Sajak Paskah Terakhir Sang Pujangga

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Sajak Paskah Terakhir Sang Pujangga

13 April 2017

Pujangga Muda

Matahari sudah kembali ke peraduan, bulir-bulir  air hujan berlahan berjatuhan membasahi paving halaman yang tidak terlalu luas. Keengganan sang daun yang menolak bungkam dengan kesejukan itu nyata terlihat dengan gerakannya hampir seperti tertiup angin. Paduan suara ria memekikkan senandung pujian datang dari genangan air yang enggan surut. Nada-nada sumbang jangkrik bersafari dengan suara besar sang kodok.

Alunan senandung Adzan Maghrib dari Surau yang di jaga Kiai Hasyim mengelus sore menuju malam. Teriakan tukang parkir menjadi penyempurna suasana syahdu menutup cerita hari ini. Tetapi tidak bagi penjaja makan malam dan pemburu kenikmatan jasmani di lorong-lorong kehidupan yang penuh dengan desahan kenikmatan. Sebuah ciuman dan kehangatan lelaki hidung belang pun menjadi sebuah dambaan yang selalu di nanti setiap penjelajah malam kota. 

Semakin lama beradu kasih, semakin banyak rupiah berserakan jatuh dari celana dengan resleting yang sudah terbuka. Highhills yang mengkilap pun kembali menjadi sampah tak berguna bersama kutang dengan berbagai aneka warna, merk dan ukuran.

Begitulah malam bergulir dengan cepat seperti waktu yang tidak kenal ampun menyiksa manusia untuk selalu berpacu. Setiap detik detaknya selalu berguna meski terkadang menysahkan.

****
"Selamat Paskah Tuhan, aku mencintaiMu dengan setulus hatiku"
Hanya itu yang bisa dia ucapkan sembil menyembunyikan kepalanya di balik kedua tangan yang tersimpuh lesu di atas meja kerja. Lantunan lagu rindu Koes Plus menemani dukanya. Dimana-mana kertas berserakan tidak beraturan, tisu-tisu putih berlembab menjadi penghias kursi berlapis kain satin pemberian seorang kawan beberapa waktu lalu.

Hanya debu aku Tuhan
Tidak begitu bernilai dimataMu
Adakah harapan untukku bisa kembali pulang? 

Tulisnya dalam sebuah kertas yang belum sepenuhnya tercetak. Ia menoleh ke arah jendela tempat berjuta angin dengan semilirnya nan mesra menghibur kegundahan hatinya. Tidak seorang pun nyata terlihat, selain lambaian daun pepaya yang mengejeknya manja.

Berjuta kali aku mencoba mengerti,
Berjuta kali aku mencoba memahami,
Berjuta kali pula aku tidak mengerti,
Berjuta kali juga aku tidak memahami,

Bisiknya sambil meraih sebuah buku tebal bertuliskan Alkitab pada sampul luarnya.

****
Cukup sudah kita bertengkar soal waktu, berkelahi soal engkau dan aku di masa lalu. Mungkin ini berat, mungkin juga sebuah tantangan yang besar untuk wanita jalang sepertimu. Untuk apa engkau bertato salib di pangkal pahamu yang hina? untuk apa pula engkau menodainya dengan sumpah serapah dari balik desahan kenikmatan setiap lendir yang menetes dari pangkal lidahmu? Bukannya sok suci atau mencoba menggurui, harusnya engkau paham maksudku Magdalena.

"Lalu apa pedulimu terhadapku?" Berontak wanita itu dengan terengah-engah membakar rokoknya lalu meniup asapnya ke arah dinding bergambarkan seorang anak tukang kayu bernama Yesus yang tengah berdoa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

"Dia berdoa untukku. Dia melihat penderitaanku. Tidak kah engkau mempercayai itu? tidak kah engkau membaca buku ini" Gertaknya sambil menunjuk sebuah buku tebal dari lemari rias yang penuh wewangian bermerk luar negeri.

"Tenangkan hatimu, aku tidak bermaksud demikian. Itu semata karena aku sangat mencintaimu Magdalena" Bisiknya sambil memeluk wanita berbibir merah ranum dengan erat. Mereka kembali bergulat dalam kenikmatan, berselancar dalam kehangatan semu, di hadapan Tuhan yang tersimpuh lesu menghadap Bapa-Nya dalam kegundahan.

****
Kado Paskah untuk Tuhan
Bukan barang mewah yang di bawa dengan kereta kencana
Bukan upeti berisikan emas dan berlian
Apalagi hati dengan ketulusan tanpa setia mencintai
Kado Paskah untuk Tuhan
Bukan euforia pujian dalam setiap sesi Pilkada
Bukan sketsa wajah dari pelukis terkenal sekelas Leonardo
Apalagi sajak-sajak kemunafikan atas sebuah kebijaksanaan
Kado Paskah untuk Tuhan
Bukan kemewahan dan gemerlap lampu temaram
Bukan kenikmatan jasmaniah yang terpuaskan semu
Apalagi desahan kenimkatan ciuman dalam setiap cumbuan
Kado Paskah untuk Tuhan
Hanya sebuah penyesalan akan segala kesalahan
Hanya kerendahan hati untuk tidak lagi menyakiti
Magda, ijinkan aku bersimpuh di hadapanmu...
Mencium kakimu lalu melepas kerinduan hati yang tidak terbendung ini

Sajak Paskah terakhir sang Pujangga untuk Tuhan

"Mas, sholat dulu yuk. Kasihan bapak sama ibu sudah menunggu", suara merdu dari balik pintu menyadarkannya dari lamunan. Dengan tergesa-gesa ia mengembalikan buku tebal bertuliskan Alkitab itu ke tumpukan paling bawah jurnal-jurnal ilmiah sang pujangga.

Senyuman manja gadis cantik berhijab menyapanya manja, merangkul lengannya ke atas sajadah lalu berdoa merayakan Paskah bersama sang pujangga yang tengah gundah gulana.

"Man jadda wa jadda", menjadi pengantar tidur lelapnya dalam pelukan, bersua hingga hanya tersisa alunan napas merambat pelan di setiap darah Tuhan di kayu salin yang dia temukan dalam mimpi indahnya malam itu.

***
Selepas terengah-engah dalam bayangan, dia kini sadar bahwa ia tidak lagi bersama Magdalena. Tidak ada lagi derai tawa dari balik dentuman musik pengantar raga berjoget ria di lantai dansa. Tidak ada lagi ia mempersoalkan salib di pangkal paha. Kini hanya tersisa rindu dan peluh menusuk kalbu yang berujung ke peraduan Aisyah, gadis berhijab pengagum sajak sang pujangga.

"Akan kugantung salibku pada tasbihmu", sajaknya gombal mencoba merengkuh bunga dari punuk sang unta. Aisyah mengangguk lalu berbisik, "Jangan pernah mempersalahkan cinta jika engkau pengagum rasa. Magdalena itu wanita yang luar biasa, diam-diam aku mengaguminya".


Margasiswa, 12 April 2017
Salam damai Paskah kawan, Tuhan memberkatimu

Oleh: Andi Andur
Pemimpin Redaksi marjinnews.com