Nasionalisme Rakyat

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Nasionalisme Rakyat

6 May 2017

Arianto
Ketika kita bosan dan membutuhkan inspirasi barang sejenak untuk sekedar menghibur diri, maka kemungkinan untuk kita mengingat beberapa kenangan di masa lalu sangat terbuka lebar. Berbagai rasa bercampur ketika itu, sedih, senang, haru, marah dan lain sebagainya. Inilah contoh sederhana tentang sejarah, yaitu sejarah kehidupan manusia.

Dalam segala aspek kehidupan di dunia ini pasti memiliki sejarahnya sendiri, tidak terkecuali sebuah negara. Sejarah sebuah negara dapat dijadikan pijakan dan kekuatan bagi rakyatnya untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan cita-cita luhur para founding fathers kita.

Pada pidato terakhinya Soekarno dengan lantang menggemakan slogan, "Jas Merah". Pidato dalam Peringatan Ulang Tahun Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 ini merupakan firasat Bung Karno atas kudeta yang tidak lama ditujukan kepadanya (Pada bulan Maret 1967, MPRS mengadakan sidang istimewa yang menghasilkan ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden Soekarno).

Hal ini yang kemudian mendorong beliau menanamkan sebuah doktrin kepada seluruh masyarakat dan generasi yang akan datang untuk tidak melupakan perjuangannya mengupayakan kemerdekaan bersama teman-temannya serta kegigihan pahlawan-pahlawan Indonesia sebelum masanya.

Terlepas dari keresahan beliau tentang kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak terduga ini, sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat Indonesia terutama mahasiswa mengimplementasikannya dalam menghadapi setiap tanda-tanda jaman dan tantangannya. 

Akhir-akhir ini, perkembangan jaman telah terbukti membawa dampak yang tidak bisa disepelekan. Tanpa mengabaikan dampak positifnya, modernisme yang dikenal juga sebagai jaman globalisasi berpotensi menggerus nasionalisme dan jati diri anak bangsa karena merupakan arena bercampurnya segala pengaruh dan budaya di dunia ini secara bebas dan tak terkendali. Peringatan akan pentingnya memahami sejarahlah yang menjadi tameng terakhir untuk menjaga diri dari segala pengaruh asing itu.

Dalam sejarah bangsa Indonesia terurai banyak peristiwa perjuangan, sepak terjang pahlawan-pahlawan bangsa, sebab musabab kejatuhan suatu rezim. Kesalahan-kesalahan masa lalu ini kemudian membuat bangsa Indonesia selalu mencoba untuk selalu menempa diri dan membenahnya ke arah yang lebih baik hingga sampai sekarang ini.

Nasionalisme
Secara harafiah kata "Nasionalisme" bukanlah murni bahasa Indonesia, melainkan merupakan saduran dari bahasa Inggris, yaitu "nationalism". Menurut Johann Gottfried Von Herder, 'nationalism' terbentuk dari kata 'nation' (bangsa) yang kemudian mengartikan nasionalisme dapat diartikan sebagai paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.

Oleh karena itu esensi nasionalisme sebenarnya berakar dari rakyat karena rakyatlah yang membentuk sebuah kesatuan bangsa atau negara. Negara berdiri atas perjanjian sukarela yang dilakukan individu-individu berdasarkan cita-cita kepentingan mereka, sehingga kepentingan dan cita-cita rakyat haruslah menjadi motivasi dan tujuan negara serta wajib diwujudkan.

Dengan demikian, kiranya dapat dimengerti bahwa cita-cita negara yang telah dirumuskan oleh rakyat haruslah tetap dijaga dan diimplementasikan oleh rakyat penerusnya. Hal inilah yang kemudian mempertegas jalinan nasionalisme kebangsaan dan kenegaraan.

Nasionalisme akan tetap terjaga di hati rakyat jika terjalin sinergi yang baik antara rakyat dan pemerintah yang menaunginya. 

Oleh : Arianto
Kader PMKRI Cabang Denpasar