Jual Pisang, Beli Pisang Goreng. Waras?
Cari Berita

Jual Pisang, Beli Pisang Goreng. Waras?

6 May 2017

Andi Andur
Judul tersebut merupakan representasi dari realitas sosial masyarakat kita dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya penulis menganggap bahwa ini hanyalah lelucon biasa yang dilontarkan ketika materi candaan dalam obrolan warung kopi sudah habis. Tetapi, yang terjadi adalah sepotong kalimat tersebut kemudian menjadi latar belakang aksi penelisikan akar-akar persoalan dalam masyarakat sehingga memaksanya muncul ke permukaan secara spontanitas.

Pada hakekatnya aksi ini tidak cukup memberikan efek reaksi yang memunculkan hasrat membawa perubahan dalam masyarakat akibat habitus yang sudah terbangun ini telah mencapai titik puncak kepasrahan akan kebiasaan mereka berkehidupan. Kenyamanan dengan pola pikir seperti ini kemudian menggugah penulis cukup nekat mengusulkan reboisasi pola pikir dalam masyarakat kita.
Sejauh pengamatan penulis dalam melihat persoalan ini telah sampai kepada kesimpulan bahwa titik terlemah masyarakat kita adalah kemampuan pengelolaan pangan lokal yang masih jauh di bawah rata-rata. Padahal kalau di perhatikan dengan serius pangan lokal ini memiliki potensi besar untuk di kembangkan meski dengan teknologi dan sumber daya yang belum terlalu maksimal.

Sebelumnya penulis sempat menyinggung soal istilah reboisasi pola pikir. Istilah ini memang tidak lazim di gunakan, tetapi istilah ini menurut saya akan menjadi pengatar yang cukup baik untuk membantu kita menemukan titik terang letak persoalan paling mendasar masyarakat kita. Merebosasi pola pikir bukanlah sesuatu yang tampak sangat luar biasa tetapi merupakan sebuah konsep sederhana dalam menelisik sesuatu yang berharga.

Letak titik persoalan masyarakat kita sekarang ini
Tidak bisa di pungkiri, kemiskinan menjadi titik persoalan yang hingga sekarang ini membawa kita kepada sebuah keniscayaan persoalan rumit dan sulit di pecahkan. Miskin kreativitas, miskin ilmu, miskin harta dan miskin adab yang menjadi cikal bakal terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Miskin kreativitas membuat kita menjadi begitu konsumeris yang rakus, miskin ilmu membuat kita gagal bersaing dengan orang atau negara lain, miskin harta membuat kita nekat melakukan apa saja meski harus berlawanan arah dengan norma dalam masyarakat, miskin adab membuat kita tidak memiliki pegangan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sungguh sebuah ancaman yang sangat serius bagi seorang anak manusia.

Mari sejenak kita mendefinisikan kemiskinan. Pendifinisian kemiskinan tidak pernah tunggal meski beberapa poin pokok di sepakati. Sebagian orang memaknai kemiskinan dari perspektif subjektif dan komparatif. Menurut Carolin Thomas, perbedaan-perbedaan dalam pendefinisian kemiskinan disebabkan oleh perbedaan dalam melihat pembangunan.

Menurut konsepsi Orthodoks kemiskinan di lihat sebagai situasi dimana orang-orang tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli makanan atau kebutuhan-kebutuhan dasar mereka secara memuaskan, dan seringkali kondisi ini dimasukkan ke dalam situasi underenployed. 
Pendefinisian Orthodoks ini menurut penulis adalah sebagai dampak dari globalisasi budaya barat dan kehadiran pasar dalam pasar bebas dunia.

Dalam bukunya, Edi Suharto memaparkan definisi kemiskinan dalam kerangka pemenuhan kebutuhan material. Dalam hal ini Edi Suharto menampilkan pendapat tiga orang penulis Piven dan Cloward (1993) dan Swanson (2001). Menurut mereka kemiskinan berhubungan dengan kekurangan materi, rendahnya penghasilan dan adanya kebutuhan sosial.

Pertama, kekurangan materi kemiskinan sebagai kekurangan materi digambarkan sebagai situasi kesulitan yang dihadapi orang dalam memperoleh barang-barang yang bersifat kebutuhan dasar. Oleh karenanya kemiskinan dalam dimensi ini sering di pahami sebagai kemampuan seseorang mendapatkan kebutuhan material yang bersifat mendasar.

Kedua, kekurangan penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" dalam kaitannya sering dipahami sebagai standar garis kemiskinan (Poverty Line) yang berbeda-beda dari suatu negara ke negara lain. 

Ketiga, kesulitan memenuhi kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial (Social exchution), ketergantungan dan ketidakmampuan berpartisipasi dalam masyarakat. Kemisikinan dalam dimensi ini dipahami sebagai situasi kelangkaan pelayanan sosial dan rendahnya aksesibilitas lembag-lembaga pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dan informasi.

Lebih lanjut, David Cox (2004) mengemukakan beberapa dimensi kemiskinan yang dikategorikan berdasar akar penyebab munculnya kemiskinan. 

Pertama, kemiskinan yang disebabkan oleh globalisasi. Kedua, kemiskinan akibat pembangunan. Di sini, kita bisa menemukan kemiskinan subsistem sebagai suatu kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya pembangunan kemiskinan akibat marginalisasi perdesaan dalam pembangunan, dan kemiskinan perkotaan yang di sebabkan oleh percepatan pertumbuhan perkotaan yang tidak mampu diimbangi atau tidak menyentuh masyarakat miskin kota. 

Ketiga, kemiskinan sosial yang biasa dialami oleh kelompok-kelompok minoritas seperti anak-anak dan perempuan. Keempat, kemiskinan konsekuensial. Suatu kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk.

Definisi yang dikemukakan David Cox ini tampaknya cukup memadai karena kemiskinan tidak semata didefinisikan dalam kerangka kebutuhan-kebutuhan material, tapi juga yang bersifat immaterial. Selain itu, pendefinisian kemiskinan semacam itu memberikan gambaran akan sebab-sebab munculnya kemiskinan, baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural.

Dengan memahami pendifinisian kemiskinan yang begitu kompleks suatu hal yang cukup menarik perhatian penulis adalah kebiasaan kita mendefinisian kemiskinan itu terlalu sempit, hanya pada kisaran bagaimana kita memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Sehingga tidak salah ketika setiap usaha yang kita bangun selalu fokus kepada bagaimana saya bisa makan hari ini, bukan tentang sejauh mana saya berguna dengan posisi saya dalam masyarakat seperti apa?.

Oleh karena itu, konsep mereboisasi pola pikir saya berpendapat bahwa kita sudah sampai di ujung tanduk. Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana membalikkan fakta ini menjadi sesuatu wacana penting dan patut di perhatikan.

Solusi
Untuk mereboisasi pola pikir tidak bisa diselesaikan secara cepat, tetapi bisa diselesaikan dengan keterbukaan kita atas kelebihan dan kelemahan kita kepada diri kita sendiri. Dengan demikian keniscayaan akan sebuah kekuatan baru perubahan akan kita dapatkan. Meretas kemiskinan dan pemberantasan pola pikir sempit untuk sesuatu yang besar dalam bermasyarakat kita, penulis menawarkan setidaknya empat solusi konkret yang mungkin bisa lakukan untuk parbaikan masalah sosial kita ke depan.

1. Pembentukan Komunitas
Pembentukan komunitas yang dimaksudkan adalah pengkaderan orang-orang muda terpilih pada masing-masing daerah untuk kemudian di abdikan kepada masyarakat. Mereka inilah yang kemudian nantinya merangkul masyarakat untuk membuat branding produk tertentu untuk dijual dengan mengoptimalkan daya kerja masyarakat secara profesional. 

Keuntungan yang akan di dapat dari pembentukan komunitas adalah adanya keringanan beban yang di emban pemerintah menghadapi persoalan kemiskinan yang begitu kompleks melalui peraturan pemerintah daerah akan membantu masyarakat mengeksplorasikan kemampuan mereka dalam mengisi waktu senggang mereka.

Ruang lingkup kerja komunitas ini adalah survey dan pembacaan pasar, pendampingan masyarakat, pemasaran dan pengoptimalan potensi budaya dan wisata tempat terkait untuk mendatangkan wisatawan asing dan domestik.

2. Pengoptimalan Peran Koperasi
Tidak bisa di pungkiri, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perbankan akhir-akhir ini menyebabkan perhatian masyarakat beralih dan cenderung menganggap koperasi adalah cara kuno dalam menabung dan berinvestasi. Hal ini memang cukup masuk akal, koperasi kita tampak seperti berdiam diri menyaksikan perubahan-perubahan pangsa pasar dan pola pikir masyarakat yang cenderung melengser posisinya sebagai solusi konkret menjawab persoalan ekonomi mereka.

Tetapi, belum terlambat. Kondisi masyarakat kita yang lebih suka mendapat uang dengan mudah melalui kredit cepat dengan mengabaikan bunga yang cukup besar membuat mereka kemudian terjebak pada posisi utang yang melilit. Katidakmampuan membayar bunga bank yang besar membuat mereka takut berhutang untuk membangun sebuah usaha baru.

Selain itu koperasi juga harus melihat penggunaan uang kredit koperasi haruslah untuk sesuatu yang bisa diberdayakan, bisa menghasilkan uang bukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

3. Pengembangan Usaha Kreatif
Dengan potensi alam yang sangat variatif peluang untuk mengembangkan usaha-usaha kreatif sangat terbuka lebar. Pemanfaatan hasil alam yang cerdas akan menjadi pangsa pasar baru tanpa harus kwatir akan stok bahan baku yang melimpah. Peran komunitas seperti poin satu bisa di optimalkan dalam situasi seperti ini.

4. Pemanfaatan Lahan Multifungsi
Keterbatasan lahan akibat jumlah pendudukan yang bertambah dan hunian yang merebak besar bukanlah sesuatu masalah besar jika kita pandai melihat peluang. Pemanfaatan lahan pertanian dengan memprioritaskan produk-produk unggulan usia pendek menjadi solusi cepat mendapatkan penghasilan yang melimpah.

Peran pemerintah dalam mensosialisasikan potensi-potensi alam dalam pemanfaatna lahan multifungsi menjadi solusi konkret dalam menjalankan usaha ini.

Dengan demikian, ketika kita sudah mencapai titik kesadaran akan kelimpahan alam yang kita miliki maka kemiskinan bukanlah masalah yang serius dalam masyarakat kita. Kita butuh mereboisasi pola pikir untuk melihat potensi besar dari hal-hal yang menurut kita kecil dihadapan mata kita.

Oleh : Andi Andur
Pemimpin Redaksi marjinnews.com