Integritas Penegak Hukum
Cari Berita

Integritas Penegak Hukum

17 May 2017

Edi Danggur
(Foto Istimewa)



Oleh : Edi Danggur

KUHP dengan "semangat baru" mulai diintroduksi tahun 1981. Semangat baru dimaksud diinspirasi "Habeas Corpus", dua kata pertama dari Habeas Corpus Act, hukum Inggeris yang dibuat oleh Raja Charles II tahun 1679.
Habeas Corpus secara harafiah berarti "engkau harus dapat menunjukkan badannya". Artinya: di hadapan hakim, seorang tersangka dinyatakan sebagai pribadi, dengan segala harkat dan martabat yang melekat pada dirinya.

Dengan kata lain, penegakan hukum tidak boleh melanggar hak asasi, tidak boleh sampai merendahkan harkat dan martabat dari tersangka atau terdakwa.
Tetapi dalam kenyataan, sering terjadi penahanan yang mengabaikan harkat dan martabat para tersangka maupun terdakwa. Penahanan dilakukan sewenang-wenang tanpa surat penetapan penahanan.
Prinsip mereka: tahan dulu, 10 atau belasan jam kemudian baru penetapan penahanan diberikan sekedar untuk meredam protes kuasa hukum atas penahanan yang arogan, dan sewenang-wenang itu.

Maka tidak salah kalau ada kritikan bahwa penegakan hukum kita hanya bersikap "ramah terhadap burung gagak, tetapi bersikap kasar terhadap burung merpati".
Gagak mewakili orang kaya dan punya kuasa secara ekonomis, bahkan aparat penegak hukum tunduk di bawah kakinya. Sedangkan merpati menggambarkan rakyat kecil yg lugu, polos, tak punya kuasa baik secara politis, apalagi secara ekonomis.

Dr Salvador Laurel, seorang pengacara asal Filipina yang punya bakat seni yang tinggi, hanya bisa menangisi keadaan itu.
Ia menuangkan kegusaran harinya itu dalam beberapa baris puisi yang sangat terkenal itu dan sering jadi pengantar pledooi di persidangan, yang berbunyi:
"Anda memperlihatkan langit kepadaku.

Tetapi, apalah artinya cakrawala,

bagi manusia kecil melata,
yang hanya mampu merangkak terseok-seok".



(You have shown me the sky to a creature who'll never do better than crawl)

(Penulis adalah praktisi hukum, tinggal di Jakarta)