Gerakan Merawat Kebhinekaan Komunitas Pelangi Manila

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Gerakan Merawat Kebhinekaan Komunitas Pelangi Manila

16 May 2017


Komunitas Pelangi Manila
Akhir-akhir ini Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghadapi arus besar gelombang radikalisme yang memainkan perannya di ranah politik dengan isu Agama. Sentimen Agama di ranah politik menjadi senjata untuk menghasut, memprovokasi dan menakut-nakuti pihak lain. Gelombang perlawanan terhadap keberadaan kelompok radikal menjadi begitu kencang seiring dengan gerakan Silent Majority yang terjadi di Indonesia pasca Pilkada DKI Jakarta (2017) beberapa bulan yang lalu.

Para tokoh agama, elite politik, kaum intelektual serta pemerintah dan aparat penegak hukum yang diharapkan bisa menjadi mediator demi Indonesia Damai seakan tak berdaya dengan arus gelombang radikalisme yang memboncengi kepentingan politik.

Menyadari situasi yang semakin memanas dengan muatan sentimen agama, di mana gerakan sentimen agama ini pada gilirannya melahirkan reaksi balik dan sentimen negatif, maka kami Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai merasa tergerak dan terpanggil untuk menyuarakan perdamaian dalam kebhinekaan dalam satu rumah bersama yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai bentuk dukungan bagi usaha Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Bapak Presiden Jokowi bersama Kepolisian dan TNI yang terus berjuang menjaga keutuhan NKRI.

Gerakan Merawat Kebhinekaan ini dilaksanakan oleh Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai pada hari Sabtu, 13 Mei pkl. 10.00-12.00 siang waktu Manila di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Manila dengan mengenakan pakaian adat daerah yang melambangkan Bhineka Tunggal Ika. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah berupa pemberian bunga hidup sebagai simbol kehidupan, di mana bunga yang memberi keindahan bagi semua dan menaungi semua, maka diharapkan agar Indonesia juga menjadi rumah bersama yang menaungi semua tanpa perbedaan. Di dalam setiap pot bunga ditancap beberapa tulisan berupa: Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, Toleransi, NKRI, UUD’45 dan Lawan Radikalisme. Di samping itu juga dilakukan penyerahan pernyataan sikap yang dimaknai sebagai surat damai untuk merawat kebhinekaan kepada perwakilan Kedutaan Besar Indonesia.

Adapun pernyataan sikap Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai: Gerakan Merawat Kebhinekaan adalah sebagai berikuut:

1. Menyerukan kepada semua elemen kebangsaan (Organisasi Masyarakat, Organisasi Keagamaan, Organisasi Kepemudaan, Organisasi/Barisan Laskar, NGO/LSM, dan Organisasi Masyarakat Sipil lainnya) agar menahan diri atas tindakan-tindakan yang dapat memprovokasi kelompok masyarakat lainnya. Bahwa perpecahan dan konflik sesama warga masyarakat tak akan membawa manfaat apa-apa bagi perbaikan dan kemajuan bangsa ini, bahkan akan menjadikan kita semakin terpuruk dan mundur ke belakang;

2. Agar semua elemen masyarakat di Indonesia, menghentikan tindakan-tindakan vandalisme berupa penebaran kebencian terhadap sesama anak bangsa yang berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan, tindakan sweeping dan intimidasi bermodal fatwa, kekerasan dan pengrusakan tempat-tempat tertentu dengan mengabaikan hukum, serta tindakan lainnya yang dapat memicu konflik dan sentimen terhadap sesama warga negara;

3. Menyerukan kepada FPI dan HTI maupun barisan sekutunya, untuk tidak mengintimidasi masyarakat dengan sentimen-sentimen agama dan berhenti menjadikan agama sebagai kendaraan politik yang justru semakin memperkeruh dan mengguncang kedamaian dan keamanan NKRI;

4. Mendukung usaha Bapak Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia bersama Kabinet Kerja, pihak Kepolisian dan TNI yang terus berusaha dan berjuang untuk membebaskan Indonesia dari ancaman radikalisme yang hendak menghancurkan keutuhan NKRI;

5. Menindak tegas pelaku penyebaran paham Radikalisme dan provokasi yang bernuansa isu SARA dan sentimen Agama;
6. Meminta Pemerintah dalam hal ini pihak Kepolisian dan TNI dalam kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian Agama Republik Indonesia, untuk segera melakukan evaluasi serta bertindak tegas terhadap lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga SMA yang mengajarkan paham radikalisme dalam kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah. Sekaligus membredel dan menarik seluruh buku yang berideologi radikalisme yang mana telah tersebar di lembaga-lembaga Pendidikan tertentu;

7. Menolak segala bentuk kriminalisasi dan politisasi atas nama agama dan isu SARA yang dimainkan oleh oknum perorangan, kelompok maupun partai untuk kepentingan kekuasaan kelompok atau golongan;

8. Hentikan segala perdebatan yang mengarah kepada serangan terhadap etnis, suku, ras, dan agama tertentu yang justru membuat kita lupa dengan persoalan pokok rakyat Indonesia, yakni pemiskinan, pengerukan sumber daya alam, dan penghancuran ruang hidup rakyat;

9. Mari tetap menjaga akal sehat kita dan bekerja bersama menjaga Indonesia sebagai Rumah Bersama tetap damai dan nyaman, sebagai ruang hidup bersama berbagai etnis dan agama.

Seluruh rangkaian aksi atau Gerakan merawat Kebhinekaan diakhiri dengan menyanyikan lagu Garuda Pancasila dan Satu Nusa Satu Bangsa untuk menegaskan kembali tetap tegaknya Pancasila sebagai perekat kebangsaan dan tetap menjaga keutuhan NKRI sebagai rumah bersama tanpa sentimen agama dan suku.

RP. Yohanes Kopong Tuan MSF