmu, di saat oknum kaum beragama menjadikan agamanya sebagai boncengan politik untuk “menyalibkanmu”. Dalam terang iman bapak, yang tergambar jelas lewat senyum dan sapaan salam damai di pintu LP Cipinang bapak sepertinya sedang berpesan kepada kami; “WAHAI ORANG-ORANG JAKARTA DAN MASYARAKAT INDONESIA, JANGAN TANGISI AKU, TAPI TANGISILAH AGAMA KALIAN YANG KINI MENJADI BONCENGAN POLITIK DAN TANGISILAH NEGERIMU YANG SEDANG MENGALAMI KEBANGRUTAN PERADABAN, MORAL DAN IMAN” (Lk 23:28).

Saya bangga padamu pak Ahok. Di saat banyak orang mengkhianati Yesus demi kekuasaan dan jabatan. Bahkan meninggalkan imannya untuk sebuah kenaikan jabatan, bapak justru menjadi Yesus sebagai tumpuan hidup bapak. Senyum bapak dan lambaian salam damai di pintu LP Cipinang, mengingatkan saya akan pesan bapak ketika diwawancara dalam program Mata Najwa; "BAGI SAYA HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN KARENA BAGI SAYA; MATI SAAT MEMPERJUANGKAN KEBENARAN DAN KEADILAN SOSIAL, BERARTI SAYA BERUNTUNG BISA MATI PADA SAAT SAYA MELAKUKAN HAL YANG BENAR(Flp 1:21).

Terimakasih Pak Ahok, Aku tak letih membanggakanmu lantaran Imanmu yang teguh berjalan di jalan Keadilan dan Kebenaran, meski LP Cipinang menjadi keberuntungan bagimu yang mengajarkan kepada kami, paling tidak kepada saya bahwa menjadi seorang yang disalibkan karena kebenaran dan keadilan adalah jalan untuk memperbaiki keburukan dan kebobrokan bangsa yang kini tidak lagi beradab, bermoral dan beriman.

Di Pintu LP Cipinang, dalam senyum tulus dan sapa rama salam damai, Kuingat Pesan Hidupmu yang meninspirasi. Selamat...

Manila: Mayo-10-2017

Fr. Juan Tuan MSF